
Anak perempuan yang sadang menangis sesegukan disebuah lorong yang sangat sepi, ia sedang dibully oleh 4 anak laki-laki yang tak lain ialah teman sekelasnya.
Mereka adalah anak kelas 3 Sekolah Dasar
"Dasar anak haram hahahahahah" Ucap Rian teman sekelasnya
"Aku bukan anak haram hiks hiks hiksss aku bukan anak haram" Jawab anak perempuan yang sedang dibully oleh Rian dan kawan-kawan
"Mamah kamu itu jablay tau gak bisanya ganggu rumah tangga orang" Ucap Rian
"Hahahahahaha sudah yan habisi saja dia kita kurung didalam gudang" Ucap Aldi yang tak lain ialah temannya Rian
"Tolongggg jangan hiks hiks hikssss" anak perempuan itu terus menangis tersedu-sedu sambil terus memanggil "Bundaaaa Bundaaaaaaaaa tolong Sasya Bundaaaaaa hiks hiks hiks" tangisan dan teriakan Sasya
"Sasya bukan anak haram"
Keempat anak laki-laki itu menyeret paksa tubuh Sasya, tidak ada ibu guru, tidak ada bapak guru, tidak ada teman-teman yang lewat Sasya benar-benar hampir tidak berdaya, tubuhnya sudah sangat lemah karena sesekali dipukul oleh teman-teman Rian.
"Heyyy lepaskan dia" Teriak anak laki-laki dan dia adalah Rangga
Mereka berempat tertawa melihat bocah kelas satu mencoba menghentikan Rian dan kawan-kawan orang yang sangat disegani disekolah.
Orang tua Rian adalah salah satu investor diyayasan sekolah elit ini, Rian sangat arogan, ia anak yang sulit diatur anak perempuan itu terus menangis dengan sangat kencang.
Rian dan kawan-kawan tidak menghiraukan Rangga mereka terus menyeret paksa tubuh Sasya yang sudah sangat lemah.
"Aku sudah bilang, LEPASKAN DIA BODOH" teriak Rangga
"beraninya kau bilang kita bodoh" Ucap Rian sangat marah dan langsung melayangkan tangannya untuk meninju muka Rangga etsssss namun tidak berhasil ditepisnya dengan sangat lihay tangan kotor Rian, Rian benar-benar sangat murka dan sangat kesal kepada siswa anak kelas 1 itu.
"Kauuuuuuuuuu beraninya kauuuuu" Ucap Rian sangat marah
"Tidak akan kau akan ikut dikurung bersamanya digundang itu" Jawab Rian sambil menunjuk kearah gudang yang jarang dilewati oleh penghuni sekolah.
"Aku tidak mau ya cari masalah sama kamu, maka cepatlah kuperintahkan kau melepaskan perempuan itu, aku masih memberimu pilihan" Ucap santai Rangga kepada keempat kakak kelasnya itu yang sangat berandalan.
Rian dan kawan-kawan semakin dibuat geram oleh Rangga dan mereka berempat langsung menyerang Rangga namun semuanya tidak ada yang berhasil melainkan keempat kakak kelasnya dibuat bonyok oleh Rangga dan mereka berempat menangis dan berlari keruangan kepala sekolah untuk melaporkan perbuatan Rangga, Rian sangat berharap Rangga dikeluarkan dari sekolah.
"Kamu tidak apa-apa?, sudah tidak perlu takut lagi, hayu aku antar kamu sekelas" Ucap Rangga membantu membangunkan tubuh Sasya.
"Terimakasih ya kamu sudah menolongku" ucap Sasya yang masih menangis.
Kini Rangga membantu Sasya untuk berjalan dan mengantarkannya sampai kekelas, tiba-tiba terlihat salah satu guru didepan kelas Sasya yang sedari tadi menatap intens Rangga dan Sasya.
"Rangga.... Sasyaaaaa...." Ucap Bu Farah
"Ia bu" Jawab Rangga
"Apa yang kalian lakukan terhadap Rian dan kawan-kawan?" Bu Farah bertanya dengan ekapersi yang sangat marah
"Aku hanya melakukan yang sepantasnya aku lakukan bu" Ucap Rangga
"Kalian berdua ikut ibu keruang kepala sekolah" Ucap Bu Farah sambil menggandeng paksa Rangga dan Sasya menuju ruang kepala sekolah, Rangga dan Sasya sudah mencoba menjelaskan namun bu Farah tidak menggubris.
"Kau keterlaluan Rangga, Rian dan kawan-kawannya benar-benar babak belur dan harus dirawat dirumah sakit bagaimana ibu bisa mempercayaimu" Ucap Bu Farah sambil terus berjalan menuju ruang kepala sekolah.
"Heyyy bagaimana ini?" Ucap Sasya kepada Rangga
"Kamu santai saja kita tidak salah" Ucap Rangga.
Seluruh siswa-siswi menatap kearah bu Farah, Rangga dan Sasya mereka semua merasa kepo dan mencoba berusaha mencari tau apa yang terjadi, tidak sedikit yang mencoba mengikuti bu Farah, Rangga dan Sasya.
****