"Take Care Of You"

"Take Care Of You"
Perpisahan Rangga dan Syakila





Pagi Hari pukul 06.00 masih diarea rumah Bapak Wiranto. Rangga dan Syakila sama-sama menampilkan muka melasnya kepada dunia, rasanya mereka tidak ingin beranjak dari posisi ternyaman, Mereka berdua hanya bisa saling curi-curi padang tetapi tidak seperti biasanya yang selalu berkelahi, Syakila dan Rangga berubah 100% menjadi putra dan putri yang sangat pendiam tanpa ekspresi bahagia.


Mereka sudah terlalu terbiasa bermain bersama, tinggal disitu atap yang sama Syakila merasa Rangga susah menjadi kakak sekaligus teman yang baik begitupun juga sebaliknya.


Rangga dan Syakila berimajinasi di benaknya masing-masing, mungkin lebih tepatnya mereka sedang protes akan keadaan ini, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa.


"Hallo Selamat Pagi Rangga, Selamat Pagi Kila" Ucapan Selamat pagi dari Oppa tidak digubris oleh kedua putra putri yang menggemaskan ini


"Halloooooooo, ekhem-ekhem" Oppa yang terus memecah keheningan tetep saja masih belum ada respon.


"Kenapa kamu begitu tidak ingin melepasku Kila sehingga akupun jadi sedih" Batin Rangga.


Wah Rangga curang ya hanya dia yang bisa membaca fikiran Syakila sementara Syakila tidak bisa, tapi Syakilapun bisa merasakan jika Rangga sikapnya berubah total dipagi hari ini.


"Ranggaaaaaaaaa" teriak Oppa


Dan masih nihil Rangga tidak menggubris


Alfian dan Sarah keluar dari kamar melihat kearah Rangga dan juga Syakila, susah pasti terlihat sosok Pak Wiranto.


"Coba kalian panggil mereka untuk segera sarapan" Pinta Pak Wiranto kepada Sarah dan Alfian


"Syakila" Alfian memanggil putrinya


Dan nihil masih tidak ada jawaban


"Syakilaaaaaaaa" Alfian berteriak kearah Syakila dan masih tetap nihil


"Kenapa mereka Pak?" Alfian bertanya sambil melirik bola matanya kearah pak Wiranto


"Tak tau, saya sudah hampir 20 menit menyadarkan mereka ya tetap nihil" Jawaban pak Wiranto sambil menekukan kedua tangannya diperut.


Akhirnya Alfian menggendong Rangga keruang makan dan Sarah menggendong Syakila keruang makan. Sesampainya diruang makan wajah Rangga dan Syakila semakin melas



"Sudah hayo makan" Ucap Pak Wiranto


Rangga dan Syakila kompak menggelengkan kepalanya mengisyaratkan mereka tidak mau makan sambil bibir mereka dimanyunkan.


Akhirnya Pak Wiranto terpaksa menyuapi Rangga dengan penuh paksaan, begitupun Syakila juga disuapi oleh sang Bunda dengan penuh paksaan, Alfian hanya bisa frustasi melihat kelakuan bocah didepannya karena ini kali pertama Syakila bersikap seperti ini.


Kini acara sarapan telah selesai.


****


"Pak sekali lagi saya ucapkan terimakasih banyak karena telah banyak membatu keluarga saya" Ucap Alfian


"Sama-sama nak sekali lagi saya bilang tidak perlu merasa sungkan" Pak Wiranto menjawab dengan senyuman


"Tetep saja pak saya beserta keluarga kecil saya merasa tidak enak karena telah merepotkan bapak" Ucap Alfian


"Huss jangan bicara seperti itu, bapak sama sekali tidak merasa direpotkan, sekarang kita sudah menjadi keluarga, jika ada apa-apa jangan sungkan-sungkan menghubungi saya ya, saya malah senang rumah ini menjadi ramai karena kehadiran kalian"


"Ia pak sekarang kita sudah menjadi saudara, Bapak juga harus selalu memberi saya kabar ya pak, jika ada apa-apa langsung hubungin saya ataupun bisa hubungi istri saya" Ucap Alfian


"Ia nak" Ucap Pak Wiranto


Pak Wiranto memeluk Alfian ia merasakan kehadiran sosok anak semata wayangnya yang telah meninggal


"Bapak jaga diri baik-baik ya, Bapak jaga kesehatan Bapak" Ucap Alfian


"Ia nak" Jawab Pak Wiranto sambil melepaskan pelukan


"Kita pamit ya Pak, Sekali lagi terimakasih banyak" Ucap Sarah sambil mencium tangan Pak Wiranto begitupun juga dengan Alfian


Raut wajah mereka menjadi sedih namun mereka mencoba tetap kuat berbeda dengan Rangga dan Syakila mereka berdua menangis dengan sangat keras, Rangga langsung berlariĀ  masuk kedalam.


"Sudah nak Sarah, Nak Alfian tidak apa-apa Rangga biar saya yang urus"


"Ia pak" ucap Alfian


"Asalamualaikum Pak kita pamit salam untuk Rangga"


"Waalaikumsalam".


****


Kini Mobil yang dinaiki oleh Alfian sekeluarga semakin jauh dari rumah Pak Wiranto. Kini Alfian tidak menyetir, ia sudah meminta Pram untuk menjemputnya.


Selama diperjalanan Sarah dan Alfian berusaha menghentikan tangisan anaknya mereka berusaha menenangkan Syakila.


Begitupun dikediaman Pak Wiranto tampak Pak Wiranto beserta dengan beberapa pelayannya mencoba menghibur Rangga.


Hal yang paling tidak mengenakan ya Perpisahan, rasanya hati pecah menjadi serpihan beling, kalian pernah tidak merasakan perpisahan disaat kalian seumuran Kila dan Rangga?


****