
Kini saatnya kita intip kegiatan Wiranto Evron dan yang lainnya dimarkas yang telah disiapkan oleh Pak Wiranto dan juga Rizal beserta anak buah yang berada di Tailan.
"Hallo semua" Sapa Dimas yang baru saja datang
"Hayyy Dim" Sapa Sam
"Hayy Sam" Dimas dan Sam berjapat tangan sambil berpelukan
"Hay Zal" sapa Dimas
"Hay" ucap Rizal sambil berjabat tangan dan berpelukan
"Hayyy semua" Ucap Tara dan Pram yang baru memasuki markas yang telah disiapkan oleh Rizal
"Hayy" jawab Sam, Rizal, Om Wiranto dan juga Rangga.
"Ehhhh anak kecil ngapain ikut-ikut?" Ucap Tara kepada Rangga
"Om mau coba duel sama aku?" ucap Rangga
"Ihhhh ngeri, enggak deh enggak berani hehehe" saut Dimas menjawab tantangan Rangga.
"Yasudah sekalian saja kita breafing yaa teman-teman" ucap Rizal
"Iyaaa" ucap Rangga
"Sam pokoknya nanti tunggu aba-aba jemput kita pakai pesawat yang sudah disiapkan dihalaman" ucap Rizal
"Siapp, mana gw liat titik kordinatnya" ucap Sam
"Nih" ucap Rizal sambil memberikan tabletnya
"Semua peralatan tempur sudah disiapkan beberapa senapan dan juga peralatan lain bisa langsung cek saja di ruangan sebelah sana kalian bebas memilih" Ucap Pak Wiranto
"Siappp om" jawab Tara
"Om beneran Rangga diizinkan untuk perang?" ucap Pram
"Iaa biarkan Rangga latihan dari sekarang" tegas Pak Wiranto
"Kerennnnnnn" ucap Pram sambil mengacungkan kedua jempolnya
"Lu gak inget sekitar 7 tahunan yang lalu si Rangga bikin para penculik Syakila keos ketakutan, dulu dia masih anak-anak loh apa lagi sekarang udah remaja, saya sangat yakin kemampuan Rangga melesat sangat jauh" ucap Tara dengan penuh keyakinan
"Ohhh iya bener juga" ucap Pram
"Bagus yaaa penerus ni Rangga, jangan lupa nanti ajarin adik-adiknya Anggara, Riko, Reza dan Devaro" ucap Rizal
"Siap laksanakan om" ucap Rangga
"Brayen tidak tau jika kita ingin bertarung Sam?" ucap Rizal
"Tidak saya tidak memberitahu anak dan istri saya, saya takut mereka khawatir dan tidak mengijinkan saya untuk pergi" ucap Sam
"Wahhhh Sam hatimu benar-benar seperti hello Kity" ucap Dimas sambil bertepuk tangan
"Padahal pawangnya buaya dan macan" ucap Tara
"Memang kalian izin sama istri kalian?" ucap Sam
"Ia kita takut mereka nantinya khawatir" ucap Pram
"Ia pasti nanti Tania gak bakalan ngasih gw izin" ucap Dimas
"Ribett amat" ucap Rangga
"Yehhh rasakan nanti kalo kamu sudah berumah tangga" ucap Dimas
"Masih lama" ucap Rangga dengan sangat datar
"Gw udah cek mantep juga pesawat tempurnya jadi nanti kalo ada urgen gw bisa langsung ledakin aja ya" ucap Sam
"Yaa lu tau yang terbaik Sam" ucap Rizal
"Malam ini kita mulai semoga misi penyelamatkan om Surya dapat berjalan dengan lancar dan semoga kita bisa berkumpul kembali" ucap Rizal
"Aamiin pasti bisa, bakal gw bikin Steven penyet nanti tuh si bajingan" Ucap Dimas
"Ia harusnya dulu kita jangan biarkan si Steven lolos" tegas Sam
"Pak Wiranto nanti bareng sama saya saja ya mantau di atas" ucap Sam
"Baiklah" ucap Pak Wiranto
"Yasudah saya mau cek peralatan dulu" ucap Pram sambil berjalan menuju ruangan senapan untuk memilih-milih peralatan yang akan ia bawa.
Terlihat begitu banyak alat-alat tempur, Pram sangat senang melihat senapan-senapan yang sudah lama tidak ia gunakan. Dirinya benar-benar merindukan sosok Alfian Dirgantara, biasanya jika bertempur selalu bersama dengan Alfian.
"Al apa kabar didunia sana?, doain kita ya semoga kita bisa menyelamatkan papimu" ucap Pram sambil memilih-milih senapan yang akan ia bawa
"Maafkan kami karena telat menolong papimu?" ucap Pram
Tiba-tiba Dimas masuk kedalam ruangan dan ia mendengarkan semua ucapan Pram.
"Gw juga sangat rindu sama tuan Al kita" ucap Dimas
"Ia yaaa gw masih selalu merasa dia ada didekat kita" ucap Pram
"Samaa gw juga ngerasa dia masih ada disini bersama kita" ucap Dimas
"Takdir benar-benar tidak bisa ditebak ya Dim" ucap Pram
"Ia betul, mari kita buat Alfian bangga dengan menyelamatkan Pak Surya" ucap Dimas
"Haruss Dim, gw juga udah minta papih Erdo dan anak buahnya untuk mengawal Mami Elsa di Amsterdam, gw takut ada mata-mata yang mengintai Mami Elsa disana" ucap Pram
"Bagus Pram, si Steven pasti menyuruh anak buahnya untuk selalu memata-matai keluarga Alfian" ucap Dimas
"Rumah Sarah juga sudah diawal dengan sangat ketat" tegas Pram
"Bagus mari kita bawa Papi Surya kembali bersama kita" ucap Dimas
"Ituuu pasti" ucap Pram
Kini semua dimarkas persembunyian Rizal dan yang lainnya telah bersiap-siap untuk menyerbu markas Steven yang digunakan sebagai penyekapan Bapak Surya Dirgantara selama belasan tahun.
****