"Take Care Of You"

"Take Care Of You"
Insiden Bunuh Diri



Suasana bandung yang saat ini sedang diguyur hujan, kisah disalah satu rumah tampak Brayen sedang merasa bosan dan jenuh sambil mengotak-ngatik remot televisi miliknya dan ia masih merasakan jenuh yang luar biasa sungguh membosankan, akhirnya Brayen berjalan menuju dapur rumahnya.


"Mih..." sapaaa Brayen kepada Mamihnya


"Iya sayang" jawab Mami Amel


"Papi Sam kemana mih?" tanya Brayen


"Papi ada urusan keluar negeri" jawab Mamih Amel sambil membuat pesanan kue


"iya kemana?" ucap Brayen


"Ke Tailan katanya, emang kenapa sayang?" Ucap Mami Amel


"Tidakkkk, aku cuma mau tau aja" ucap Brayen


"Tumbennn, biasanya juga kamu gak pernah kepo" Ucap Mami Amel


"Mihhhhhh" Ucap Brayen kembali memanggil Mami tercinta


"Iya apa ?" jawab Mami Amel


"Rangga udah lama loh mi gak masuk-masuk sekolah" Ucap Brayen


"Serius kamu?" tanta mami Amel


"Iya miii, dia kemana yaaa??" Ucap Brayen


"Kamu kan sahabatnya, emang dia gak pernah hubungi kamu?" ucap Mami Amel


"Enggak mih, Syakila juga gak dihubungin sama si Rangga, ya siapa tau mami tau gitu miii, mami kan juga deket sama pak Wiranto" Ucap Brayen


"enggak tau mami" jawab mami Amel


"Yaelah mih, cerita dong Rangga sama kakeknya kemana mih?" Brayen terus bertanya kepada mami Amel berharap dirinya akan mendapatkan pencerahan.


"Beneran deh sayang, mami beneran enggak tau, udah mending kamu bantuin mami tolong ambilin box box kue" Pinta Mami Amel


"Iyaaa mih" Brayen menjawab mengiyakan perintah Mamihnya dan segera ia berjalan menuju ruangan penyimpanan berbagai macam box kue.


Brayen sangat berharap agar ia bisa mengetahui keberadaan Rangga dan juga Pak Wiranto lewat Mamihnya, namun ternyata nihil ia masih belum mengetahui keberadaan Rangga.


Kini Brayen telah kembali kekamarnya dan kini ia mengotak-ngatik ponselnya.


"Huhhh bete banget, ngapain si ni si Sasa dari tadi nelfonin gw terus" Ucap Brayen


"Ahhh males banget ah ngangkatnya" Ucap Brayen dan ia langsing merijek panggilan dari Sasa.


Dredddddd Dredddddd Dreddddd Dreddddddd handphone Brayen kembali bergetar dan terpampang nama Martin


"Si martin lagiii ngapain siii" Teriak Brayen sambil menaru handphonenya kembali diatas kasur miliknya.


Kini Brayen tampak bulak-balik berjalan didalam kamarnya, dering telfon dari Martin masih terus berlanjut akhirnya ia memutuskan untuk mengangkat telfon Martin teman sekolahnya.


"Hallo" Ucap Brayen


"Lamaaa banget si lo ahhh" Teriak Martin disebrang telfon


"Berisik banget si tin ke toa" Ucap Brayen


"Lo lama banget si ngangkatnya" Ucap Martin


"Ya sorry gw sibuk" ucap Brayen "ngomong-ngomong ada apa?" Brayen bertanya kepada Martin


"Ehhhhhh iyaaa gw sampe lupaaa, buruannnn lo kesekolah sekarang" Ucap Martin dengan sangat panik


"Ngapain?????" saut Brayen


"Buruannnnn gilaaaaaaa fans lo nihhh tangannya berdarah banyak bangettt gilaaaaaaa, mau gw bawa kerumah sakit dia gak mauuuu" ucap Martin


"Kokkk bisaaaaa????, maksud lo si micin?" ucap Brayen


"Iyaaa buruan lo kesini" ucap Martin dengan sangat panik


"Emang gak ada guru-guru?" ucap Brayen


"Enggak ada anjir ini cuma anak eskul doang udah mau magrib juga, dia gak mau dibawa kerumah sakit kalo bukan lo yang bawa" ucap Martin


"Ahhh gila tu orang, lo tu harusnya telfon nyokapnya atau bokapnya sanaaaa" teriakkk Brayen


"Gak adaa mereka lagi di Amrik" Ucap Martin


"Haduhhh" keluh Brayen


"Buruan lo bacot banget siii, cepetan dateng ini taruhannya nyawa seseorang loh" Ucap Martin


"Iya iya gw kesana" Ucap Brayen dan memutuskan panggilan telefon dari Martin


Brayen langsung mengambil kunci mobil dan langsung berlari keparkiran rumahnya.


"Sayangggg mau kemanaaaa?" teriak Mamih Amel


Brayen tidak mendengar jika mamihnya memanggilnya, langkah kaki Brayen terlalu cepat dan langsung menancap gas mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi.


"Kemana si tu anak, tumben banget buru-buru amat, sampe gak pamit" ucap Mami Amel sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Suasana disekolah Brayen sedang sangat gusar melihat Sasa yang kini telah terbaring sangat lemas dan mengeluarkan banyak darah.


"Saa udahlah gw bawa lo kerumah sakit" teriak Martin dengan sangat panik


"Enggak mauuu" saut Sasa dengan nada suara yang sudah sangat lemah sambil air mata yang terus bercucuran membasahi pipi cantiknya


"Katanya si mau kesini" ucap Martin


Kini Tissa sedang memeluk sambil menahan tubuh Sasa yang sudah semakin lemas, tiba-tiba tampak laki-laki yang sangat tampan berlari dan semakin mendekat kearah Martin dan yang lainnya.


"Hehhh kokkk bisa sampe kayak gini" Ucap Brayen dengan sangat panik melihat kondisi Sasa


"Kenapaaaa gak kalian langsung bawa kerumah sakit sihhh ahhhhh" teriak Brayen sangat marah kepada teman-temannya yang lain


Brayen langsung menggendong tubuh Sasa


"Gw ikut Bray" teriak Martin


"Gue juga ikut" teriak Tissa berlari mengejar Brayen


"Ehhhh jangan ada yang bocor keorang luar ya tentang kejadian ini" teriak Martin kepada semua teman-temannya


"Iaaaaa" teriak teman-teman eskulnya


Kini Brayen, Tissa dan Martin membawa Sasa menuju rumah sakit.


"Saaaaa sadarrrr saaaaaaaa, saaaaaaaaaa" teriak Tissa sambil memeluk dan menepuk-nepuk pipi Sasa, kini air mata Tissa telah bercucuran


Martin dan juga Brayen sama paniknya seperti Tissa.


"Kokkkk bisa sihhhh tangan Sasa sampe berdarah kayak gitu?????" ucap Brayen sambil terus fokus menyetir kemudi mobilnya


"Gw juga heran tadi, tiba-tiba aja si Sasaaa nangis, kayaknya dia lagi ada masalah deh sama orang tuanya" saut Tissa


"Tadi gw sempet denger tentang kata-kata cerai" ucap Martin


"Jadi si Sasa mencoba untuk mengakhiri hidupnya?" ucap Brayen


"Bisaaaa jadiii" ucap Martin


"Ya Allah lu kenapa si saaaaaa, ada apa samaaaa loooo" teriak Tissa sambil terus menangis


Kini Brayen mulai merasa bersalah kalau saja tadi dirinya mengangkat panggilan suara dari Sasa mungkin saja Sasa tidak akan melakukan hal yang sekonyol ini untuk berusaha mengakhiri hidupnya.


"Brayenn harusnya tadi lo angkat telfon dari Sasaaaa" ucapnya didalam hati Brayen.


Kini sampailah Brayen dan yang lainnya dirumah sakit terdekat dari sekolah.


Sasa mulai dibawa oleh para perawat untuk memasuki ruang UGD.


Brayen, Tissa dan Martin mereka bertiga tampak panik menunggu hasil dari dokter yang sedang menangani kondisi Sasa.


"Duhhh nyokap gw dari tadi udah nelfonin gw terus ni" ucap Tissa


"Angkatlah" ucap Martin


"Gw bingung harus jawab apa, masa gw bilang kalo kita dirumah sakit karena Sasa mencoba bunuh diri" ucap Tissa


"Jawab aja dehhh Tissa dari pada nanti lo kena damprat karena pulang telat" ucap Martin


"Martin, lo udah hubungin kedua orang tua Sasa?" tanya Brayen


"Udah cuma mereka berdua gak ada yang ngangkat" Ucap Martin


"Astagaaaaa orang tua macam apa mereka itu" ucap Brayen sambil terus berjalan mondar mandir didepan ruang rawat Sasa.


Dretttttt Dretttttt Drettttt Drettttt Dretttttt Drettttttt Drettttttttt


Kini gantian telfon Brayen tak henti-henti bergetar, ya panggilan suara itu dari Mamihnya.


"Assalamualaikum Mih" Ucap Brayen


"Waalaikunsalam, kamu dimana sayang?" ucap Mami Amel


"Aku dirumah sakit mih" ucap Brayen


"Dirumahhhhh sakitt, kenapaaaa????, kamuuuu kenapaaaaa?" ucap Mami Amel dengan sangat panik tak sabar untuk mendengar jawaban dari sang anak


"Bukan aku yang sakit mih, tapi teman sekolahku" ucap Brayen


"Siapa?" tanya Mami Amel


"Sasa mi, aku disini sama Martin dan Tissa juga" ucap Brayen


"Apa perlu mami kesana?" ucap Mami Amel


"Gak perlu deh mih" ucap Brayen


"Yasudah kalo ada apa-apa langsung kabarin mami yaaa, kamu hati-hatiii" ucap Mami Amel


"Iya mih" ucap Brayen


"Assalamualaikum" ucap Mami Amel mengakhiri telfon dengan anaknya


"Wa'alaikumsalam mih" ucap Brayen.


Kini ditempat kediaman Amel, ia tampak menimang nimang hati kecilnya amat sangat ingin menyusul Brayen kerumah sakit.


"Duhhhh tapi kan aku gak tau rumah sakitnya dimana" keluh Amel


"Ehhhh iyaaa aku inget jam tangan yang aky berikan ke Brayen kan sudah disetting Maapnya, mariii kita cekkk" Ucap Amel sambil mengecet keberadaan Brayen melalui aplikasi handphonenya


Kini Amel telah mengetahui keberadaan anaknya dan ia langsung bersiap-siap untuk pergi kerumah sakit dimana Brayen bersama dengan teman-temannya berada.


****