
Ruang makan kediaman Pak Wiranto Evron tambak ada Pak Wiranto, Sarah, Alfian, Syakila dan juga Rangga, Rangga dan Syakila mereka hanya saling tatap dengan raut muka yang sama-sama kesal dan penuh dengan kebencian, Alfian, Sarah dan juga Pak Wiranto memperhatikan kearah Rangga dan Juga Syakila.
"Ehemmmm" ucap Pak Wiranto dengan sengaja untuk memecahkan situasi
Rangga yang hanya menatap kesal ke arah Oppanya
"Kau kenapa cucuku?" tanya Pak Wiranto dengan sangat santai sambil melahap makanannya
"Aku hanya malas makan saja" jawab Rangga sambil mengacak-ngacak makanannya dengan menggunakan sendok dan garpu ditangannya.
"Makanlah dan habiskan makananmu" Jawaban tegas Pak Wiranto kepada Rangga
"Nak Alfian dan Nak Sarah hayu dimakan, yang banyak ya makannya" ucap Pak Wiranto dengan sangat lembut
"Terimakasih Bapak sangat baik terhadap saya dan keluarga saya" ucap Alfian
"Sama-sama tidak usah kamu fikirkan ya, Ayahmu teman baikku" Jawab Pak Wiranto sambil tersenyum
"dan Syakila kamu panggil saya Oppa ya sama seperti Rangga memanggilku Oppa" ucap Pak Wiranto sambil menatap kearah Syakila gadis mungil yang sangat cantik
"ia Oppa" sambil tersenyum dan melihatkan gigi putihnya
Rangga yang merasa semakin malas dengan gadis kecil yang so cantik itu, rasanya Rangga ingin segera pergi dari ruangan makan yang membuatnya merasa sangat tidak nyaman, Rangga buru-buru menghabiskan makanannya agar ia bisa segera meninggalkan meja makan.
Setelah selesai acara makan kini Pak Wiranto, Sarah dan Alfian nampak sedang serius membahas kejadian semalam, dan Oppa meminta Rangga untuk mengajak Syakila main di area rumah dan tidak boleh keluar rumah, Rangga tidak bisa menolak permintaan kakeknya padahal Rangga mengira sehabis selesai acara sarapan ia akan terbebas agar tidak dekat-dekat dengan gadis so cantik itu.
"Aku sedih karena Villa Ayahku hangus terbakar, seharusnya aku, ayah, bunda, dede bayi lagi main bersama, tidak seperti ini ayah dan bunda terlihat sangat menyebalkan, aku dicuekin, hiks hikss hikss aku ingin pulang ke Jakarta, aku ingin pulang kerumahku"
"Hey anak kecil kamu harus bisa mengerti"
"Mengerti apa?" jawab Kila yang masih polos
"sudahlah tidak usah dibahas"
Rangga walaupun dia baru berusia 7 tahun dia sudah sangat paham tentang situasi yang dialami oleh keluarga Syakila, Rangga memiliki otak diatas rata-rata dan rangga sekilas bisa melihat kejadian seseorang dimasa lalu dan kejadian yang akan datang dengan ia menatap mata orang tersebut.
"Kasian sekali dia jika dia semalam tidak keluar dari Villa itu mungkin anak ini sekarang tidak ada disini" batin Rangga, kini Rangga berusaha bersikap baik kepada Syakila.
"Jangan jadi anak yang cengeng, kamu harus kuat, apa memang semua anak perempuan itu cengeng?" ucap Rangga
Syakila tak peduli dengan ucapan Rangga dia tetap menangis, Rangga akhirnya geram dan berusaha bersikap semakin manis
"Sudah ya tak usah menangis, yukkk kita ambil es cream dan kita main dikamarku"
"Mau" Syakila langsung menghentikan tangisannya saat Rangga mengajaknya makan es Cream
Rangga langsung memegang tangan Syakira dan berjalan kearah dapur untuk mengambil es cream.
Dari semenjak kejadian *** kucing Rangga sudah tidak mau ada kucing diarea rumahnya, ia menjadi sangat benci terhadap kucing membayangkan dirinya dipermalukan dan rasa bau kotoran kucing masih terasa jika Rangga mengingatnya kembali, padahal Rangga sudah mencuci mukanya sampai sabun Rangga habis.
****