
"Aku tidak apa-apa, sayang. Lebih baik kau istirahat dulu ya, Mas akan melanjutkan pekerjaan ini karena besok pagi Mas harus segera melakukan rapat perusahaan." ucap Faisal.
"Apakah Mas yakin?" tanya Aruna.
"Mas yakin, kau tidak usah memikirkan apapun. mas tidak dalam masalah atau memikirkan sesuatu, Kau percaya kan?" tanya Faisal yang berkata begitu lembut kepada sang istri.
"Baiklah kalau begitu, Mas. aku buatkan kopi dulu setelah itu kau tidur ya." pinta Aruna.
"Baiklah Sayang." jawab Faizal yang kemudian mencium kening istrinya.
Entah mengapa kata-kata yang keluar dari mulut Faizal serasa penuh dengan kebohongan, Aruna merasa kalau suaminya itu sedang berbohong kepadanya. Aruna mungkin diam saja, namun pasti wanita itu akan mencari tahu mengenai kejadian yang terjadi kemarin.
Aruna tidak ingin rumah tangganya hancur, dia tidak ingin kehilangan orang yang begitu dia cintai. malam itu Aruna sudah tertidur begitu lelap nya, sedangkan Faisal nampak dia sedang kebingungan. dia terus memikirkan kejadian kemarin, Faisal benar-benar tidak ingat dengan semua yang terjadi. Dia tidak mungkin melakukan semua yang dituduhkan oleh Helena. namun Wanita itu sudah berada di kamarnya, tidur dengan begitu pulasnya tanpa memakai sehelai benang sama sekali.
"Seandainya di kamar itu ada CCTV mungkin aku bisa melihat kejadian waktu itu." ucap Faisal yang terlihat begitu lemah. pria itu benar-benar merasa bersalah kepada istrinya, Faisal merasa kalau dirinya telah menghianati cinta yang diberikan oleh sang istri.
"Aku tidak boleh seperti ini, aku harus mencari tahu apa yang terjadi. aku tidak mau merusak rumah tanggaku, Aku tidak ingin Helena membuat Aruna membenciku." ucap Faisal.
Malam semakin larut, Faisal tidak ingin Aruna semakin mencurigai dirinya. karena hal itu Faisal lebih memilih tidur di kamar, dia terus memandang wajah sang istri. wanita yang telah membuatnya Begitu jatuh cinta.
"Maafkan aku sayang, seandainya Benar aku sudah menghianatimu Apa yang akan terjadi." guman Faisal dalam hati. tatapan mata Faisal terus menatap wajah sang istri, gores kegelisahan dan kesedihan begitu dalam di wajah Faisal. rasa bersalahnya begitu mendalam, serasa Faisal ingin lenyap dari dunia ini ketika dia dilanda permasalahan seperti ini.
"Aku tidak akan pernah siap untuk kehilanganmu." ucap Faisal yang kemudian memeluk erat Aruna. malam semakin larut, sinar mentari sudah menampakan pesonanya, Aruna terlihat membuka matanya, senyumnya begitu lebar saat melihat sang suami memeluknya dengan begitu erat.
"Apapun masalah yang sedang melanda mu aku tidak ingin kau menjauh dariku, Mas. aku benar-benar sangat mencintaimu, Aku dan Bilqis akan selalu mencintaimu. Tolong percayalah padaku, jangan kau sembunyikan semua permasalahan mu sendiri." ucap Aruna sembari mengelus pipi sang suami.
Begitu dalam perasaan Aruna kepada Faisal, seorang pria yang sudah dia nikahi 3 bulan yang lalu. sebuah kecupan mendarat di kening Faisal, sesaat kemudian Aruna pergi meninggalkan sang suami menuju dapur. tak lupa terlebih dahulu Aruna mandi untuk melakukan sholat, setelah itu Aruna berjalan menuju dapur. sebuah senyum kebahagiaan juga kegelisahan melanda Aruna, beberapa jam kemudian para penghuni rumah besar itu sudah terbangun.
"Selamat pagi, sayang!!" seru Faisal.
"Selamat pagi Mas." jawab Aruna.
"Selamat pagi Mommy!" seru Bilqis yang juga sudah bangun.
"Selamat pagi Sayang." jawab Aruna.
"Selamat pagi gadis kecil kesayangan Ayah!!" seru kakek Fajar kepada Aruna.
"Selamat pagi Ayah, oya Ayah. semuanya sudah beres, makanan kesukaan ayah sudah ada di meja, kopi rendah kalori serta air mineral yang sudah aku masukkan obat jangan lupa, Ayah harus meminum obat itu." pintar Aruna sambil tersenyum.
"Siap Nyonya besar, Ayah pasti akan melakukan semua perintah mu." jawab kakek Fajar.
"Oh ya Faisal, nanti kamu ada rapat ya. kalau ada waktu tolong kau luangkan waktu sedikit untuk ayah ya." pinta kakek Fajar.
"Iya Ayah, Memangnya ada apa?" tanya Faisal kepada ayahnya.
"Ayah ingin berbicara sebentar kepada mu, nanti kita bicara saja di kantor karena ini mengenai bisnis." jawab kakek Fajar.
"Baiklah Ayah," ucap Faisal.
"Oh ya sayang. hari ini aku mau bertemu dengan temanku sekalian aku mengantar Bilqis sekolah." ucap Aruna.
"Baiklah kalau begitu, nanti kamu ikut sama Mas aja kalau pulang telepon sopir yang ada di rumah jangan pulang sendiri bisa kan." pinta Faisal.
"Baiklah mas, Oh ya Mas. nanti aku mungkin agak lama dengan temanku Kalau Mas butuh sesuatu Mas telepon aja." ucap Aruna.
Hati kakek Fajar berdebar begitu kencang, pria tua itu seolah menatap putranya. sebuah kebohongan besar sudah disembunyikan oleh putranya kepada sang istri, kakek Fajar ingin membicarakan hal itu kepada Faisal, namun kakek Fajar tidak ingin Aruna mengetahuinya.
"Oh ya Bilqis, Nanti sore kakek mau jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. kamu mau ikut kakek tidak?" tanya kakek Fajar.
"Mau kakek, aku ikut." jawab Bilqis.
Akhirnya pagi itu semua sudah berpencar ke tempat masing-masing, kakek Fajar bersama paman Hadi sudah berangkat ke perusahaan. Faisal bersama Rudi beserta Aruna dan Bilqis juga sudah berangkat. di rumah besar itu hanya ada para pekerja, nampak salah satu pekerja menatap kepergian Aruna dengan begitu sendu.
"Bagaimana seandainya Nyonya Aruna mengetahui berita itu, apa yang akan terjadi." ucap salah satu pekerja yang ada di rumah besar itu.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya pelayan wanita.
"Bagaimana jika Nyonya Aruna mengetahui berita itu? apakah dia akan setenang ini ataukah dia akan tiba-tiba meninggalkan Mas Faisal?" tanya pekerja pria.
"Kita hanya berdoa saja agar hubungan mereka berdua baik-baik saja, aku sangat kasihan melihat Mbak Aruna, Kenapa Pak Faisal tidak mengatakannya, seharusnya dia jujur." ucap pembantu wanita.
"Kita masih belum mengetahui kebenarannya, kita tidak boleh langsung menuduh Tuan Faisal seperti itu." ucap pekerja pria.
Ternyata para pekerja yang ada di rumah besar itu sebagian sudah mengetahui mengenai video asusila yang ada di media sosial, dengan sengaja Helena melakukan hal itu agar Faisal dan Aruna berpisah.
Siang itu Aruna sudah berada di sebuah tempat bersama Lala, nampak mereka berdua berbincang-bincang begitu hangat.
"Aruna, Bisakah aku berbicara serius?" tanya Lala.
"Memangnya ada apa, Lala." jawab Aruna sambil tersenyum.
"Apakah hubunganmu dan suamimu baik-baik saja?" tanya Lala.
"Tentu saja, memangnya kenapa kau pertanyaanmu seperti itu sih." Jawab Aruna.
"Apakah kau sudah mendengar dan melihat berita-berita itu?" tanya Lala kembali. karena Lala merasa kalau Aruna belum mengetahui berita-berita yang ada di media sosial.
"Berita apa, memangnya ada apa sih, Lala. kenapa kau berkata seperti itu, Apakah ada sesuatu yang kau sembunyikan?" tanya Aruna.
Lala sangat kebingungan dengan semua yang terjadi, namun Lala ingin Aruna tidak terus-menerus dibohongi oleh suaminya.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- Mommy
- Mantan terindah
- Suami keduaku cinta pertamaku
- Dewa perang dan Ratu sihir
- Permaisuri sang kaisar
- ijinkan aku bahagia bersamamu