
Syakila dan Rangga menghabiskan waktu bersama, Kini Rangga dan Syakila sedang menonton TV.
Suasana diruang TV Rangga sangat bahagia karena sekarang dirinya ada teman untuk bercanda, biasanya ia hanya ditemani oleh pelayan rumah dan juga Oppa tercinta.
"Kak apakah kita sudah bisa main keluar?" Tanya Syakila
"Tidak boleh adik kecilku" Rangga menjawab sambil menggambar
"Dimana Ayahku ya, kok sudah 2 hari aku tidak melihatnya kak"
"Sabarlah Ayahmu lagi ada urusan, Ayahmu kan orang sibuk"
"Tapi kenapa Ayah tidak mengantarkan aku dan Bunda pulang kerumah"
"Ooooh jadi kamu mau ya ninggalin aku?" Ucap Rangga
"Enggak kak aku seneng disini ada temen"
"Yasudah santai-santailah kamu disini, jadi anak gadis yang penurut" Ucap rangga sambil mengusap-usap rambut Syakila
"Tapi aku kangen rumahku, aku kangen mainan-mainan aku, aku bosen kak disini gak bisa keluar" Rengek Syakila
"Yaudah yukkk mau lihat aku latihan bela diri?" bujuk Rangga
"Kakak latihan tonjok-tonjokan?"
"Ya semacam itu lah, biar aku bisa jagain kamu"
"Aku juga mau belajar ya kak" ucap Syakila
"Yukkk pelatihku pasti sudah menunggu" Ucap Rangga sambil berjalan menuju ruangan olahraga, Syakila yang berjalan sambil senyum-senyum mengekor dibelakang Rangga.
Ruang Tamu Rumah Wiranto Evron
"Bagaimana keadaan kamu nak?" Ucap Pak Wiranto
Sarah menjawab pertanyaan Pak Wiranto
"Syukur Alhamdulillah, jangan banyak fikiran yaaa, ikhlas dan jalani saja alur yang telah Tuhan berikan"
"Iya Pak, saya sangat berterimakasih pak atas kemurahan hati bapak karena telah banyak membantu keluarga saya"
"Sama-sama nak, ini sudah jalan takdir dari Allah nak, sehingga saya bisa bertemu dengan anak sahabat saya yaitu suamimu, dan bisa kenal dengan mu Nak sarah, begitu juga dengan Syakila"
"Kalau boleh saya tau orang tua Rangga dimana pak?" Tanya Sarah dengan penuh rasa penasaran
"Orang tua rangga sudah meninggal nak dari rangga umur 3 tahun" Pak Wiranto menjawab pertanyaan Sarah
"Innalillahi wainnailaihi rojiun, maafkan saya pak saya tidak tahu" ucap Sarah sambil rasa penuh penyesalan karena telah kembali mengungkit luka lama
"Sudah nak tak usah merasa bersalah, semua sudah menjadi masalalu, kecelakaan itu adalah sebuah sabotase dari orang yang mencari keuntungan, semua sudah direncanakan olah seseorang untuk membunuh anakku dan hebatnya semua barang bukti sangat sulit kami dapat, bahkan jasad mantu dan anak saya sudah tidak utuh nak saat di evakuasi"
"Astagfirullah hal adzim" Sarah yang sangat memiliki hati yang lembut seketika langsung menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangan dan tak kuasa air matanya terjatuh
"Maafkan saya pak" ucap Sarah
"Kamu tidak salah apa-apa nak" jawab pak wiranto
"Inilah dunia bisnis nak, segala cara akan dilakukan bagi orang-orang yang serakah untuk menjatuhkan lawannya" Ucap Pak Wiranto
"Saya sekarang hanya memiliki Rangga, cucu semata wayang saya, sebisa mungkin saya akan melindungi Rangga, makanya saya membawa rangga tinggal didaerah ini, jauh dari kota" ucap Pak Wiranto
"Iya bapak yang kuat ya Pak, Bapak harus selalu sehat" Ucap Sarah sambil senyum melihatkan gigi cantiknya
"Ia nak terimakasih" jawab pak Wiranto sambil membalas dengan senyuman.
Sarah masih terus membayangkan peristiwa yang menimpa orang tua Rangga, dia tidak bisa membayangkan jika itu semua menimpa Syakila, Air matanya terus bercucuran didalam kamar, ia masih heran manusia sepeti apa yang tega melakukan hal yang sangat keji.
****