
Setibanya Rangga diruang kepala sekolah sudah terlihat Rian yang sangat penuh dengan kemenangan, Aldi, Robert dan Jonatan hanya menatap sinis kearah Rangga dan Sasya.
"Permisi bu, ini kedua anaknya yang sudah membuat Rian dan kawan-kawan babak belur" Ucap bu Farah
"Silahkan duduk Bu Farah, Sasya dan juga Rangga" Ucap Bu Ida selaku kepala sekolah
Tok Tok Tokkkk
Tiba-tiba ada yang mengetuk ruangan yang tak lain itu ialah Ayah dari Rian dan juga walikelas Rangga mereka masuk kedalam ruangan.
"Ada apa ini bu?, kenapa muka anak saya babak belur?" Ucap Pak Dika
"Silahkan duduk terlebih dahulu Pak Dika" Jawab Bu kepala
Kini suasana semakin sangat tegang Pak Dika duduk disebelah anaknya dan Bu Elis selaku walikelas Rangga duduk disebelah Rangga.
"Cepat jelaskan apa yang terjadi bu?" Ucap Pak Dika
"Rian dan kawan-kawan dipukuli oleh anak bocah itu Pih, anak itu gila pih" Ucap Rian sambil menangis memainkan aktingnya semua teman-temannyapun ikut membantu Rian untuk mengambil hati Pak Dika
"Wah bu saya tidak terima ini, bagaimana bisa terjadi kekerasan, saya sudah banyak berinvestasi diyayasan ini, saya tidak terima, saya akan menyeret masalah ini keranah hukum" Ucap Pak Dika yang penuh dengan emosi
"Tenang dulu Pak, kita biarkan Rangga dan Sasya menjelaskan semuanya, coba nak Rangga tolong dijelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" Ucap Bu Kepala
"Rangga hanya membantu anak perempuan ini bu, anak perempuan itu sedang dibuli oleh orang-orang itu" jawab Rangga sambil menunjuk kearah Rian dan kawan-kawan.
"Boong-boong bu" Ucap Rian bersama dengan kawan-kawannya
"Beneran bu mereka yang berusaha mengurung anak perempuan ini didalam gudang belakang sana" Ucap Rangga penuh dengan kejujuran
"Benar bu hiks hiks hiks" Ucap Sasya ia kembali menangis
"Jangan salahkan Rangga bu, Rangga hanya membantu saya, malah tadi mereka yang mencoba memukul Rangga terlebih dahulu" ucap Sasya melanjutkan ucapannya
"Benar itu Rian?
Aldi?
Albert?
Jonatan?" tanya tegas bu Kepala
"Enggak bu mereka bohong, jelas-jelas kita yang babak belur, sementara dia tidak bu, kan saya sudah bilang anak laki-laki itu gila bu, saya tidak tau dia punya kekuatan apa bisa menghajar saya dan teman-teman saya" Ucap Rian berusaha meyakinkan ibu kepala dan seluruh dewan guru diruangan kepala sekolah.
"Kalo kalian berkelahi kenapa kamu tidak terluka sedikitpun Rangga?" tanya Bu kepala
"Saya sudah memperingatkan mereka bu untuk tidak mengganggu anak perempuan itu" Jawab Rangga.
"Bu Elis apakah kau sudah menghubungi wali dari Rangga?" tanya Bu kepala
"Sudah bu, beliau sudah sampai parkiran sekolah, sebentar lagi mungkin akan sampai diruangan ini" Jawab Bu Elis
"Bu Farah sudah mencoba menghubungi wali dari Sasya, Albert, Jonatan dan Aldy?" Tanya Bu Kepala
"Sudah bu" jawab bu Farah
Rian terus-terusan menangis dipelukan Papihnya, papihnya sangat merasa tidak tega melihat darah dagingnya terluka.
Pak Dika benar-benar meminta Bu Kepala untuk mengeluarkan Rangga dari sekolah ini.
Tok Tok Tok
"Silahkan masuk" jawab Bu Farah membuka pintu.
Pak Wiranto ialah penanam saham tertinggi di yayasan sekolah cucunya.
"Saya mohon maaf pak atas kekacauan hari ini, saya tidak menyangka bapak sangat cepat mengetahui masalah ini" Ucap Bu Kepala
"Saya wajib mengetahuinya bu karena saya tidak ingin media meliput hal buruk mengenai sekolah ini" Ucap Pak Wiranto
"Pak anak ini yang sudah memukuli Rian dan kawan-kawannya" Ucap Pak Dika sambil menunjuk Rangga.
Mereka semua tidak ada yang tau Rangga adalah cucu kandung pak Wiranto.
"Apa benar nak? Kau yang yang melakukan ini semua?" tanya pak Wiranto
"Ya aku hanya melakukan hal yang benar" jawab Rangga
"Apanya yang benar? Sepertinya kau telah menganiyaya mereka berempat nak, lihat wajah kakak kelasmu?, mereka semua babak belur" Ucap Pak Wiranto
Rian dan kawan-kawan sangat bahagia melihat Rangga sangat terpojokan.
"Cepat kau minta maaf sama mereka" Ucap Pak Wiranto
"Saya tidak mau saya tidak salah" jawab Rangga
"Minta maaflah maka semua ini akan selesai" Ucap Pak Wiranto
"Saya tidak mau dan tidak akan" jawab Rangga
"Cepat minta maaf" Teriak pak Wiranto
Rangga menangis karena ia dibentak oleh kakeknya sendiri, mungkin jika ia dibentak oleh semua orang dia tidak akan menangis, tapi kini yang membentaknya ialah orang yang sangat ia sayangi.
"Aku tidak mau" Ucap Rangga sambil menangis, Rangga sudah dibujuk sedemikian rupa dan Rangga tetap pada keyakinannya ia tidak akan meminta maaf.
"Bu Elis dimana wali dari Rangga?" tanya Bu kepala
"Saya wali dari Rangga" Ucap Pak Wiranto dengan sangat tegas
Semuanya terkecut ternyata Pak Wiranto pemegang saham 60% ialah wali dari Rangga, bahkan jika Pak Wiranto ingin ia bisa saja membayar semua saham yang 40% itu karena Pak Wiranto pemegang saham tertinggi.
"SATA TIDAKKKKKK MAU MINTA MAAAF SAYA TIDAK BERSALAHHHHHH" Ucap Rangga sambil menatap tajam kearah semua orang.
"Maaf bapak-bapak dan ibu-ibu saya rasa cucu saya tidak bersalah atas kejadian ini, saya yakin masalahnya ada dianakmu Dika, bukannya selama ini Rian dan kawan-kawan yang selalu membuat onar disekolah ini, saya akan anggap masalah ini selesai dan jangan ada yang berani-beraninya membuat masalah seperti ini lagi, saya harap kejadian ini untuk pertama dan terakhir kalinya, jika hal ini terjadi lagi entah mungkin akan dialami oleh anak lain meskipun itu bukan cucu saya, saya tidak akan tinggal diam, saya memiliki kekuasaan untuk memberhentikan siswa-siswi yang bermasalah, terimakasih bu Kepala semuanya saya mohon pamit bersama dengan cucu saya" Ucap Pak Wiranto mengajak Rangga untuk pulang.
Semua masih terkejut karena mereka baru mengetahui Rangga adalah cucu dari Pak Wiranto Evron.
"Pak saya mohon maaf atas kekacauan yang dilakukan anak saya" Ucap Pak Dika meminta maaf kepada Pak Wiranto
"Sudahlah namanya juga anak-anak, berkelahi adalah hal yang wajar, tolong didik anakmu lebih baik lagi" Ucap Pak Wiranto
"Baik Pak" Jawab Dika
"Pak saya suja mohon maaf karena pihak sekola tidak ada yang melihat ketika mereka melakukan perkelahian" Ucap Bu Kepala
"Sebaiknya siapkan beberapa penjaga disekolah ini bu agar mencegah hal-hal seperti ini untuk kedepannya" Ucap Pak Wiranto
"Ia Pak" jawab Bu kepala.
Kini Rian dan kawan-kawan semakin ketakutan, mereka sudah terluka dengan wajah yang sangat babak belur dan kini mereka dihukum oleh kepala sekolah untuk mengerjakan buku latihan dan belum lagi mereka dimarahi oleh orangtuanya masing-masing.
Sebenarnya Pak Wiranto tidak ingin banyak orang untuk mengetahui bahwa ia memiliki cucu bernama Rangga itu semua karena ia tidak ingin ada yang menculik dan menyakiti Rangga untuk menghancurkan Pak Wiranto, tapi ia sangat tidak ingin cucunya diperlakukan seperti tadi pada saat diruang kepala sekolah, ia selalu ingin melindungi Rangga.
****