"Take Care Of You"

"Take Care Of You"
Dunia Lain??



Gadis remaja yang sangat cantik dengan impusan yang terpasang dipergelangan tangannya, Brayen, Martin, Sasa dan juga tante Amel masih setia menemani Sasa yang masih terjaga dalam tidur panjangnya.


Berlahan Sasa mulai menggerakan jemari tangannya, Brayen yang menyadari merasa sangat bahagia dan langsung menggenggam tangan Sasa, sedikit demi sedikit Sasa mulai membuka matanya ia merasa dirinya sudah berada didunia lain.


"Ya Allah kenapa surga begitu sangat indah" ucap Sasa dengan sangat lemas sambil ia terus menatap lekat-lekat wajah Brayen yang kini masih menggenggam tangan Sasa.


"Sasa sudah sadar Brayen?" tanya Mami Amel


"Sudah mih, tapi Brayen Rasa otaknya semakin tidak waras" ucap Brayen


Mami Amel langsung menghampiri dan melihat keadaan Sasa dari arah yang sangat dekat.


"Wahhhh ada maminya Brayen jugaaa???, kenapa harus dipertemukan disaat aku sudah tiada Tuhannn???" ucap Sasa yang masih merasa dirinya telah tiada


Mami Amel hanya senyum-senyum mendengar ucapan Sasa sementara Brayen hanya menyimak ucapan Sasa yang terlontar dari mulutnya.


Kini Martin dan juga Tissa mendekati Sasa untuk mengecek keadaan Sasa yang baru saja siuman, Tissa dan Martin tampak sangat senang karena Sasa sudah mulai membuka matanya kembali.


"Sasaaaaaaaaaaaaaaa" Teriakkk Tissa sambil memeluk tubuh Sasa


"Ya Tuhan kenapa Tissa dan Martin selalu ada disisiku, padahal ini sudah berada diakhirat, Hemmmm ternyata diakhirat ada ruangan seperti rumah sakit juga yaaaaa" ucap Sasa


Martin dan Tissa yang mendengar ucapan Sasa tak kuat untuk mereka tidak tertawa, akhirnya ruangan Sasa pecah oleh suara ketawa Tissa dan juga Martin.


"Ya Allah Micin, pantesan aja orang tua lo namain lo Micin" ucap Martin


"Ehhhhhh Martin kok lo didunia aruah masih aja si nyebelin, dasar lo mak-mak yang menyerupai laki-laki" ucap Sasa


"Ya Allah Sasaaaaa" Teriak Tissa sambil tak henti-henti menahan tawa.


Tante Amel yang mendengar hanya senyum-senyum, dirinya benar-benar merasa dihibur karena Sasa merasa dirinya kini telah meninggal dunia dan berada dialam lain sementara Brayen tetap menahan dirinya untuk tetap tidak tertawa, dirinya masih berusaha jaim didepan Sasa.


"Duhhhh kok sakit semua ya badan aku" keluh Sasa


"Ehhhh nying-nyingg udah mulai kumpul belom nyawa lu?????" ucap Tissa


"Tissa ko lu ngikutin gw jadi aruah si?" ucap Sasa dengan sangat heran


"Ia gw pengen selalu getok kepala lu makanya gw ngikutin lo jadi aruah" ucap Tissa dengan sangat nyolot


"Setidaknya sekarang gw udah bahagia gw udah gak akan pernah ketemu kedua orang tua gw lagi, gw sangat bahagia saaa, makasih yaa udah mau nemenin gw mati" ucap Sasa


"Amit-amit Micinnnnn, sadarrrr loooooooo" teriak Tissa


"Aduh Tissa kepala gw pusing, jangan teriak-teriak dong, kok tangan gw diinfus ya Tis?" ucap Sasa dengan sangat heran


"Ehhh bodoh lo itu masih hidup" ucap Brayen yang kini mengeluarkan suaranya


Sasa yang mendengar merasa sangat syok dan dirinya benar-benar merasa sangat malu atas perkataan konyol yang telah terlanjut dilontarkan oleh Sasa.


"Saa bagaimana keadaan kamu?" ucap Tante Amel sambil mengelus pucuk kepala Sasa


"Kokkk gitu si ngomongnya, gak boleh gitu... Masih ada orang-orang yang sayang dan perduli sama kamu" ucap tante Amel


"Tapi mamah sama papahku tidak tanteeeeee" ucap Sasa masih terus menangis


"Orangtua Sasa pasti sangat sayang sama Sasa, percaya sama tante" ucap tante Amel


"Kalo mereka sayang sama aku pasti kini mereka ada disini menemuiku tante" ucap Sasa


Tissa yang mendengar keluhan sahabatnya ia tak kuasa meneteskan air mata karena ia sangat tahu selama ini Sasa sangat kekurangan kasih sayang oleh mamah dan papahnya, Sasa dirawat oleh asisten rumah tangganya yang sangat menyayangi Sasa seperti anak kandungnya.


"Sabar ya naaaa, kamu harus kuat yaaa, orang tua kamu pasti punya alasan yang kuat, kamu harus sabar dan harus tetap semangat, kamu gak boleh menyerah dalam hidup" ucap tante Amel sambil ia memeluk tubuh anak remaja yang saat ini hatinya benar-benar sedang rapuh.


Brayen kini mulai tersentuh oleh beban hidup yang diderita oleh Sasa, Sasa biasanya ia selalu ceria, ia selalu terlihat ceria disekolah, ia selalu pantang menyerah untuk mendekati Brayen, walaupun Brayen selalu cuek tapi Sasa tidak pernah patah semangat untuk bersikap baik kepada Brayen.


Seluruh sekolah sangat kenal dengan Sasa yang super cerewet sama dengan Tissa, ya mereka berdua tidak berbeda jauh sama-sama gais remaja yang sangat berisik jika disekolah.


"Sudah yaa jangan nangis lagi" ucap tante Amel


"Sasa sekarang benar-benar sedih tante" ucap Sasa


"Sabar yaaa sayang" ucap tante Amel


"Sasa udah lelah tante" ucap Sasa


"Jangan bilang gitu ahhh, pokoknya tante gak mau yaa, tante gak mau tau kamu gak boleh lakuin hal seperti tadi disekolah" ucap tante Amel


"Maaf tante" ucap Sasa sambil tak henti-henti ia menangis dipelukan tante Amel.


"Udahhh Saaaa jangan nangis lagi, masih ada gw saaaa, lo mau ninggalin gw saaaaa, kenapa lo bisa-bisanya mau ninggalin gw saaaaa???" ucap Tissa tak henti-henti ia menangis


"maaf Tissaa, gw udah gak tau lagi harus berbuat apa tadi" ucap Sasa


"sudah-sudah yaaa jangan pada nangis lagi, Alhamdulillah Sasa selamat, sekarang kita jadiin ini sebagai pelajaran ya, untuk kalian semua jika kalian berada disituasi yang sangat hancur, kalian jangan pernah coba-coba untuk mengakhiri hidup kalian, Allah benci sama orang yang bunuh diri, ingatttt itu. Kamu liatt saa masih banyak kan teman-teman yang perduli atas hidup kamu" ucap tante Amel


"iya tante, maafin aku Sasa semuanya, makasih udah mau ada buat Sasa" ucap Sasa dengan sangat lirih dan menghapus air matanya


Tissa langsung memeluk tubuh Sasa


"Jangan lakuin itu lagi" ucap Tissa sambil memeluk tubuh sahabatnya


"Iaaa maafin gw Tissa" ucap Sasa


"Janji ya jangan lakuin itu lagi" ucap Tissa


"Iaa saaa" ucap Sasa


Kini semua yang berada diruangan Sasa berusaha untuk membuat hati Sasa pulih kembali, mereka semua berusaha untuk membuat Sasa kembali semangat untuk melanjutkan hidupnya.


****