
Setelah kembali dari bertemu dengan Lala, terlihat Aruna berjalan begitu gontai. pikirannya dipenuhi dengan adegan percintaan dua orang yang ada di video itu.
"Aku tidak mungkin percaya jika itu adalah Mas Faisal." guman Aruna.
Sesaat kemudian terlihat Aruna mulai memikirkan perubahan sikap suaminya, "Apakah karena ini Mas Faisal bersikap begitu aneh, apakah karena ini Mas Faisal melakukan hal itu padaku." guman Aruna kembali.
Seribu pertanyaan terus berputar di otak Aruna, wanita itu terus memikirkan pernikahannya yang masih berusia jagung. masih beberapa bulan lamanya dia dan Faisal menikah, namun mengapa Faisal melakukan hal itu.
Langkah kaki Aruna memasuki rumah besar bak istana itu, tiba-tiba langkah kakinya terhenti saat menata rumah yang begitu mewah itu.
"Ini adalah rumah dari kakek Bilqis, seandainya mereka tahu kalau putriku adalah cucu mereka. mungkin saja aku akan langsung ditendang dari rumah ini." ucap Aruna.
Sekarang pikiran Aruna dipenuhi dengan semua pemikiran negatif, wanita itu tidak bisa memikirkan apapun lagi, di otaknya dipenuhi dengan 1000 pertanyaan mengenai suaminya. langkah kaki Aruna memasuki rumah itu dengan begitu lemas, dia enggan sekali untuk bertemu dengan suaminya. tapi dia juga harus bertanya mengenai Apa yang dia lihat tadi.
Saat memasuki tempat itu pandangan mata Aruna begitu dikejutkan dengan dua wanita yang sudah ada di sana, dia adalah Bu Yanti yang sedang bercanda gurau dengan Helena. tatapan mata Aruna seketika berubah ketika melihat Helena, seorang wanita yang melakukan perbuatan tidak senonoh dengan seorang pria yang begitu mirip dengan suaminya.
"Dari mana saja kau, kau habis jalan-jalan ya! seperti seorang wanita kaya yang menghambur-hamburkan uang suaminya?!" seru Bu Yanti yang melihat Aruna baru memasuki rumah.
Tak ada kata yang keluar dari mulut Aruna, wanita itu benar-benar enggan untuk berbicara atau menjawab pertanyaan wanita tua yang sekarang menjadi Ibu mertuanya. walaupun Bu Yanti tidak ada hubungan darah sama sekali dengan suaminya.
"Kenapa kau diam saja, Apakah kau tidak punya mulut?!" seru Bu Yanti.
Aruna tidak menghiraukan perkataan Bu Yanti, wanita itu berjalan menuju tangga rumah.
"Dasar tuli!!" teriak Bu Yanti.
Aruna langsung menghentikan langkah kakinya, dia menoleh kepada Ibu mertuanya itu.
"Apakah ibu tidak bisa membiarkan orang lain tenang atau Ibu memang sengaja melakukan hal itu kepadaku?" tanya Aruna dengan tatapan mata yang begitu menakutkan.
"Dasar wanita miskin, kau itu miskin. Kalau suamiku tidak membawamu kemari Mungkin saja kau menjadi gembel, gelandangan di jalan!!" seru Bu Yanti.
Aruna nampak tersenyum dengan kata-kata yang diucapkan oleh Bu Yanti, "Walaupun aku sederhana Aku masih mempunyai rumah, walaupun rumahku tidak semegah ini aku masih punya tempat untuk berteduh. tapi...,seandainya Ibu diusir oleh ayah dari rumah ini.., Apakah ibu mempunyai tempat untuk berteduh? sepertinya kata-kata ibu itu tidak tepat pada tempatnya, bukan aku gembel yang harus di kasihan, melainkan ibu. ibu tidak mempunyai apa-apa sama sekali, jika ayah mengusir Ibu mungkin ibu akan menjadi pengemis di jalanan atau mungkin menjajakan tubuh ibu." ucap Aruna dengan senyum yang begitu licik.
Bu Yanti yang mendengar perkataan Aruna seketika wanita itu marah, dia berdiri sembari mendekati Aruna. salah satu tangannya sudah terangkat hendak menampar pipi Aruna. Aruna yang melihat hal itu tentu saja dia begitu tenang, namun emosi yang sudah melanda hati Aruna, seketika membuat wanita itu menunjukkan senyum yang begitu menakutkan.
Bu Yanti yang hendak memukul Aruna pun langsung dihentikan oleh Aruna, tangan Bu Yanti dipegang oleh Aruna sembari menunjukkan kemarahan yang begitu besar.
"Jangan berani ibu melakukan hal itu padaku, jika Ibu berani memukulku maka tangan mulus Ibu ini akan ku patahkan. Apakah ibu mau merasakan tangan Ibu ini tidak bisa dipakai atau kau ingin merasakan bagaimana jika aku menghajar wajahmu itu secara membabi buta?" tanya Aruna dengan kilat mata yang begitu menakutkan.
Bu Yanti yang melihat hal itu nampak Wanita itu sangat terkejut, tangannya terasa sakit saat Aruna mencengkeramnya dengan begitu keras.
Beberapa pelayan yang ada di rumah besar itu nampak menetap Aruna yang melawan Ibu mertuanya, memang Bu Yanti adalah sosok yang sangat menyebalkan. para pelayan yang ada di sana tidak pernah menyukai kehadiran wanita itu.
"Dasar lancang, berani sekali kau melakukan hal itu!!" seru Helena.
"Apa, apa yang kau katakan!!" teriak Helena.
"Iya, Kau adalah wanita murahan. dasar pelacur tidak tahu diri, apakah kau ingin aku mengatakan semua kata-kata itu, apakah kau ingin aku mempublikasikan dirimu. kalau kau adalah wanita hina, wanita murahan, wanita penjajah tubuh!!" teriak Aruna yang sudah tidak mampu lagi mengontrol emosinya.
Helena yang mendengar perkataan itu wanita itu begitu marah, dia ingin menampar wajah Aruna. namun Aruna terlebih dahulu menampar wajah Helena. berulang kali Bu Yanti yang ingin menolong Helena pun tidak mampu melakukan hal itu, kemarahan Aruna benar-benar tidak bisa dikendalikan. wanita itu seperti wanita gila yang marah.
"Lepaskan, Apa yang kau lakukan!!" teriak Bu Yanti.
"Diam kau, jika kau ikut campur akan kubunuh kau!!" teriak Aruna.
"Pertengkaran 3 Wanita itu sudah terjadi, para pelayan yang ada di rumah itu begitu ketakutan jika terjadi sesuatu kepada Aruna. salah satu pelayan langsung menelpon Faisal dan kakek Fajar, mereka takut kalau terjadi sesuatu dengan 3 wanita itu. Aruna menghajar habis-habisan Bu Yanti dan Helena. sifat liarnya mulai kambuh lagi, sifat premannya benar-benar sudah tidak bisa terbendung lagi.
Wajah Bu Yanti dan Helena sudah tidak berbentuk lagi, karena Aruna menampar mereka berdua dengan begitu liarnya. memang Aruna mendapatkan cakaran di leher karena perbuatan Helena, Hal itu membuat Aruna begitu murka. dia sangat marah hingga membuat Aruna menjotos mata Helena dan membuat lingkaran biru yang begitu indah.
Sekitar 30 atau 45 menit kemudian Faisal, kakek Fajar, Paman Hadi dan Rudi sudah sampai di rumah itu. Mereka terlihat sangat terkejut saat melihat Aruna melakukan hal itu. 4 pria itu mencoba untuk memisahkan ketiga wanita itu.
"Apa yang kalian lakukan, cepat pisahkan mereka!!" teriak kakek Fajar.
"Kami sudah mencobanya Tuan, namun Nyonya Aruna benar-benar tidak bisa dikendalikan." jawab para pelayan.
Faisal terlihat menatap istrinya yang benar-benar begitu marah, dia mencoba untuk menarik tubuh istrinya. tatapan mata Aruna menatap sang suami yang sudah berada di sana, sebuah kebencian sudah tergambar di wajah Aruna saat melihat sang suami sudah berada di sana.
"Apa yang kau lakukan sayang, hentikan!!" seru Faisal.
Aruna menatap suaminya, garis kebencian yang terukir itu tidak bisa dihilangkan oleh Aruna. tatapan yang begitu marah itu dapat dilihat oleh Faisal.
"Aku membencimu Mas, aku membencimu!!" teriak Aruna yang kemudian mendorong suaminya. dengan langkah yang begitu cepat Aruna berlari ke kamarnya, dia mengunci pintu kamarnya dan menangis sejadi-jadinya di kamar itu.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- Mommy
- Mantan terindah
- Suami keduaku cinta pertamaku
- Dewa perang dan Ratu sihir
- Permaisuri sang kaisar
- ijinkan aku bahagia bersamamu