MOMMY

MOMMY
Pagi Devan Waktu Itu



Episode sebelumnya


Ibu Mayang sih bilangnya mau pergi jalan-jalan. Ya sudah, dari pada di rumah canggung cuman berdua, Leana mengiyakan Ibu tirinya untuk pergi. Alhasil, Leana di rumah sendirian sampai pukul 6 sore. Ibu Mayang pulang jam 6 sore, sedangkan Leana sudah selesai memasak.


...****************...


Devan POV


Selasa, 04.00 (hari Leana akan mulai cuti)


Saya terbangun, tentunya dari tidur saya, ya pasti. Saya sebenarnya sih tidak bisa tidur. Tapi saya paksakan walau hanya sekejap karena jarang-jarang saya dapat waktu tidur di rumah. Biasanya saya akan tidur di kantor karena lembur bekerja. Kenapa saya di kamar saya padahal waktu itu saya tidur dengan Jihan?


Jawabannya tidak lain dan tidak bukan saya kabur. Setelah Jihan terlelap, saya langsung pergi ke kamar saya. Jihan bisa-bisa ikut terbangun karena saya banyak gerak.


Hari ini Leana akan pulang ke rumahnya yang dihuni oleh Kakak dan Ibu tirinya. Sungguh, pikiranku tidak karuan setelah mendengar Leana minta izin untuk pulang.


Yang lebih membuat saya khawatir adalah saya mengiyakan permintaannya, tapi jika tidak berikan cuti, Leana pasti akan merasa tidak nyaman. Yang ada dia nanti malah minta resign. Jihan akan rewel lagi kalau begitu.


Kemarin sore, saya menyuruh Raffa untuk mengantarnya pulang. Saya juga mempercayakan kepada Raffa untuk menjemput Leana lagi pada hari kelima.


Flashback...


Tut tut tut...


"Halo Bang," jawab Raffa di seberang. Kemarin itu Raffa kebetulan sedang free, jadi dia memilih untuk pulang menjenguk ibunya yang sendirian di apartemen.


"Besok pagi, antar Leana pulang," ucap saya to the point.


"Jam berapa kira-kira?" Tanya Raffa.


"Jangan tanya saya," jawab saya yang juga tidak tahu kapan Leana akan berangkat karena besoknya pagi-pagi saya juga harus pergi.


"Oh begitu ya..." Sahut Raffa yang mengerti situasi. "Leana rencananya cuti berapa lama?" Tanya Raffa lagi.


"Cuman lima hari. Ini yang pengen saya bicarakan sama kamu. Kasih Leana pilihan, Selasa nya dihitung jadi kamu jemput dia hari Sabtu sore. Selasa tidak dihitung, ya kamu jemput dia hari Minggu pagi," jelas saya.


"Kenapa gitu? Kasih aja libur dulu." Raffa terdengar bingung. Ya tidak heran, saya terlihat mengekang kebebasan dari Leana yang hanya sekedar baby sitter anak saya.


"Saya tahu bagaimana orang rumah Leana, saya saja sekarang merasa was-was memberikan Leana izin untuk pulang ke rumahnya. Dia tinggal dengan keluarga tirinya, saya tidak yakin," jelas saya.


"Hah? Ya udah deh, Bang. Besok,'kan ya?" Tanyanya meyakinkan. Untung lah Raffa bukan orang yang kepo, jadi dia tidak banyak tanya.


"Iya besok. Sekitar jam tujuh pagi kamu harus sudah ada di depan rumah. Siapa tahu saking excited nya Leana, dia akan berangkat pagi-pagi," ujar saya untuk berjaga-jaga.


"Sip. Sekarang kasih Raffa tidur," sahutnya.


Saya memutuskan sambungan telepon karena merasa sudah tidak ada yang penting untuk disampaikan, berpikir tentang Raffa, dia sudah terbiasa sepertinya. Don't mind him.


Setelah saya bangun saya segera pergi mandi, sebentar lagi harus pergi ke kantor. Setelah selesai mandi, saya pergi ke kamar Jihan sebentar.


"Papa kerja dulu ya," ujar saya sembari tersenyum. Saya reflek tersenyum, Jihan begitu damai jika sedang tidur.


Setelah selesai dari kamar Jihan, saya mendatangi kamar Bu Mita.


Tok tok tok


Saya membuka pintu kamar Bu Mita, tapi tidak ada orang. Bu mita ke mana ya pagi-pagi begini?


Saya kembali menutup pintu kamar Bu Mita. "Nak?" Panggil Bu Mita dari belakang. Jujur saya kaget.


"Ibu habis ke mana pagi-pagi begini?" Tanya saya.


"Ke dapur, mau siap-siap masak. Nanti biar Leana ga perlu masak lagi, dan langsung pulang ke rumah," jawab Leana.


"Oh ya sudah. Devan mau titip sesuatu buat Leana. Boleh Devan titip ke Ibu?" Tanya saya pada Bu Mita. Saya bisa percaya penuh pada beliau.


"Iya boleh... Mau nitip apa...?" Tanya Bu Mita begitu lembut dan tulus. Sudah lama saya tidak merasakan ketulusan ini karena sudah lama tidak di rumah dan bertegur sapa dengan Bu Mita.


"Ini ada cek buat Leana. Kalau Leana menolak, bilang ini untuk Kakak dan Ibu tirinya. Dia pasti tidak akan menolak," jelas saya supaya Bu Mita tidak bertanya bagaimana jika Leana menolak.


"Oh iya-iya. Ibu pasti kasih," jawab Bu Mita dengan yakin dan terdengar lega. "Terus sekarang kamu mau berangkat kerja?" Tanya Bu Mita.


"Iya, Bu, Devan berangkat ya." Saya segera menyudahi obrolan setelah pertanyaan Bu Mita tadi. Saya meraih tangan Bu Mita lalu mencium punggung tangannya. Biasanya kalau sempat, saya begini, kalau tidak sempat, ya skip saja.


Bagaimana ya ini, saya mau bekerja, tapi pikiran saya sedang tidak fokus. Pagi ini ada jadwal meeting, padahal Raffa sudah wanti-wanti mending meeting nya ditunda dulu hingga pikiran saya tenang. Tapi saya sudah terlanjur tidak enak untuk membatalkannya.


Semoga kedua manusia setengah binatang itu tidak macam-macam. Kalau sampai Leana telat pulang, saya tidak akan segan-segan untuk melakukan apa yang saya inginkan.


Terdengar egois, mau bagaimana lagi. Saya tidak tahan. Semuanya jadi tidak karuan setelah saya mengizinkan Leana pulang. Entah siapa yang salah di sini.


...


Hari berikutnya (Kamis)


Sama seperti hari sebelumnya, Leana masak 2 kali sehari, siang biasanya Leana di rumah sendiri jadi sisa sarapan masih ada, daripada mubazir mending dia habiskan. Bahkan semua bahan masakan yang ia gunakan Leana beli menggunakan uangnya sendiri. Tidak ada uang dari Ibu Mayang atau pun Ghea. Mereka berdua hanya tinggal makan setelah sampai di rumah.


Bahkan pakaian dari Ghea dan Ibu Mayang juga Leana yang mencuci. Intinya hari Kamis ini, kegiatan Leana masih sama seperti sebelum dia menjadi baby sitter.


Hust! Emang itu namanya libur ya? Hadeh... Sampai rumah harusnya santai-santai, bukannya dikejar-kejar sama tugas rumah. Itu,'kan harusnya bukan tanggung jawab Leana sepenuhnya.


Ya emang sih Leana gak bilang dia mau pulang buat libur, tapi bukannya cuti itu artinya libur? Aduh, aku tuh gak ngerti sama Leana. Ya sudah terserah Nona saja, yang penting Nona senang....


Leana juga sempat pergi ke rumah tetangga untuk bantu-bantu karena ada acara ulang tahun kecil-kecilan.


Leana senang berada di antara tetangga yang ternyata masih menyayangi nya seperti sebelumnya. Leana cuman bisa haha hihi doang sih sebenernya kalo ditanya ini-itu. Takut salah jawab, apalagi kalo soal pekerjaannya sekarang.


Kalo ngomong lebih, takutnya ada yang salah tanggep. 'Kan cuman baby sitter tuh, gak lebih. Leana pulang sekitar pukul 9, kemaleman? Gak juga sih, deket banget ini, sebelahnya. Definitely sebelahan.


Lima langkah dari rumah 🎶🎵🎼


Hehehe.


.........


Bersambung guys...


Ayo like, komen, dan subscribe. Vote juga gak sih...😸😸😸


Apa si susahnya like😿😿 Kan ga bayar... view nya nambah, tapi like nya stuck. Ayo dong dukungannya...😿😿