
"Maahhhh.....
Pahhhhhhh.....
Tidakkah kalian mengingatku?
Aku sangat membutuhkan kalian sekarang esok dan seterusnya mahhh.. Pahhh....
Aku seperti sendirian disini.
Untuk apa aku hidup seperti sendirian Pah.... Mahhh....
Kenapa kalian selalu tidak pernah ada untukku????
Aku salah apa pah ?
Salah apa mah???
Aku sakit aku sendiriiiiiaaaaaaaaaannnnn hiks hiks hikssssss huaaaaaaaaaaaaaaa" ucap Sasa yang menangis diruangan rawatnya hanya sendirian.
"Hikssss hikssss hikssssssssss kenapa semua cobaan ini datang kepadaku????" ucap Sasa yang terus saja menangis
"Memang dengan mereka selalu memberi uang itu sudah cukupppp??????, aku juga butuh kasih sayang, kenapa kalian begitu tega kepadaku?, apa kalian tidak menginginkan akuuu???" ucap dan isak tangis Sasa
Kini Sasa hanya sendiri diruangannya, sehingga ia bisa bebas mengeluarkan unek-uneknya tanpa disadari Brayen mendengar semua ucapan Sasa, Brayen sangat tidak tega mendengar keluh kesah yang saat ini dialami oleh Sasa.
"Yaampun Micin, gw gak nyangka hidup lu seberat ini Micin" ucap Brayen didalam hatinya
"Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa kenapa kemarin kau tidak menbiarkanku mati sajaaaa Tuhannnnnn??????" ucap Sasa yang tak henti-henti ia terus menangis, isak tangisnya begitu sangat memilukan, membuat siapa saja yang mendengar perkataan Sasa menjadi sangat empati terhadapnya.
Brayen dirinya merasa sangat bingung, ia benar-benar binggung memikirkan harus masuk atau tidak keruangan Sasa, ia takut mengganggu Sasa yang sedang mengeluarkan segala unek-uneknya walaupun ia mengungkapkan segalanya tanpa teman.
"Duhhhh masuk jangan, masukkkk jangan, masukkkk jangan" ucap Brayen yang benar-benar sangat kebingungan
"Bismillah" Brayen memberanikan dirinya dan membuka pintu ruangan rawat Sasa.
Sasa mulai menyadari akan kehadiran seseorang yang masuk kedalam ruangannya, seketika secepat kilat ia menghapus air matanya dan berusaha untuk menyembunyikan perasaannya yang sedang hancur berkeping-keping.
"Hay Saa" Sapa Brayen dengan sangat canggung
"Ehhh Brayen, kamu dari kapan disana?" ucap Sasa bertanya kepada Brayen
"Gw baru aja sampai" ucap Brayen
"Ooooh baguslah berarti dia gak denger kalo aku tadi abis nangis" ucap Sasa didalam hatinya
"Gimana kabar lo sa?, oh iya ini ada titipan dari nyokap" ucap Brayen langsung menaru titipan Maminya dan Brayen langsung menarik kursi untuk duduk didekat ranjang rawat milik Sasa.
"Alhamdulillah aku udah mendingan kok" ucap Sasa sambil memperlihatkan senyumnya
Sungguh semua sandiwara Sasa benar-benar membuat Brayen semakin canggung untuk berbuat apa karena ia takut jika dirinya salah berucap dan akan menimbulkan hati Sasa semakin hancur.
"Udah sarapan sa?" tanya Brayen sambil menatap kedua bola mata Sasa
"Tumben banget ni orang manggil gw nama" ucap Sasa didalam hatinya
"Belum, aku gak nafsu makan, pait banget mulutku" ucap Sasa dengan ekspresinya yang sangat malas membahas makanan
"Kok gitu sihh, makan dulu dong, udah kelas 3 loh, bentar lagi ujian" ucap Brayen
"Wahhhhhh gila, seriusan si Brayen khawatir sama gw????, OMG OMG gila gilaaaaaaa" ucap Sasa didalam hatinya
"Kok diem aja si saaa, makan dulu" ucap Brayen
"Nanti aku juga makan kok" ucap Sasa
"sekarang Sasa" ucap Brayen
"Enggak mau Brayen, pait mulutku" ucap Sasa sambil menutup mukanya menggunakan selimut
"Saaaaaa" Brayen terus memanggil Sasa untuk membujuknya sarapan
"Enggak mau Brayenn" ucap Sasa dibalik selimut
"Enggak mau apa si Saaaa??, gw tuh mau bilang ada dokter noh pengen meriksa keadaan lo" ucap Brayen
Seketika Sasa langsung membuka selimutnya dan ternyata sudah ada Brayen yang siap menarik selimut Sasa
"Ahhh Brayennn" teriak Sasa
"Udah-udah makan sini gw suapin" ucap Brayen sambil mengeluarkan bubur yang tah dimasak oleh Mami Amel
"Paitttt Brayen" ucap Sasa sambil memonyongkan bibirnya
"Apanya yang pait si Saa, coba dulu" ucap Brayen yang terus saja membujuk Sasa
"Kapan???" ucap Brayen
"Tadi sebelum kamu datang, suster bawain aku bubur, ih pait banget terus aku buang deh tuuu ketempat sampah" ucap Sasa dengan polosnya
"Yaampun Sasaaa, dijamin deh ini tuh enak banget, nyokap gw sendiri yang bikinin buat lo" ucap Brayen sambil mendekatkan bubur kearah indra penciuman Sasa.
"Wahhh kok aromanya menggiurkan ya, apa lagi itu dibikinin sama Mamah mertuaaa aaaaahhhhh seyang banget kalo gak dimakan" ucap Sasa didalam hatinya
"Emmm yakin gak mauuu?" ucap Brayen
"Sedikit aja yahhh" ucap Sasa sambil ekspresi memohon kepada Brayen
"Iyaa aaaaaa buka mulutnya" Ucap Brayen sambil menyuapkan bubur kepada Sasa.
Sasa mulai memakan bubur yang telah disupin oleh pujaan hatinya.
"enakkk gak pait" ucap Sasa sambil membulatkan matanya
"Kan udah gw bilang micin, ini itu gak pait" ucap Brayen
"Emmmmm ya ya yaaa, Mami kamu jago masak ya, masakannya enakkkk" ucap Sasa sambil mengunyah makanan dimulutnya
"Kamu beruntung banget punya Mami yang selalu menyempatkan waktu untuk membuat sarapan, makan siang, makan malam" ucap Sasa
"Aaaaaaaa buka lagi mulutnya" ucap Brayennn sambil terus menyuapkan bubur kepada Sasa
"Demi apa siiii, ini enak banget, ucapin terimakasih banyakkkkkkk banyakkkkk banyakkkkk banyakkkkkkkkk banget ya dari aku" ucap Sasa dengan sangat antusias sambil memakan buburnya
"Makan dulu Micin yang bener" ucap Brayen
"E'emmm" ucap Sasa
Kini yang tadi bilang hanya ingin makan sedikit jadi makan banyak dan porsi yang disiapkan oleh Mami Amel habis tak tersisa, Brayen rasanya ingin sekali meledek Sasa, namun niatnya diurungkan karena ia tidak ingin membuat hati Sasa semakin rapuh.
"Kenyang sekali" ucap Sasa
"Nihhh minum dulu" ucap Brayen sambil memberikan minuman kepada Sasa
"Makasih ya Brayen" ucap Sasa sambil memberikan senyuman yang sangat bahagia
"He'emmm" ucap Brayen
"Martin sama Tissa kemana?" ucap Sasa
"Katanya si ada acara keluarga" ucap Brayen sambil pura-pura memainkan handphonenya agar sifat cueknya kembali terlihat
"Emmmmm gitu" ucap Sasa
"Masih lemes enggak?" ucap Brayen bertanya kepada Sasa
"Cuma sedikit pusing saja" ucap Sasa
"Jangan lakuin hal bodoh lagi ya saaa" ucap Brayen sambil mencubit hidung Sasa
Wah benar-benar membuat Sasa menjadi dag dig dug der dibuat Brayen, rasanya hati Sasa benar-benar meleleh, menjadi lumer seperti coklat yang sangat enak sekali.
"Iya Brayen" ucap Sasa
"Oia makasih ya udah nyempetin waktu untuk datang menemaniku" ucap Sasa
"Iya sama-sama Sa" ucap Brayen sambil memberikan sedikit senyuman
Sungguh Sasa benar-benar sangat bahagia, ia merasa Brayen berubah 90 derajat, Sasa ingin sekali berlari dengan sekencang-kencangnya karena kini hatinya benar-benar sangat bahagia, hatinya benar-benar sangat berbunga-bunga, ia ingin memberi tahu kepada seluruh dunia bahwa kini ia merasa bahagia karena berada dekat dan sangat dekat dengan idola yang sangat ia kagumi disekolah.
Sungguh benar-benar meleleh, mukanya benar-benar dibuat memerah oleh sikap Brayen yang kini menjadi manis, benar-benar perubahan yang sangat pesat, tidak biasanya Brayen bersikap baik kepada orang yang menyukainya terkecuali Syakila Ananthasya Dirgantara.
"Aku mau kesekolah" ucap Sasa memecah keheningan
"Kenapa harus malu Sa?" ucap Brayen
"Karena hal kemarin" ucap Sasa dengan sangat lesu mengingat hal yang sangat bodoh atas perbuatannya sendiri.
"Gak banyak yang tau kok Sa, cuma teman-teman eskul lu aja yang tau" ucap Brayen
"Tetep malu" ucap Sasa
"Kemarin Martin udah menyuruh mereka untuk tutup mulut kok Sa" ucap Brayen
"Ia" ucap Sasa sambil menghelakan nafasnya dengan sangat panjang
****