
Waktu telah menunjukan pukul 20.00, Sarah merasa ada yang tidak beres pada tubuhnya, sarah menyadari ada darah yang keluar dari Vaginanya. Tampak raut wajah Sarah yang sangat panik, Alfian melihat kearah Sang istri, Alfian menyadari raut wajah Sarah sedang tidak baik-baik saja, terbaca jelas bahwa raut wajah Sarah kini nampak gelisah.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Alfian penuh tanda tanya
"Sayang bagaimana ini" jawabnya dengan rasa lirih
"Kenapa?" tanya Alfian penuh dengan rasa penasaran
"Aku kan lagi hamil kok keluar darah seperti menstruasi dan perutku sakit" jawab Sarah dengan ekspresi panik
Degggggggg Alfian langsung terdiam dan dampak bingung harus mulai dari mana untuk berbicara.
"Sayang bagaimana ini? Aku gak mau keguguran sayang hikssss hikssss hiksss, sayang hayu kita kerumah sakit" ucap Sarah dan Sarah menangis ia tidak ingin kandungannya kenapa-napa.
"Bundaaa" Ucap Syakila sambil membuka pintu kamar Sarah dan juga Alfian
"Bunda kenapa nangis bunda sakit?" tanya Syakila langsung memeluk Bundanya dengan sangat erat
"Tidak sayang, bunda hanya sedikit tidak enak badan" Jawab sarah sambil melihatkan senyum manisnya kepada Syakila
"Bunda harus sehat ya Bunda, Bunda harus selalu temenin Kila, Bunda gak boleh pergi kayak dede Bayik, Bunda harus sehat yaa" Ucap Syakila dengan kepolosannya
Degggggg Jantung Sarah dan Alfian memompa begitu dahsyatnya.
Sarah benar-benar terkejut mendengar ucapan Syakila, Sarah masih tidak percaya dengan perkataan yang dilontarkan oleh Syakila, fikirannya mungkin Syakila hanya melihat semua itu mimpi.
"Sayang sini berbaring disini, Peluk aku, sini Kila juga sini peluk Ayah yah" Ucap Alfian
"Ada apa ini, Syakila kamu mimpi ya?" Ucap Sarah penuh dengan tanda tanya "Sudah hayo lebih baik kerumah sakit, aku tidak ingin kehilangan anakku" Ucap Sarah.
Alfian menarik sang Istri kedalam pelukannya diatas ranjang begitupun dengan Syakila dengan posisi yang sudah sangat nyaman.
"Bunda sayang, tapi kamu janji harus bersikap tenang" ucap Alfian
"Cepat ceritakan" Ucap Sarah
"Tadi kondisi kamu sangat lemah sayang, dokter bilang karena setres sehingga mengalami sakit perut yang luar biasa" Ucap Alfian dengan penuh kelembutan
"Terus?, iya tadi sebelum pingsan aku memang merasa perutku sangat sakit" Ucap Sarah
"Dokter terpaksa sayang melakukan kuret" Belum selesai Alfian menjelaskan Sarah sudah menangis sejadi jadinya
"Maksud kamu? Kenapa kau tak cegah dokter itu?" Ucap Sarah sambil nangis
"Janinnya sudah tidak berkembang sejak pagi tadi sayang, sehingga dokter melakukan kuret" jawab Alfian sambil menahan tangis dan memeluk istrinya sangat kuat
"Hikkkkk hikss hikssss kenapa semua ini terjadi, huaaaaaaa " Sarah hanya bisa menangis, sarah tidak bisa menghentikan tangisannya.
Bunda mana yang bisa rela mendengar buah hatinya pergi meninggalkannya, bahkan babynya belum sempat melihat dunia, semua ini benar-benar menjadi tamparan yang luar biasa bagi Sarah, Sarah masih tidak percaya yang dikatakan oleh Alfian dan juga Syakila putri kecilnya, Sarah masih menangis.
"Bundaaaaa, Bundaaa harus sabar Bundaaa, Bunda dedek jauh lebih bahagia sama malaikat dan bidadari di sana Bunda" Ucap Syakila sambil memeluk Bunda, Syakila ikut menangis
"Istighfar sayang, bukan hanya kamu yang sedih sayang, tapi kita semua harus mengikhlaskannya sayang, kamu harus semangat, kamu harus bisa melewati ujian ini" ucap Alfian
"Astaghfirullah hal adzim, Astaghfirullah hal adzim ya Allah apa salah hamba ya Allah belum sempet dia hadir kedunia, kenapa kau ambil kembali" Ucap Sarah dengan penuh rasa lirih sambil mengelap air matanya yang terus membanjiri pipi indahnya.
"Yang sabar sayang, kamu harus ikhlas" Ucap Alfian, Alfianpun meneteskan air mata.
Sarah tak kuasa menahan air matanya, iya terus menangis, sarah masih belum bisa menerima, hatinya masih belum bisa menerima, fikirannya sudah terlalu menerawang jauh kedepan ketika Sarah tahu bawa ia telah mengandung, Berjalannya waktu Sarah mulai bisa menerima kepergian buah hatinya.
****