MOMMY

MOMMY
Ada bahagia yang Terancam



"Aku pasti akan mengambil Aruna dari tanganmu, Faisal." ucap Surya.


Terlihat ketua kaki Surya sudah terangkat, pria itu nampak mengangkat salah satu kaki nya dan dipijakkan ke lantai. Surya nampak berdiri, Dia memegang pegangan kursi roda yang dia duduki, betapa pembohong nya Surya. ternyata selama ini dia tidaklah lumpuh, para dokter


yang ada di rumah sakit dibohongi oleh Surya.


"Aku tidak perduli bang, aku akan merebut wanita itu darimu. aku ingin bahagia, gadis kecil itu adalah putriku. Aku tidak akan membiarkan Putri ku menjadi milikmu, aku akan merebut wanita itu dan akan ku jadikan dia istriku, dengan 1000 cara pun akan kulakukan, akan ku hancurkan dirimu seperti aku telah merebut para wanita yang selalu dekat denganmu." ucap Surya dengan senyum yang begitu licik. senyum yang benar-benar sangat menyebalkan.


TOK...


TOK...


TOK...


bunyi pintu kamar Surya sudah diketok oleh seseorang, hal itu membuat surya yang sedang berdiri sembari menatap ruangannya nampak dia harus bergegas untuk kembali dengan aktingnya yang sedang duduk di kursi roda.


"Masuk!!" seru surya yang meminta seseorang yang mengetuk pintu itu masuk.


Seorang wanita tua sudah berada di ruangan itu. "Mas Surya." Panggil bibi tua kepada Surya.


Surya menatap wanita tua yang ada di depannya itu. "Ada apa Bi?" tanya Surya.


"Apakah kau ingin bibi masakan sesuatu?" tanya bibi tua kepada Surya.


"Tidak, aku tidak ingin makan." jawab Surya.


"Kenapa kau tidak ingin makan, Apakah kau tidak lapar? kau kan baru kembali dari rumah sakit." ucap bibi tua.


"Sudah, tidak usah banyak bicara. aku tidak mau makan Jadi kau tidak usah memaksa aku untuk makan." jawab Surya dengan nada yang begitu tidak menyenangkan. dari dulu sampai sekarang pun Surya masih tetap saja memperlihatkan sikap angkuh nya itu.


"Kenapa pria ini lebih menyebalkan dari beberapa bulan yang lalu ya? Bahkan tatapan matanya seperti seorang pria yang kelaparan." guman bibi tua dalam hati.


"Apakah kau ingin bibi buatkan minum?" tanya bibi tua.


"Aku kan sudah bilang aku tidak ingin, jadi aku tidak ingin!" seru Surya.


"Baiklah kalau begitu, aku akan pergi." ucap bibi tua.


"Bik." panggil Surya.


"Iya, ada apa." jawab bibi tua.


"Aku ingin bertemu dengan istriku, bik." ucap surya yang sudah mulai melakukan akting nya kembali.


"Isteri, isterimu yang mana?" tanya bibi tua yang sedikit kebingungan.


"Apa maksud bibi, tentu saja istriku dan putriku, isteriku Aruna, siapa lagi." jawab Surya dengan suara yang sedikit keras.


"Aruna?" tanya bibi tua.


"Tentu Aruna istriku, siapa lagi. Aku ingin dia mengambilkan ku makanan." jawab Surya.


Tentu saja bibi tua sangat kebingungan dengan kata-kata yang keluar dari mulut Surya, kakek Fajar yang berada di depan pintu nampak wanita itu meminta bibi tua untuk keluar.


"Keluarlah sebentar Bi, nanti akan aku jelaskan. biarkan Surya beristirahat dahulu." ucap kakek Fajar yang membuat bibi tua semakin kebingungan.


akhirnya Kakek Fajar menceritakan mengenai yang terjadi kepada bibi tua, Entah mengapa tatapan mata bibi tua menatap Surya tidak percaya sama sekali.


"Apakah kau yakin Tuan?"tanya bibi tua.


"Aku tidak tahu, tapi yang dapat aku pasti kan kata dokter kalau dia sedikit mengalami gangguan pada ingatannya." jawab kakek Fajar.


"Tapi kenapa tatapan matanya tidak terlihat kosong?" tanya bibi tua kembali.


"Nanti kau datanglah ke ruanganku, Aku ingin berbicara denganmu." ucap Kakek Fajar yang kemudian menyuruh bibi tua pergi.


Terlihat kakek Fajar memang tidak percaya sepenuhnya kepada Surya, namun dia juga tidak memiliki bukti tentang apapun. hari demi hari pun mulai berjalan, setiap kali Surya selalu melakukan akting nya agar Aruna mau merawatnya. Aruna memang enggan untuk melakukan hal itu karena Surya bukanlah suaminya.


"Apa yang harus aku lakukan, Ayah?" tanya Aruna.


Hari ini Aruna mendatangi surya yang berada di taman belakang rumah wanita itu, Aruna membawa semangkok bubur yang dia buat untuk Surya.


"Sayang, makanannya sudah matang ya?" tanya Surya kepada Aruna.


Nampak Aruna hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Mas benar-benar sangat lapar, sayang. sini duduk di samping Mas, suapin Mas." pinta Surya.


Tak ada keikhlasan sedikitpun di hati Aruna ketika Surya menganggap dirinya adalah istrinya. karena hal itu Aruna tidak pernah sekalipun menunjukkan senyum dihadapan Surya.


"Sayang, di mana Putri kita?" tanya Surya kepada Aruna


"Dia sedang sekolah, mungkin nanti siang baru pulang." jawab Aruna.


Sebenarnya surya dapat melihat keengganan Aruna untuk merawatnya, tapi Surya tidak peduli. pria itu tetap bersikukuh untuk mendapatkan Aruna padahal dulu sikapnya begitu jahat kepada Aruna.


"Aku benar-benar tidak habis berpikir, aku bisa melihat kebohongan yang begitu besar di mata pria ini. sedangkan aku dan Mas Faisal harus berusaha untuk membuat pria ini pulih sepenuhnya, sebenarnya pria ini sakit atau tidak sih. kalau tidak sakit akan kubuat dia sakit beneran." guman Aruna dalam hati.


Sesaat kemudian terlihat Aruna menatap wajah Surya yang sedang tersenyum padanya.


"Pria ini benar-benar sangat menjijikkan." ucap Aruna dalam hati.


"Sayang, Apakah ada sesuatu yang sedang kau pikirkan?" tanya Surya.


Aruna menggelengkan kepalanya, 5 menit kemudian terlihat seorang gadis kecil sudah berada di sekitar tempat Aruna.


"Mommy, Mommy!!" teriak Bilqis.


"Ada apa sayang?" tanya Aruna.


"Mommy, bantu aku untuk mengerjakan pekerjaan ku ya." pinta Bilqis.


"Kamu mendapat pekerjaan rumah ya?" tanya Aruna kepada putrinya.


"Mommy, Tolong bantu Aruna ya? mommy tahu kan kalau Bilqis tidak suka menggambar." ucap Bilqis.


Nampak Aruna menganggukkan kepalanya, wanita itu tersenyum sembari mencubit pipi Bilqis.


"Memangnya kau mempunyai pekerjaan rumah apa sayang? sini bawa ke sini biar Papa yang membantumu untuk mengerjakannya." ucap Surya.


Terlihat Bilqis menatap wajah Surya, gadis kecil itu benar-benar tidak menyukai surya yang berusaha untuk mengambil Mommy nya dari sang ayah.


"Tidak mau, aku tidak mau mengerjakan PR ku denganmu. Aku mau mengerjakannya bersama Mommy saja." jawab Bilqis yang kemudian menarik tangan Aruna dan membawanya pergi.


Surya tidak bisa melakukan apapun, sikap-sikap nya yang selalu kasar sudah melekat di otak Bilqis. Hal itu membuat gadis kecil itu benar-benar tidak menyukai keberadaan Surya.


"Kau tahu sayang, yang pasti Papa juga akan membantumu, bawa saja ke sini jangan bawa Mommy mu pergi, nanti papa tidak akan ada yang menyuapi." ucap Surya.


"Minta saja pada yang lain untuk menyuapi Papa, aku tidak mau mengerjakan PR di luar rumah!" seru Bilqis yang kemudian menarik tangan ibunya.


Faisal yang berada di dalam rumah nampak dia tersenyum, pria itu ternyata menyuruh Bilqis untuk menjauhkan ibunya dari adiknya yang brengsek itu.


** bersambung **


mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.


- Mommy


- Mantan terindah


- Suami keduaku cinta pertamaku


- Dewa perang dan Ratu sihir


- Permaisuri sang kaisar


- ijinkan aku bahagia bersamamu