
Kini Diktor yang menangani Sarah Winata telah keluar dari ruangan rawat milik Pak Wiranto Efron dengan raut wajah yang lemas, membuat semua orang yang sejak tadi menunggu diluar ruang rawat semakin merasa cemas dan gelisah.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Alfian dengan sangat panik
"Mohon maaf pak karena kondisinya, emmm keadaan istri bapak tidak cukup baik" jawab dokter dengan sangat lirih
"kandungan istri saya bagaimana dok? Baik-baik saja kan?" Tanya Alfian sangat panik
"Yang sabar ya pak anak bapak sudah tidak berkembang Pak, janin dalam perut bu Sarah sudah tidak bisa diselamatkan, kita harus segera melakukan tindakan Kuret untuk istri Bapak karena kita harus segera mengeluarkan janinnya, jika tidak segera dilakukan akan semakin berbahaya Pak" jawab dokter dengan sangat tegas
Deg deg deg deg deg Jantung Alfian memompa sangat cepat sekali dan tak kuasa air matanya kembali terjatuh tak bisa menahan tangis, Pak Wiranto merangkul Alfian dan memeluknya
"Sabar na, yang iklhas, kau harus kuat, ini sudah kehendak Allah, kamu harus kuat naaa" ucap Pak Wiranto sangat lirih
Syakila menangis sesegukan, air matanya terus terjatuh membanjiri pipi manis miliknya, Rangga berusaha menenangkan Syakila yang tak henti-henti menangis.
Alfian seluruh tubuhnya masih sangat beku, badannya sulit untuk digerakan mendengar semua perkataan Dokter Airin, pikirannya kosong, hancur, benar-benar sangat terluka mendapati kabar buah hatinya tidak bisa diselamatkan, Pak Wiranto berusaha menyadarkan dan menenangkan Alfian.
"Lakukan yang terbaik untuk istri saya Dok, tolong selamatkan istri saya" ucap Alfian dengan rasa penuh harap dan berusaha mengikhlaskan kepergian anak yang berada di janin sang istri.
"Lakukan diruang rawat rumah ini dok, segera siapkan peralatannya, segera lakukan tindakan" ucap pak Wiranto
"Baik Pak Wiranto" jawab dokter.
Pak Wiranto dan Alfian sengaja melakukannya dikediaman Wiranto karena Alfian dan keluarga masih harus bersembunyi dari orang yang hendak mencelakakan keluarga Alfian.
"Sekali lagi terimakasih banyak pak, saya sangat berhutang budi kepada Bapak" ucap Alfian sambil menggenggam tangan Pak Wiranto
"Sama-sama nak, jangan kau merasa sungkan dengan saya" ucap Wiranto.
Alfian menemani Sarah diruang rawat.
Sarah tidak sadarkan diri karena pengaruh obat bius, dokter wanita yang sedang melakukan kuret, membersihkan semua darah-darah yang menggumpal dalam rahim Sarah, Alfian yang menyaksikan janin berusia 3 bulan sedang dimandikan oleh asisten Dokter, Alfian menghampiri suster tersebut dan memegang janin yang sudah tidak bernyawa dengan tatapan yang sendu, Ayah mana yang bisa bersikap acuh ketika melihat buah hatinya, yang amat sangat dinantikan ternyata telah di ambil terlebih dahulu oleh Allah. Alfian langsung menghempaskan fikiran sedihnya, Alfian meminta izin untuk memakamkannya, Alfian ditemani Pak Wiranto, Syakila dan juga Rangga, Alfian memeluk dan menciumi makam sang anak dan Alfian langsung memeluk Syakila, Syakila yang sudah mulai tenang namun tetap menangis. Pak Wiranto dan Rangga telah menenangkan Syakila ketika Alfian berada diruang rawat untuk menemani sang Bunda.
****
Halaman belakang rumah Pak Wiranto
"Ayah jangan nangis ya Ayah, kata Oppa dede sudah tersenyum bahagia di Surga"
"Anak pintar, Ayah menangis Bahagia sayang karena dede senyum sama kita dia terlihat sangat bahagia sayang" Jawab Alfian sambil memeluk Syakila
"Iya Ayah kata Oppa dan Rangga dede dibawa sama malaikat yang sangat tampan dan baik hati Ayah dan juga ditemani oleh bidadari-bidadari yang cantik yang merawatnya" ucap Syakila
"Ia sayang" Rangga terus memeluk tubuh mungil Syakila.
"Na Alfian sebaiknya kamu kembali keruangan rawat temani istrimu, dan kau harus kuat na" ucap Pak Wiranto sambil menepuk bahu Alfian
"Baik Pak" Alfian langsung bangkit dari posisi jongkoknya
"Biar Syakila Oppa dan Rangga yang temenin ya" ucap Pak Wiranto
"Terimakasih Pak, Kila baik-baik ya jangan nakal" Syakila yang mengangguk dan berusaha kuat didepan sang Ayah.
Alfian yang berjalan semakin jauh dari makan. Syakila digendong oleh Oppa masuk kedalam rumah, begitupun dengan Rangga yang mengekor dibelakang Oppa.
****