MOMMY

MOMMY
Hari Jumat



Episode sebelumnya


Kalo ngomong lebih, takutnya ada yang salah tanggep. 'Kan cuman baby sitter tuh, gak lebih. Leana pulang sekitar pukul 9, kemaleman? Gak juga sih, deket banget ini, sebelahnya. Definitely sebelahan.


...****************...


Hari berikutnya (Jumat)


Sekitar pukul 7 sore, semuanya sudah berkumpul di rumah, Ghea bilang dia izin tidak bekerja sehari, alasannya tidak enak badan. Terserah. Mama Mayang juga tidak bepergian bersama teman-temannya yang berpakaian modis seperti hari-hari sebelumnya.


Mereka sedang makan malam bersama. Ghea dan Mama Mayang terlihat begitu gelisah, berbeda dengan Leana yang sedari tadi masih santai memakan makanannya.


"Ibu sama Kakak kenapa sih? Kok kayak gelisah gitu? Makanannya gak enak ya? Mau Ana bikinin yang lain?" Tanya Leana ikut berhenti makan.


"Kamu mau sampe kapan di rumah?" Tanya Mama Mayang.


"Oh itu ya... Ana gak dikasih cuti lama-lama Bu, besok pagi Ana udah harus balik ke tempat Ana kerja," jelas Leana.


"Nggak! Lo gak bakalan pergi! Lo gak bakalan balik ke sana!" Bentak Ghea yang sudah tidak tahan ingin berteriak karena begitu gelisah.


"Loh? Kenapa Kak?" Tanya Leana yang bingung.


"Nanti siapa yang bersihin rumah? Gue? Najis. Gue juga gak bisa masak. Itu,'kan tugas lo," jawab Ghea.


"Leana,'kan udah kasih Kakak uang. Pake aja buat beli makan jadi. Gampang,'kan," ucap Leana santai seraya pergi mencuci piring yang ia pakai makan.


"Nggak. Jangan harap lo bisa balik ke sana besok," ucap Ghea lalu menarik lengan Leana.


"Kak!? Apa-apaan sih!?" Leana menaikkan nadanya karena kaget.


"Udah berani ya lo bentak gue?" Tanya Ghea sambil mendorong Leana masuk ke dalam kamarnya.


"Aduh..." Leana tersungkur di atas lantai. Dengan sesegera mungkin, Ghea masuk ke dalam kamar Leana juga. "Kak jangan macem-macem." Leana berteriak pada Ghea


Plakk!


Ghea menampar pipi Leana dengan sangat keras agar Leana tidak berteriak lagi.


"Akhh!" Leana memegang pipinya yang mulai memerah. Tidak tinggal diam, Ghea segera melepas sabuk yang ia kenakan hendak memukul Leana, namun Leana lebih dahulu menendang tulang kering Ghea.


"AWW!" Ghea ikut tersungkur di atas lantai. Leana segera berdiri untuk meraih pintu kamar tapi ia kembali terjatuh karena kakinya ditarik oleh Ghea. "Lo gak bisa kabur dari gue!"


Sengit sekali perjuangan keduanya. Tapi pada akhirnya Leana lemas karena berkali-kali dijambak oleh Ghea. Rambut Leana lebih panjang dari pada Ghea, rambut Ghea hanya sebahu, bahkan lebih ke atas sedikit. Sedangkan Leana mungkin sekitar 40 cm jadi lebih gampang kalau mau menariknya.


Leana duduk lemas di lantai kamarnya, melihat keadaan sudah kondusif bagi Ghea, ia segera mengikat kedua tangan dan kaki Leana menggunakan kain baju milik Leana.


Air mata Leana menetes, padahal dia berekspektasi bahwa Kakak dan Ibu tirinya sudah berubah setelah sekian lama tidak bertemu, tapi sama saja. Bahkan yang sekarang Ghea yang lebih terang-terangan dan bertindak. Sakit pada fisik Leana tidak sebanding dengan rasa sakit batin yang ia rasakan.


Rasanya Leana ingin mengakhiri hidupnya sekarang juga.


Hey? Kamu tidak memikirkan perasaan Jihan ya? Huh! Bodoh!


"Lo diem di sini sampe lo gak dicariin sama majikan lo. Emang sih bayaran nya banyak, tapi gue gak mau nyari pembantu buat di rumah. Mahal. Mending lo aja yang ngerjain kerjaan rumah!" Bentak Ghea lalu pergi dari kamar Leana.


Leana bersyukur karena satu hal, yaitu, ia dikurung di kamarnya sendiri, bukan di gudang seperti waktu itu. Leana sampai trauma dengan tempat gelap.


Leana hanya diam, karena lelah, akhirnya ia tertidur pulas dengan posisi duduk.


.


Praang!!


Di waktu yang bersamaan saat Leana ditampar oleh Ghea, Bu Mita menjatuhkan gelas air yang ia pegang sampai mengagetkan Devan yang sedang bersamanya.


"Bu? Gapapa?" Tanya Devan.


"Aduh. Leana gimana ya? Ibu ngerasa khawatir, was-was. Besok kamu jadi jemput dia,'kan?" Bu Mita terlihat sangat-sangat khawatir.


"Iya, Bu, tapi Raffa yang jemput. Biar Devan yang bersihin pecahannya, Ibu mending gosok gigi, berdoa, terus tidur. Sepertinya Ibu kelelahan," ucap Devan berusaha menenangkan Bu Mita. Jihan? Dia di kamarnya. Bu Mita dan Devan sedang berada di dapur.


Bu Mita sedang minum air putih, sedangkan Devan memang diam di dapur untuk mengerjakan beberapa pekerjaannya. Sebentar lagi mau ke kamar Jihan untuk menemani nya tidur, permintaan Jihan.


"Kamu bukannya lagi sibuk? Biar Ibu aja," tolak Bu Mita yang sudah gercep mengambil sapu. Tapi serokan sudah ada di tangan Devan.


"Sudah-sudah. Ibu tidur saja ya. Ingat berdoa, Leana pasti baik-baik saja. Besok Raffa yang jemput," tolak Devan juga, seraya merebut sapu yang ada di tangan Bu Mita.


"Iya, ya udah, kalo gitu Ibu mau nengok Jihan dulu," ucap Bu Mita. Kalau sekedar menidurkan Jihan, Bu Mita bisa, bahkan sangat paten, tapi untuk menjaganya seharian itu, Bu Mita kurang mampu. Jihan sudah bisa berjalan, bahkan bicara, Jihan sedang aktif-aktif nya sekarang ini.


"Iya, Bu, habis itu, langsung tidur ya," sahut Devan sembari menyapu pecahan yang berserakan di lantai.


.


"Ai, Bibi..." Sapa Jihan yang melihat Bu Mita masuk ke kamarnya.


"Halo Jihan... Jihan sudah mengantuk?" Tanya Bu Mita seraya duduk di sebelah Jihan yang tengah duduk di karpet.


"Belum, sih... Tapi, Papa bilang, Iyan, tidak, boleh, tidul telalu malam," jawab Iyan.


"Kita tidur sekarang ya...?" Pinta Bu Mita.


"Ayo..." Jihan terlihat tidak kecewa saat akan diajak tidur, benar-benar anak yang baik."Tapi, Bi? Papana Iyan, di mana? Iyan,'kan penen tidul, shama, Papa," sambung balita itu sambil berbaring.


"Papa nya Iyan lagi sibuk... Besok-besok ya tidur bareng Papa, sekarang sama Bibi dulu. Oke?" Bu Mita begitu sabar menghadapi Jihan. Lagipula untuk apa marah-marah pada balita se-penurut Jihan?


"Othee..." Jihan hanya tersenyum. Bu Mita bersyukur karena Jihan tidak menanyakan soal Leana. Tapi baru saja Bu Mita merasa lega, Jihan bertanya lagi, "Bibi, bibi?"


"Kenapa, Nak..?" Tanya Bu Mita.


"Yang, biashana, shama, Iyan, itu, ke mana? Yang, cantik, itu, Iyan,'kan kanen," ujar balita itu. Seketika keringat dingin mulai mengucur dari dahi Bu Mita. Bukan masalah Jihan akan menangis kalau dia jawab kalau Leana sedang pulang, tapi Bu Mita teringat lagi dengan kekhawatiran nya yang tadi.


"Dia masih pulang, anak manis... Besok juga pulang, sabar ya..." Jawab Bu Mita begitu lembut dan sabar.


Sebenarnya Devan juga tidak kalah khawatir nya dengan Bu Mita terhadap Leana. Dari hari pertama saja, Devan sudah tidak fokus bekerja. Sungguh, pikirannya tertuju pada Leana yang kembali ke kandang nenek dan anak lampir itu.


Tetapi semua kekhawatiran Devan tertutupi oleh sikap malasnya dalam berekspresi. Ia lebih memilih untuk tetap diam meskipun sebenarnya tangan dan kakinya sudah sangat gatal ingin menjemput Leana.


Yang lebih membuatnya khawatir adalah handphone Leana yang ternyata tertinggal di mansion. Entah bagaimana kabarnya sekarang.


.........


Bersambung guys...


Ayo like, komen, dan subscribe. Vote juga dong...😸😸😸 hadiahnya juga💃💃