MOMMY

MOMMY
S2. Aruna yang mulai ketakutan



"Mom." panggil Bilqis.


"Ya, sayang." jawab Aruna.


"Aku tidak bohong lho...," ucap Bilqis.


"Ada apa?" tanya Aruna kepada putrinya.


"Kalau tadi aku melihat orang yang dari tadi memperhatikan kita." ucap Bilqis yang tidak terima karena tidak di hiraukan oleh ibunya.


"Ada apa? kenapa kau berkata seperti itu?" tanya Aruna kembali.


"Aku yakin kalau kita mengenal orang itu, Mom." jawab Bilqis.


"Kenapa kamu mengatakan hal itu, Bilqis. memangnya kita mengenal pria itu dari mana?" tanya Aruna.


"Karena aku mencoba mengingat hal itu, Mom. aku yakin kalau kita pernah bersama dengan pria itu." jawab Bilqis yang terus mencoba untuk mengingat kembali Siapa nama pria yang dulu dia kenal.


"Baiklah kalau begitu, coba katakan siapa pria itu?" tanya Aruna yang kemudian duduk di samping Bilqis.


"Mom, Apakah pria itu sudah keluar dari penjara?" tanya Bilqis kepada Aruna.


Saat mendengar kata penjara tentu saja satu nama yang langsung tertancap di fikiran Aruna. Siapa lagi kalau bukan Surya.


"Maksudmu apa Sayang?" tanya Aruna yang sedikit terkejut sekaligus takut dengan apa yang dikatakan oleh putrinya itu.


"Aku yakin mom, Kalau pria itu adalah saudara dari ayah. tidak mungkin aku melupakan wajah itu, wajah galak yang selalu jahat kepadaku." jawab Bilqis.


Detak jantung Aruna serasa terhenti saat Bilqis mengatakan hal itu. "Sudahlah Bilqis, mungkin kamu capek sayang. lebih baik kita makan sesuatu untuk menenangkan pikiran kita." Aruna yang mencoba untuk mengalihkan pembicaraan Bilqis.


"Mommy, Aku ini bukan anak kecil lagi. aku ini udah dewasa lho.., kenapa Mommy selalu mengatakan hal itu, aku tahu semua masa laluku mom, aku tahu mengenai masa laluku. Lalu kenapa Mommy mengatakan hal itu?" tanya Bilqis sembari memegang tangan ibunya.


"Sudahlah Bilqis, kita tidak usah membicarakan mengenai pria itu. kita tidak usah mengenang pria itu, biarkanlah pria itu tetap berada di penjara." jawab Aruna yang terlihat berusaha untuk menenangkan diri. memang Aruna belum mengetahui kalau Surya sudah keluar dari penjara, Faizal sengaja tidak memberitahu istrinya mengenai kebebasan Surya. dia tidak ingin istrinya merasakan ketakutan karena Surya sudah keluar dari penjara.


Di tempat lain terlihat Surya berjalan begitu lesu, dia mengingat wajah putrinya yang tersenyum begitu cantik. setiap kata yang diucapkan oleh dokter Harlan terus terngiang di fikiran Surya. "Berapa lama kau mencari putrimu? Berapa waktu yang dihabiskan oleh wanita itu untuk merawat putri mu? Kau hanya mengeluarkan tenaga karena mencari putrimu, sedangkan wanita itu mengeluarkan seluruh tenaga cinta, kasih dan segalanya untuk merawat putrimu." kata-kata itu terus terngiang difikiran Surya. nampak Surya menghentikan langkahnya disudut jalan yang begitu ramai, dia duduk di kursi pinggir jalan. dia terus memikirkan semua kata-kata yang diucapkan oleh dokter Harlan.


"Apakah aku tidak boleh mendapatkan kasih sayang? apakah aku tidak boleh mendapatkan cinta dari orang lain." ucap Surya.


Sekitar 5 menit kemudian terlihat ponsel Surya sudah berbunyi, Surya nampak mengambil ponselnya. menatap layar yang bertuliskan nama dokter Harlan.


"Iya dokter," surya yang sudah menjawab panggilan dari dokter Harlan.


"Apakah kau sudah bertemu dengan putrimu?" tanya Dokter Harlan kepada Surya.


Tentu saja Surya sudah bertemu dengan putrinya, namun dia masih takut untuk menampakan dirinya di depan orang-orang yang dulu dia sakiti.


"Sudah dokter." jawab Surya.


"Kau sudah melihatnya atau bertemu dengannya?" tanya Dokter Harlan kembali. pria tua itu nampak bisa membaca fikiran Surya.


Surya terdiam tanpa bisa menjawab pertanyaan dokter Harlan.


"Kenapa kau diam saja, aku kan bertanya padamu. kau bertemu dengan putrimu atau hanya melihatnya?" tanya Dokter Harlan kembali.


"Surya menghela nafasnya, dia mencoba untuk menenangkan hatinya.


"Aku melihatnya dari, jauh dokter. aku masih belum mampu untuk bertemu dengan mereka. aku takut...," jawab Surya.


"Kau takut dengan Apa? kau takut ditolak atau kau takut tidak dianggap?" tanya Dokter Harlan.


"Aku.., aku takut keduanya. aku takut mereka sudah tidak pernah menganggapku." jawab Surya.


Surya terdiam, kedua bola matanya nampak sedikit berkaca-kaca saat dia diberondong pertanyaan oleh dokter Harlan.


"Hidup ini tidak semudah keinginan mu Surya, jika kau ingin mendapatkan pengakuan maka kau harus berusaha. tunjukan kepada mereka kalau kau sudah berubah, bukan dengan cara diam tanpa melakukan apapun." ucap dokter Harlan.


Surya tidak bisa mengatakan apapun, dia nampak tetap terdiam tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


"Lekaslah kembali, aku masih banyak pasien. Beberapa pasien terus menanyakan mu." pinta dokter Harlan. Terlihat dokter Harlan mencoba untuk menenangkan fikiran Surya.


"Baiklah dokter, Aku akan segera kembali. Oh ya kau ingin makan apa? nanti sekalian aku bawakan untukmu." ucap Surya.


"Tidak usah, cepatlah kembali untuk membantuku." perintah dokter Harlan yang membuat Surya mematikan ponselnya.


Tatapan mata Surya menatap lalu lalang di jalanan, dia berusaha untuk menenangkan hatinya. dia memejamkan matanya dan mulai memikirkan wajah putrinya yang begitu bahagia bersama dengan Aruna dan saudaranya.


"Aku ingin mereka menganggapku, Aku ingin mereka mengakui Ku." ucap Surya yang kemudian berdiri dan mulai berjalan kembali. Surya masih bimbang, pria itu takut jika dia ditolak oleh keluarganya. 1 kata yang ada di fikiran surya adalah keinginannya untuk mendapatkan cinta sebelum kematian menjemputnya.


Kehidupan berjalan sesuai roda takdir, manusia menjalankan sesuai dengan tulisan yang kuasa. tidak ada yang bisa menolak atau merubahnya, manusia berusaha tapi Tuhan yang menentukan jawabannya.


Aruna yang berada ada di toko kue nampak dia benar-benar kebingungan. Apakah benar putrinya melihat Surya berada di depan toko mereka atau Bilqis hanya menghayal.


"Sebaiknya Aku menelpon Mas Faisal." ucap Aruna yang kemudian mengambil ponselnya. terlihat Aruna begitu kebingungan, dia begitu panik dengan kata-kata yang diucapkan oleh Bilqis.


Beberapa detik kemudian ponsel Faisal sudah terangkat. "Halo Mas!" seru Aruna dari toko kue.


"Ya, Ada apa Sayang." jawab Faisal.


"Mas, nanti pulang malam atau tidak?" tanya Aruna yang begitu kebingungan.


"Ada apa Sayang." jawab Faisal yang terlihat tersenyum karena dia mendapatkan pertanyaan seperti itu dari sang istri.


"Mas, aku tanya padamu kau itu pulang malam atau tidak?" tanya Aruna dengan nada yang sedikit tinggi. Hal itu membuat Surya tahu kalau istrinya sedang memiliki masalah.


"Tidak, sayang. mungkin Mas pulang agak sore, nanti mas tidak ada jadwal kerja sama sekali." jawab Faisal.


"Ya sudah kalau begitu, Mas cepat pulang karena aku perlu mengatakan sesuatu sama Mas." jawab Aruna.


Bilqis yang mendengar dari luar pintu kantor ibunya, nampak gadis muda itu merasa bersalah saat mengungkit nama pria yang begitu dibenci oleh Aruna. orang yang terus berusaha untuk menghancurkan keluarganya.


"Aku memang bodoh mengatakan hal itu kepada Mommy, Seharusnya aku tidak mengatakan hal itu. sekarang Mommy benar-benar sangat kepikiran dengan kata-kata yang tadi aku ucapkan." guman Bilqis.


** bersambung **


mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.


- Black Rose


- Mommy


- Mantan terindah


- Suami keduaku cinta pertamaku


- Dewa perang dan Ratu sihir


- Permaisuri sang kaisar


- ijinkan aku bahagia bersamamu


- Jangan sakiti aku