MOMMY

MOMMY
Nyonya Pira



Episode sebelumnya


"Siap Tante!" Gina menjawab dengan semangat dan gembira.


...****************...


Seminggu kemudian


Sudah seminggu semenjak Leana pulang ke rumah lalu pergi membawa koper. Rumah sederhana yang menyimpan banyak kenangan Leana dan Ayahnya kini sudah tampak tidak terurus. Bukannya tidak ada orang, hanya saja orang di dalamnya enggan bersih-bersih.


"MAMA!!!!" Teriak Ghea dari kamar mandi. Dengan segera dan perasaan khawatir sang Mama menghampiri Ghea.


"Kenapa nak?" Tanyanya di balik pintu kamar mandi sembari mengetuknya.


"Ada kecoak!!" Jawabnya.


"Handukan dulu, baru keluar," jawab Mamanya.


"Iya-iya," sahut Ghea.


Ghea segera memakai handuknya lalu keluar dari kamar mandi. "Mana kecoak nya?" Tanya Mamanya yang sudah sedia sapu lidi di tangannya.


"Itu Mah..." Ghea menunjuk ke arah closet.


Saat Mamanya masih berurusan dengan kecoak, Ghea pergi ke dapur untuk meminum segelas air. Capek kali teriak-teriak.


Setelah itu ia kembali ke kamar mandi.


"Gimana Mah?" Ghea melihat Mama nya sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Aman. Haduh... Ini udah kecoak yang ke berapa kali ya Minggu ini? Mama capek tau nggak. Mana bau banget lagi," keluh Mama Mayang.


"Ye... Mana Ghea tau. Mama urus aja sendiri. Dah ya, Ghea mau mandi," jawab Ghea acuh lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk menyelesaikan mandinya.


.


Setelah mandi, keduanya berkumpul di dapur untuk sarapan. Menunya ada telur ayam gosong, nasi setengah matang, dan sayur sop keasinan.


"Mama!? Apaan nih?? Asin banget!" Pekik Ghea.


"Kalo ga suka jangan dimakan," ketus Mama Mayang membuat Ghea semakin kesal. "Lagian udah sering, masih aja ngeluh. Sana kamu yang masak," sambungnya lagi sambil tetap memakan makanan yang bisa dibilang jauh dari kata normal.


"Hadeh... Tau gini waktu itu Leana jangan dikasi pergi. Awas aja kalo pulang, jangan harap bisa keluar lagi," gerutu Ghea sambil mengaduk-aduk nasinya yang enggan ia suap.


"Iya tuh, tapi kayaknya dia ga pulang. Udah seminggu dia gak pulang-pulang. Mending kamu seriusin kerja, biar kita bisa nyari pembantu. Ni rumah udah kayak ditinggal pergi lebih dari empat tahun aja. Banyak kecoak nya lagi." Mama Mayang memberi ide yang kurang masuk Haikal, maksudnya akal.


"Ck. Dikira gampang apa cari duit. Makanya kalo lagi ga ada kerjaan tuh Mama bersih-bersih rumah kek," ujar Ghea memandang wajah Mamanya.


"Mama bukan pembantu ya. Kamu aja sana bersih-bersih," sahut Mama Mayang tidak mau kalah.


"Dih ogah. Ghea juga bukan pembantu." Ghea memutar bola matanya malas. "Iya deh, Ghea harus cari orang yang kaya, biar bisa nyari pembantu." Ghea pun setuju.


Tapi sepertinya tidak akan terjadi. Maksudku, susah.


.


In Devan's mansion


"Iyan..." Leana memanggil majikannya dengan lembut.


"Hah?" Jihan belum terlalu bisa mengatakan sesuatu, tapi percayalah, Jihan sedang berusaha semaksimal mungkin untuk berbicara.


Begitupun Leana yang ingin Jihan cepat-cepat bisa mengutarakan apa yang ia inginkan agar tidak hanya menangis atau marah ketika ingin sesuatu.


Tok tok tok


"Sebentar..." ujar Leana sembari berjalan menuju pintu. Leana membuka pintu dan memperlihatkan wajah Bu Mita. "Kenapa, Bu?" tanya Leana.


"Nyonya datang, ayo ajak Jihan turun," jawab Bu Mita.


"Nyonya?" Leana pun bingung, namun segera berjalan hendak menggendong Jihan untuk di ajak turun menemui Nyonya yang dimaksudkan.


"Iya, Devan itu masih punya seorang Ibu, namanya Nyonya Pira, kalo Ayahnya sudah meninggal sekitar sepuluh tahun yang lalu," jelas Ibu Mita sembari berjalan.


"Oh begitu ya," ujar Leana manggut-manggut mengerti.


"Jayan!" Pekik Jihan ketika mereka akan menuruni anak tangga.


"Loh? Iyan? Bilang apa, Nak?" Bu Mita terlihat begitu kaget.


"Itu Iyan bilang jalan Buk," jawab Leana.


"Lumayan banyak yang bisa Iyan katakan, tapi ya tergantung mood Iyan juga," jelas Leana.


"Enak!" pekik Jihan lagi yang mengingat kata itu.


"Waduh, waduh... Ini Devan kalo tau pasti seneng banget," ucap Bu Mita.


"Iya ya." Mereka bertiga sampai.


"Pagi Nyonya," ucap Bu Mita kepada seorang wanita paruh baya yang sedang duduk di sofa ruang tengah.


"Ini siapa?" Tanyanya menatapku tanpa menjawab salam dari Bu Mita.


"Ah, perkenalkan Nyonya, saya Leana, baby sitter barunya Nona Jihan," jawab Leana dengan sigap tanpa menunggu bantuan jawaban dari Bu Mita.


"Owh... Kamu karyawan bar yang dibelain sama Devan?" Tanya Nyonya tersebut.


"Em..." Leana bingung harus menjawab apa, hanya diam menundukkan kepalanya.


"Devan mana?" ketusnya.


"Sedang bekerja Nyonya, tidak tahu kapan pulangnya," jawab maid lain yang ada di sana juga.


"Ck." Dia hanya berdecak kesal, lalu meminum tehnya dengan anggunly.


"Nyonya, saya pamit ke dapur, ada yang mau saya buatkan?" tanya Bu Mita.


"Nggak. Saya mau pulang, males di sini lama-lama," gerutunya membuat Leana semakin kebingungan.


"Tidak mau menggendong Jihan dulu Nyonya?" tanya Bu Mita begitu halus.


"Nggak. Nggak sudi saya. Itu juga kayaknya bukan anak Devan," jawab Nyonya Pira.


"Dih!" Leana tanpa sadar melakukan rolling eyes setelah mendengar kalimat itu keluar dari mulut lemes nenek lampir ini. "Kalo bukan gara-gara anak kamu baik sama saya, saya udah caci maki kamu dari tadi," geram Leana dalam hatinya sambil berusaha tenang.


"Kamu." Pira menunjuk Leana. "Jangan seenaknya di rumah ini, ini bukan rumah kamu. Inget, kamu cuman baby sitter, jangan berharap lebih. Devan belain kamu malam itu, artinya kamu lagi beruntung," tekannya dengan nada tegas dan sinis.


"Iya, Nyonya," jawab Leana dengan malas, tapi tetap berusaha sopan. Bagaimana pun juga dia tetap Nenek dari majikannya.


"Udah saya mau pergi." Ia berlalu begitu saja. Jihan hanya mengalungkan tangannya pada leher Leana sedari tadi, terlihat sekali dia sudah bosan.


"Iyan mau ke mana?" tanya Leana pada Jihan yang menyembunyikan wajahnya pada bahu Leana.


"Bobo!" jawabnya sambil mengucek matanya. Sepertinya mata Jihan sudah sepet karena mengantuk.


"Oke, Iyan tidur di kamar ya..." sahut Leana seraya mulai berjalan dan mengkeloni Jihan.


"Othee..."


.


Sejam kemudian, Leana turun ke dapur untuk membantu Bu Mita memasak atau apapun yang sedang ia lakukan di sana.


Bukannya mendapati Bu Mita, Leana malah melihat Devan berdiri di depan pintu. Karena Leana penasaran apa yang sedang dilakukan oleh Devan di depan pintu, ia pun mendatangi Devan.


"Tuan? Kenapa di sini?" Tanya Leana.


"Ada yang ke sini tadi?" Tanya Devan.


"Nyonya tadi ke sini, Tuan. Kenapa ya?" Tanya Leana lagi.


"Dia ngomongin apa aja?" Tanya Devan.


"Nggak ada sih..." Jawab Leana ragu-ragu.


"Jihan mana?" Tanya Devan.


"Jihan sudah tidur, Tuan..." Jawab Leana. Tidak ada ekspresi yang tersirat di wajah Devan, flat banget nih orang.


"Ya sudah, saya mau kembali ke kantor. Kalau Nyonya ke sini lagi dan aneh-aneh, segera telpon saya." Devan pergi tanpa mendengarkan jawaban dari Leana.


Leana yang bingung hanya diam, ada banyak hal yang belum ia ketahui tentang keluarga ini. Tapi meskipun bingung, Leana tidak ingin mencari tahu, masa bodoh.


.........


Bersambung guys....


Kiw dukungannya 🤭