
...🍃Happy Reading🍃...
Sebulan sudah Ayana berada di Surabaya. Besok lusa mereka akan kembali ke Bandung. Semua urusannya di Bandung sudah selesai, toko roti miliknya akan dipegang oleh Fabio.
"Kalian jangan lupa sering-sering mengunjungi kami !" pinta Ibu Shita pada Ayana dan Gama.
"Tentu saja tidak Ibu" jawab Ayana.
"Ibu juga sering-sering ke Bandung !" balas Gama, "siapa tahu jodoh Fabio orang Bandung" candanya menggoda Fabio.
"Nggak usah bawa-bawa jodohku. Nanti juga kalau sudah waktunya pasti kami dipertemukan" celetuk Fabio.
"Kamu bukan wanita yang menunggu jodoh datang melamarmu. Kamu itu pria, seorang pria harus berani berkelana mencari cinta sejatinya" balas Gama.
"Aku sudah menemukannya tapi kamu malah merebutnya" balas Fabio kesal.
"Itu artinya Ayana bukan jodohmu" ketus Gama.
"Aiss... Kalian ini jika bertemu selalu memperdebatkan masalah seperti ini" tegur Ayana.
"Suami kamu yang mulai duluan" balas Fabio.
"Sudah ! Sudah !" Tegur Ibu Shita, "Sepulang dari sini kalian langsung lanjut honeymoon ?" lanjut Ibu Shita bertanya.
"Tidak Bu, kami tunggu acara pernikahan Mona dan Angga setelah itu baru berangkat" jawab Ayana sedikit malu-malu.
"Oh iya, Mona akan menikah minggu depan, sayang sekali aku tidak bisa ikut karena kehamilaku sudah masuk delapan bulan" ucap Dira sedih.
"Tidak masalah, Mona pasti mengerti kok" balas Ayana tersenyum pada sahabatnya.
"Ya, kirim doa saja semoga mereka bahagia setelah menikah" sambung Gama.
Mereka melanjutkan obrolan mereka. Pukul sepuluh malam Gama dan Ayana memutuskan untuk pulang.
Dua hari kemudian, Ayana, Gama dan Zayyan sudah berada di bandara. Mereka diantar oleh Fabio, Dira dan Ibu Shita.
"Semoga kalian selamat hingga tujuan" doa Ibu Shita.
"Aamiin" ucap Ayana dan Gama.
"Bio, aku tutup toko ya" ucap Ayana.
"Sip" balas Fabio.
"Maaf ya Dira aku tidak bisa menunggu hingga kamu lahiran" ucap Ayana memeluk tubuh sahabatnya.
"Tidak apa-apa" balas Dira membalas pelukan Ayana.
"Kalau begitu kami pamit ya" celetuk Gama.
🍃
Pernikahan Angga dan Mona tinggal menghitung hari lagi. Semakin dekat hari H pernikahan mereka, Angga semakin cemas.
Hatinya tidak tenang karena belum jujur pada Mona. Dirinya saat ini dilanda kebingungan.
"Apa yang harus aku lakukan ?" tanyanya pada diri sendiri.
Angga terdiam, batinnya sedang berperan dengan pikirannya. Cukup lama ia diserang rasa bimbang. Akhirnya Angga memutuskan untuk berkata jujur pada Mona. Ia siap menerima konsekuensi dari perbuatannya di masa lalu.
Angga mengirim pesan pada Mona untuk bertemu nanti malam.
🍃
Ayana baru saja tiba di bandara, mereka dijemput oleh Lucas.
"Mengapa akhir-akhir ini kamu sangat sulit untuk diajak bertemu ?" tanya Gama pada sahabatnya.
"Bagaimana kita mau bertemu jika kamu baru saja tiba disini ?" balas Lucas.
"Ah benar juga" jawab Gama, "tapi memang akhir-akhir ini kamu jarang memberikan kabar" lanjut Gama.
"Aku sedang dalam masalah" jawab Lucas lesu.
"Masalah apa ? Apa kamu menghamili ****** mu ?" tanya Gama.
"Iya, aku memang menghamili seorang wanita tapi wanita itu bukan ****** ku" jawab Lucas.
"Apa ?" pekik Gama terkejut.
Lucas menghela nafasnya dengan kasar, "sudahlah sebaiknya kita segera masuk mobil. Aku tidak ingin membahasnya lagi" ucap Lucas.
"Aku doakan semoga masalahmu cepat selesai" ucap Gama.
Mereka akhirnya masuk ke mobil Lucas. Zayyan duduk di kursi penumpang bagian depan. Sementara Ayana dan Gama duduk berdua di belakang.
"Lucas, kamu sudah tahu kemana tujuan kita ?" tanya Gama pada Lucas.
"Iya, tadi pagi aku sudah mendengar ceramah orang tua kamu" jawab Lucas.
"Bagus, langsung kesana saja !" perintah Gama.
Mobil itu pun melaju dengan kecepatan sedang. Ayana memperhatikan jalanan yang mereka lalui.
"Memang bukan sayang" jawab Gama.
"Lalu kita mau kemana ?" tanya Ayana penasaran.
"Kita akan pulang ke rumah" jawab Gama.
Ayana malah tambah bingung saat mendengar jawaban suaminya.
"Sudah sayang, kamu tidur saja ! Nanti saat kita sampai aku akan membangunkan kamu" lanjut Gama.
Pria itu menarik kepala istrinya dengan lembut, ia menyandarkan kepala Ayana di dadanya. Tangannya mengelus lembut pucuk kepala Ayana agar wanita itu tertidur. Tak butuh waktu lama, Ayana benar-benar tertidur pulas.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di sebuah rumah baru. Rumah yang Gama beli sebelum mereka menikah.
"Sayang, kita sudah sampai" ucap Gama membangunkan istrinya dengan lembut.
Tak lama tubuh Ayana menggeliat. Wanita itu membuka matanya dengan pelan.
"Kita sudah sampai ?" tanyanya.
"Iya, kita sudah sampai di rumah baru kita" jawab Gama.
Ayana kemudian melihat ke luar mobil, benar saja mereka sedang berada di rumah yang asing bagi Ayana.
"Ini rumah siapa ?"
"Kan aku sudah bilang, ini rumah baru kita" jawab Gama.
"Benarkah ?" tanya Ayana masih belum percaya.
"Iya. Jadi rumah ini sebenarnya sudah aku persiapkan sebelum kita menikah. Tapi baru hati ini kita bisa pindah kesini karena rumahnya baru saja selesai renovasi" jelas Gama.
"Ayo kita turun !" ajaknya pada Ayana.
Ayana pun turun dari mobil, matanya menatap rumah baru di hadapannya. Ia tidak menyangka jika Gama telah menyiapkan rumah baru untuk keluarga kecil mereka.
"Kamu suka ?" tanya Gama saat melihat Ayana terdiam.
"Iya, aku sangat suka" jawab Ayana, "terima kasih telah memberikan yang terbaik untuk kami" ucap Ayana sambil memeluk tubuh suaminya.
"Sama-sama sayang" balas Gama.
"Zayyan, Papa dan Mama kamu memang tidak lihat waktu dan tempat jika ingin bermesraan" kesal Lucas.
"Iri saja kamu" celetuk Gama.
Akhirnya sepasang suami istri itu melepaskan pelukannya. Mereka kini masuk ke dalam rumah baru tersebut.
"Furniturnya belum lengkap, aku sengaja belum mengisi semua ruangan ini karena ingin kamu yang menyesuaikan dengan keinginan kamu" jelas Gama.
"Tidak masalah, nanti kita bisa cari perabotan rumah tangga sama-sama" balas Ayana.
"Mau keliling-keliling ?" tanya Gama.
"Boleh. Zayyan mau ikut Mama dan Papa tidak ?" tanya Ayana pada putranya.
"Zayyan bareng Om Lucas saja" jawab Zayyan.
Akhirnya Gama dan Ayana keliling rumah berdua. Tangan keduanya saling bertautan. Sesekali Gama menarik tangan Ayana dan mengecupnya lembut.
"Bagaimana, kamu suka ?" tanya Gama.
Saat ini mereka berada di pekarangan belakang rumah.
"Siapa yang menanam bunga-bunga ini ?" tanya Ayana ketika melihat taman bunga mawar putih dan merah.
"Bunda" jawab Gama.
"Cantik sekali" ucap Ayana.
"Sayang, kita duduk di paviliun sana !"
Gama menuntun istrinya berjalan ke sebuah paviliun yang berada di dekat taman bunga mawar tersebut.
"Nyaman sekali" ucap Ayana.
Gama tersenyum saat mendengar ucapan istrinya. Tangannya terulur untuk merapikan anak rambut Ayana yang berantakan. Lama kelamaan tangannya mulai turun meraba pipi istrinya dengan lembut.
"Sayang, aku sangat bahagia bisa menikah denganmu" ucap Gama.
Ayana menatap suaminya, ia tersenyum Setya berkata, "aku juga bahagia bisa hidup berdampingan denganmu, Hubby"
Pasangan suami istri itu saling menatap. Semakin lama tatapan mereka semakin dalam, Gama juga semakin mengikis jarak antara wajahnya dengan wajah Ayana.
Dan entah siapa yang memulai, kedua bibirnya mereka sudah saling menyesap satu sama lain. Mereka larut dalam ciuman penuh cinta sehingga tidak sadar Lucas dan Zayyan memergoki mereka.
"Zayyan tutup mata kamu !" pintanya sambil menutup kedua mata Zayyan dengan tangannya.
"Dasar pasangan nggak tahu malu" umpat Lucas sebelum meninggalkan Ayana dan Gama yang sedang bercumbu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...