
Episode sebelumnya
Leana yang bingung hanya diam, ada banyak hal yang belum ia ketahui tentang keluarga ini. Tapi meskipun bingung, Leana tidak ingin mencari tahu, masa bodoh.
...****************...
Sebulan telah berlalu, kehidupan Ana di mansion keluarga Devan benar-benar tercukupi bahkan berlebih. Hidup tentram dan damai, tentunya bersama Jihan.
Akhir-akhir ini, Ana jarang bahkan tidak sempat untuk bertemu Devan di mansion nya sendiri, ia lebih sering bertemu dengan Raffa. Devan jarang pulang, sedangkan Ana tidak begitu peduli tentang hal itu. Karena menurutnya, tugasnya di sini hanya untuk menjaga Jihan, itu saja. Tidak lebih.
Siang hari tiba. Ana sedang berbaring di sebelah Jihan yang masih terlelap dalam tidurnya. Tenang sekali jiwa Ana melihat Jihan terlelap. Sejauh ini, Jihan belum menyulitkan Ana sedikitpun. Jihan benar-benar menjadi anak yang penurut saat bersama Ana.
Bahkan menurut Ana, Jihan sebenarnya anak yang cepat menangkap suatu hal baru. Selama seminggu, Jihan yang berusia 3 tahun ini sudah bisa berkomunikasi dengannya.
Sungguh bahagia perasaan Ana ketika sadar akan hal itu. Bu Mita pun juga merasakan hal yang sama. Sekarang Ana jadi lebih mengerti apa kebutuhan Jihan.
Ketika mata Leana hendak terpejam, tiba-tiba dia mendengar suara pintu yang didobrak paksa dari luar.
Bruakk!!
Leana segera berdiri dari tidurnya dan langsung membuka pintu kamar tersebut. Seorang wanita yang tidak asing segera masuk ke dalam kamar Jihan dan menggendongnya.
Seketika Jihan menangis kencang. Merasa tidak terima, Leana segera menghadang wanita itu. "Saya tidak tahu siapa Anda, tapi Anda tidak berhak membawa Nona Jihan dengan seperti itu," tegas Leana berdiri tepat di hadapan wanita itu.
"Diam kau!" Bentaknya. Leana tidak gentar hanya karena bentakannya, Leana sudah terbiasa dengan nada tinggi seperti itu. "Minggir dari jalanku. Kau. Hanya baby sitter nya Jihan! Hak mu berbeda denganku!" Geramnya lagi sembari menunjuk ke arah Leana.
"Nona Jihan menangis saat bersama dengan Anda. Jika Anda Ibu yang baik, Anda tidak akan melakukan itu. Membiarkan anak Anda menangis," jawab Leana. "Ya Tuhan, aku tidak tahu apa yang terjadi, sungguh. Tapi tolong, lepaskan Jihan dari nenek sihir ini," doa Leana dalam diam sembari mengambil ancang-ancang untuk merebut Jihan dari wanita itu.
"Lepaskan Jihan!" Bentak seseorang dari belakang Leana yang tak lain adalah Devan, Ayah dari Jihan.
"Tidak! Tidak akan! Saya Mamanya! Maka saya punya hak atas Jihan!" Sahutnya tak mau kalah.
Mendengar pernyataan dari wanita itu, Leana seketika mundur, "Mamanya? Ada konflik di keluarga ini? Apapun itu, aku hanya berharap bisa selamanya bersama Jihan," ujar batin Leana.
"Kau bisa datang dengan damai dan mengajukan laporan untuk meminta hak asuh Jihan. Bukan begini caranya, kau menyiksa anakmu sendiri," ujar Devan dengan pelan. "Kita bicarakan berdua dulu. Dia." Devan menunjuk ke arah Leana, "Tidak penting untuk tahu masalah internal antara kita," sambungnya.
Ya, masalah itu, Leana juga setuju. Masalah orang kaya selalu membuat sakit kepala jika kau tanya Leana. Bahkan menurut Leana, setiap orang kaya pasti memiliki masalah yang besar.
"Baiklah," jawab wanita itu lalu memberikan Jihan yang masih terisak kepada Ana.
Dengan sigap, Leana segera menenangkan Jihan di pelukannya. Kedua orang dewasa itu keluar, tepatnya kedua orang tua Jihan keluar. Meninggalkan Jihan dan Leana yang berlinang. Leana tanpa sadar ikut berlinang karena melihat Jihan begitu bencinya dengan wanita yang menggendongnya tadi.
"I, yan, ti, da, ma, u, e, ngan, lang, a, di. Hiks hiks," isaknya yang sesenggukan bata-bata sambil memeluk erat Leana. [Trans : Jihan tidak mau dengan orang tadi]
"Iya-iya... Tenang ya... Jihan tidak akan pergi ke mana-mana..." Leana mengelus-elus kepala Jihan untuk menenangkan nya. Detak jantung Jihan terasa begitu cepat, terlihat sekali anak ini menolak keras wanita tadi yang menyebut dirinya adalah Mamanya Jihan.
.
.
"Apa mau mu?" Tanya Devan sembari melipat kedua tangan di dadanya.
"Apa kita bisa bersama kembali?" Tanyanya.
Ladies and gentleman, let me introduce her self. Her name is Cindy, biological mother of Jihan, ex wife of Devan, 27 years old. She's cheating behind Devan, Devan get angry and then their relationship is done. This is in the short story.
"Tchh." Devan tersenyum mendengar pertanyaan itu.
"Kamu setuju Devan? Aku, aku berjanji akan menjadi Ibu yang baik untuk Jihan, juga istri yang baik untukmu. Beri aku kesempatan lagi Devan..." Ujar Cindy.
"Tidak ada kesempatan ketiga. Pergi dari sini, kami sudah terbiasa tanpamu," balas Devan dengan tenang.
"Devan aku mohon Devan...." Cindy memelas sambil memeluk kaki Devan.
"Jangan terbuai Devan," pinta Devan pada dirinya sendiri karena ia tahu wanita seperti apa sebenarnya Cindy ini. "Pergi atau perlu saya panggilkan satpam?" Tanyanya masih tenang.
Sejauh ini, Devan belum menaikkan nada bicaranya ketika di rumah. Nadanya tetap datar, serak, dipenuhi bass seakan-akan dia baru saja bangun tidur, tidur yang panjang.
"Dengar Devan, aku tau kamu masih cinta sama aku. Aku sudah bersedia kembali, kenapa kamu nolak? Apa kamu gak akan nyesel nantinya?" Tanya Cindy mencoba menggoyahkan kepercayaan diri Devan.
"Dengar juga Cindy, seberapa keras pun Anda mencoba, tidak akan ada hasilnya. Keputusan saya sudah bulat. Kesempatan saya hanya sampai nomor dua. Saya tidak akan memasang kesempatan ketiga apalagi untuk wanita yang membuat kesalahan se-fatal diri Anda ini. Anggap Anda tidak pernah kemari. Cepat pergi, atau saya panggilkan satpam," ancam Devan lagi namun suara nya begitu santai.
Cindy kehabisan kata-kata untuk memohon lagi. Nanti dia malah sungguh memanggil satpam, jatuh harga diri Cindy kalau sampai seseorang melihatnya diseret oleh satpam di rumah mantan suaminya.
Dengan langkah kaki kesal, marah, dan sedih, Cindy meninggalkan Devan. Cindy sempat berpapasan dengan Leana yang sedang bersama dengan Bu Mita. Cindy ingin merobek-robek wajah Bu Mita, tapi kini ia teralihkan oleh Leana.
Cindy menatap wajah Leana sekilas, namun dia sudah mengingatnya dengan jelas. Bahkan darahnya juga ikut naik ketika mengingat wajah Leana. Mungkin saja selama 3 detik memandangi wajah Leana, Cindy sudah memikirkan sebuah rencana agar Leana dipecat oleh Devan sebagai baby sitter nya Jihan seperti biasanya.
Tidak lama setelah Cindy pergi, Devan datang dan berdiri di sebelah Leana yang sedang menggendong Jihan. Jihan sudah terlelap, tadi saja dia memang sedang tertidur sebelum akhirnya Mamanya datang lalu mengangkatnya ke dalam dekapannya yang memaksa.
"Dia sudah tidur?" Tanya Devan dengan pelan. Leana mengerjap sebagai jawaban iya, iya takut membangunkan Jihan. Ketahuilah Jihan sedang tidak enak badan. Kemarin baru saja mendapat obat dari dokter, itulah alasan mengapa Devan sedang di rumah saat ini.
.........
Bersambung guys...
Kiw dukungannya ðŸ¤