"Take Care Of You"

"Take Care Of You"
Persekongkolan???



Kini Sasa masih dirawat dirumah sakit Semesta Kasih, Brayen diminta untuk menemani Sasa, Brayen tidak bisa menolak karena yang meminta ialah ibu negara.


"Sudah sana ni bawa makanan untuk Sasa sarapan" ucap Mami Amel


"Mami aja lah yang kesana, nanti dia besar kepala lagi kalo aku yang bawain dia makan" ucap Brayen


"Husss kamu itu, kalian itu satu sekolah, kalian teman, sudah sanaaa" ucap Mami Amel


"Iyaaa Mih" ucap Brayen


"Nah gitu dong, jadilah anak laki-laki yang manis untuk mamihnya" ucap Mami Amel sambil menepuk bahu Brayen


"Yaudah mih aku pamit" ucap Brayen sambil mencium tangan Maminya


"Iya sayang hati-hati ya salam ya untuk Sasa" ucap Mami Amel


"Iya, Asalamualaikum mih" ucap Brayen


"Wa'alaikumsalam" jawab Mami Amel


Kini Brayen berlalu dari penglihatan Mamihnya dan ia mulai memasuki mobil mewahnya untuk berangkat menemui Sasa yang kini masih menjalankan perawatan dirumah sakit Semesta Kasih.


"Aduhhh sendirian banget ni gw jenguk si micin" ucap Brayen


"Ahhhh berengsek ni si Martin pake pergi segala" ucap Brayen terus ngedumel sambil terus memegang kemudi mobilnya


"Huffffffff Micin Micin ada-ada aja si loh ah" teriak Brayen yang tak henti-henti mendumel.


Ehhh coba deh gw telfon si Tissa


Tutttt Tutttt Tutttt Tuuuut


"Halllooooooooo" Ucap Tissa disebrang telfon


"biasa aja dong, cempreng banget si suara lo" ucap Brayen


"Enakkk aja lo, perasaan suara gw biasa aja" saut Tissa


"Ehhhh Tissa" ucap Brayen


"apaaaa?" ucap Tissa


"Temenin gw yuk kerumah sakit jenguk si micin" ucap Brayen


"Yahhhh gw sibuk, ini aja gw lagi mau berangkat ke Karawang bareng keluarga gw" ucap Tissa


"Ya elah Tissaaaaaa" ucap Brayen


"yahhh gimana dong, soalnya gw ada acara keluarga, udah lo aja sana, gw titip temen gw yaaa, yaudah ya udah dulu, gw udah dipanggil sama nyokappp, byeeeeeeee" ucap Tissa yang terus nyerocos sendiri tanpa memberi celah untuk Brayen berbicara dan langsung dimatikan panggilan telfon oleh Tissa


"wahhhh ni bocah, bener-bener emang gak ada akhlakkkk" ucap Brayen


Disudut lain sekarang kita intip keberadaan Martin dan Tissa yang lagi bersama sambil tertawa-tawa karena telah berhasil menjebak Brayen. Tissa dan Martin mereka berdua sekongkol bahwa jadwal mereka saat ini sibuk karena ada urusan keluarga, sehingga mau tidak mau Brayen harus menemui Sasa sendirian.


"Udah lah tin, kali-kali kita bikin Sasa senang" ucap Tissa


"Hahahahahha iya bener, kali-kali juga gw bisa ngerjain si Brayen" ucap Martin


"Ehhh si Rangga kemana si?" Tissa bertanya kepada Martin


"Gw aja gak tau, jangankan gw, si Brayen aja gak tau keberadaan si Rangga dimana" ucap Martin


"Ehhhh yang waktu itu tampil disekolah itu siapa si?, yang bareng sama si Rangga?" ucap Tissa


"Gw juga gak tau si, kayaknya mereka sudah berteman cukup lama deh" ucap Martin


"Apa gadis itu orang yang diincar oleh Rangga?" ucap Tissa


"Ya bisa jadi, mungkin juga mereka saudaraan" ucap Martin


"Ah tapi gw rasa mereka berdua sangat dekat, bahkan Brayen terlihat sangat menyayangi gadis itu" ucap Tissa


"Ya gw juga sayang kok sama dia, orang cantiknya maksimal gak ketolongan" ucap Martin


"Halahhhhh lo tuh yahhh cantikkk cantikkk cantikkk aja terus diotak lo, cewek Bandung juga banyak yang cantik" ucap Tissa


"Ooooh salah satunya lo gitu????" ucap Martin


"Emmmmm bilang aja lu mau dibilang cantik, yaaaa kannnnnn?????" ledek Martin


"Apaan si lu ahhhh" ucap Tissa yang mulai kesal kepada Martin


"Cemburu lu yaaa sama cewek itu?" ucap Martin menerka-nerka


"Enggakkkkkk" ucap Tissa


"Halahhh bilang aja lu cemburu, lu salah satu fans Rangga kan???" ucap Martin


"kalo iya emang kenapa?" ucap Tissa


"Ihhh ngapain ngefans sama si Rangga, mending sama gw" ucap Martin


"Iiiiih males bangettt, ngacaaaa sono loooooooo" saut Tissa dengan nada nyolotnya.


"Ehhhh Tissa" ucap Martin


"Hemmmm" jawab Tissa sambil memasukan cemilan kemulutnya


"Lu udah bisa hubungin orang tua si Sasa?" tanya Martin mengalihkan pembicaraan


"belum, parah banget si" ucap Tissa


"Kasian juga ya si Sasa, ya Allah itu orang tua kejam benerrr dah" ucap Martin


"Gak tau lagi gw" ucap Tissa


"Lu gak bisa hubungin siapa ke gituuu, om nya atau siapa ke keluarga dia yang lain?" ucap Martin


"Ehhhhh iyaaaaaaa" ucap Tissa yang baru saja teringat akan seseorang


"Apa-apa???" tanya Martin


"Adaaaa coba gw telfon sepupunya yang di Jakarta" ucap Tissa sambil mencari nomor handphone sepupunya


"Hallo Athala" ucap Tissa menyapa orang tersebut


"Iya hallo, ini Tissa kan?" ucap Athala


"Iyaaa ini aku temennya Sasa" ucap Tissa


"Ia ada apa Tissa?" Athala bertanya kepada Tissa


"Syukurlah lo belum ganti nomor handphone, ini loh sepupu lo sekarang dirawat dirumah sakit, kedua orangtuanya gak tau kemana, katanya si ke Amrik, udah gw coba hubungin mereka tapi tidak bisa" ucap Tissa seraya menjelaskan kepada Athala kronologis yang dialami oleh Sasa


"Serius kamu Tissa?" ucap Athala yang sangat syok mendengar cerita dari Tissa


"Serius, coba deh kalo bisa kamu bantu hubungin orang tuanya, masih sayang gak si mereka sama anaknya, bikin gw emosi aja ahhhhhh" ucap Tissa


"Oke baik Tissa, oia dia dirawat dirumah sakit mana?" ucap Athala


"dirumah sakit Semesta Kasih" ucap Tissa


"Okee Saaa, makasih ya informasinya, aku nitip Sasa dulu yaa, aku akan segera pergi ke Bandung" ucap Athala


"Okee Athala, yaudah yaa Byeee ditunggu di Bandung" ucap Tissa


"Iyaaa Saaa, Byeeeee" ucap Athala


Kini telfon antara Athala dan juga Tissa telah berakhir, Athala langsung menceritakan informasi yang ia dapat kepada kedua orangtuanya yang tak lain ialah ayahnya adalah kakak dari Mami Sasa.


"Bagaimana itu si Friskaa" teriak Papah dari Athala yang sangat marah


"Sabar pah" ucap mamah Athala


"Sudah sekarang siap-siap kita semua berangkat ke Bandung" ucap papah Athala


"Baik Pak" jawab Athala


"Iya mamah juga siap-siap dulu" jawab mamah Athala.


Kini keluarga Athala segera berkemas untuk pergi menjenguk Sasa yang kini tinggal sebatang kara di Bandung tanpa ditemani kedua orangtuanya.


****