
Wajah Bapak yang sudah tidak muda tampak terlihat sangat kusam, kusut, wajahnya penuh dengan luka lebam.
Ia selalu berharap kepada Tuhan agar nyawanya segera diambil oleh sang maha pencipta karena ia benar-benar sudah tidak kuat untuk bertahan hidup lebih lama lagi didunia yang benar-benar kejam, menunggu bantuan yang tak kunjung datang membuat bapak ini merasa putus asa akan kehidupan dimasa tuanya.
"Tolong cabut nyawa hamba ya Allah.
Ya Allah Tolong cabut nyawa hamba.
Hamba sudah tidak akan pernah berharap akan ada seseorang yang menolong hamba ya Allah.
Hamba hanya ingin mati ya Allah, tolong cabut nyawa hamba ya Allah" Ucap Bapak sambil duduk dipojok sel berjeruji besi.
Setiap hari Bapak selalu menangis ia benar-benar merasa hidupnya sudah sangat hancur, sungguh sudah tidak ada rasa semangat dalam dirinya.
"Kenapa kau takdirkan hamba untuk disiksa?
Kenapa kau takdirkan hamba untuk disekap oleh makhlukmu sendiri?
Kenapa kau membuatku hilang dari kekuargaku?
sudahkah kau merasa puas ya Allah?
hamba benar-benar tidak bisa mengerti akan ujian yang kau berikan ini !" Ucap Bapak terus protes kepada sang maha pencipta yang selalu tidak mendengar doa-doanya selama 6 tahun.
Kini sudah waktunya Bapak mendapatkan pukulan oleh anak buah laki-laki yang sangat bejad, begitu teganya mereka memukuli pria tua yang sudah tidak berdaya.
Kini anak buah penjahat itu membukakan gembok sel penjara dan ia langsung masuk kedalam sel tahanan, tanpa basa-basi laki-laki ini langsung meninju perut bapak yang sudah terlihat tidak berdaya dan tidak bisa membalas apa-apa seperti hari yang sudah-sudah.
"Bunuhlah aku" Ucap Bapak dengan sangat lirih sambil matanya yang tak henti-henti meneteskan air mata
"Saya tidak akan membunuhmu"
Buuuuuugggggggg
Suara tinjuan yang diberikan oleh anak buah laki-laki yang sangat biadab yang benar-benar sudah tidak memiliki perasaan, entahlah mungkin laki-laki ini tidak mempunyai seorang Ayah dalam hidupnya sehingga dirinya benar-benar tega memukili tahanan bosnya yang sudah lanjut usia.
Bapak benar-benar pasrah, karena pukulan ini sudah menjadi santapan setiap hari bagi bapak yang tak berdaya ini yang selalu mendapatkan perlakukan yang sangat tidak baik.
Anak buah yang sama biadabnya dengan bosnya kini berjalan keluar sel tahanan dan kembali menutup sel tahanan dan menggemboknya kembali seperti semula.
"Hamba pasrah tuhan semoga atas ujian yang kau berikan ini bisa menghapus dosa-dosaku, hamba hanya berharap kepadamu Tuhan agar kau selalu menjaga dan melindungi keluargaku, biarkan saya, cukupppp saja yang disiksa".
Laki-laki yang sudah tidak muda ini hanya menangis dan terus menangis, hatinya benar-benar sangat rindu kepada istri dan juga anaknya.
Ruangan lain tahanan
"teror terus keluarga Alfian, kini waktunya kita memulai meneror mereka setelah kita biarkan mereka hidup tenang selama ini"
"Baik tuan saya sudah memerintahkan untuk mereka segera menjalankan aksinya"
"Bagus saya tidak ingin melihat mereka merasa tenang"
"Baik tuan".
"Terus ganggu ketenangan keluarga mereka"
"Baik tuan"
"Cepatlah urus keempat anak buah yang tertangkap dibali, selalu pastikan mereka tidak berbicara macam-macam"
"Baik tuan saya sendiri yang akan berangkat ke Indonesia"
"Iaaa hahahaha saya tidak akan pernah menyerah untuk balas dendam kepadamu Alfian"
****