
...🍃Happy Reading🍃...
Di sebuah taman, seorang anak laki-laki sedang bermain bersama ibunya. Mereka tertawa riang saat mereka saling mengejar.
Dari kejauhan seorang pria memandang pemandangan indah itu. Ia tersenyum melihat kebahagiaan mereka.
Tapi tiba-tiba saja anak laki-laki itu menatap ke arahnya, anak laki-laki itu lalu berlari dan memeluk lututnya.
"Papa" ucap anak laki-laki itu.
*Deg*
Pria dewasa itu merasakan sebuah getaran di hatinya saat mendengar anak kecil itu memanggilnya 'Papa'
Ia lalu menatap wajah anak laki-laki itu dan betapa terkejutnya ia saat melihat wajah mereka sangat persis.
"Ka-kamu si-apa ?" tanyanya terbata.
"Aku anakmu Pa" jawab anak kecil itu.
Tak lama seorang wanita menghampiri mereka dan menarik tangan anak kecil itu pergi. Tanpa sepatah kata mereka meninggalkan pria dewasa itu yang kebingungan.
Sebelum wanita itu benar-benar menghilang, wanita itu sempat berbalik dan melempar senyum manisnya.
"Ayana..." guman pria dewasa itu saat melihat wajah wanita tersebut.
Dengan langkah yang lebar ia mengejar wanita itu serta anak laki-laki tersebut. Namun sayangnya mereka sudah tidak ada.
Pria dewasa itu lalu berteriak memanggil nama Ayana. Namun sayang seribu sayang, wanita itu tidak muncul lagi.
"Ayana... Ayana... Ayana..."
Gama memanggil nama Ayana dalam keadaan mata yang masih terpejam. Keringat kecil mulai membasahi keningnya. Tak lama pria itu pun tersadar dari mimpinya.
"Ayana..." Teriaknya begitu panjang.
Gama terbangun dengan posisi yang sudah duduk, dadanya mulai naik turun karena bernafas dengan tersengal-sengal. Sadar bahwa itu hanya mimpi, Gama lalu mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Semoga kamu baik-baik saja sayang" ucapnya lirih. Tanpa ia sadari air matanya jatuh membasahi pipinya.
🍃
Pagi menjelang siang hari, sang nenek tiba bersama seorang bidan desa. Ya, tadi saat pagi-pagi buta sang nenek memutuskan untuk ke pemukiman mencari bantuan atau Bidan bersalin. Untungnya sang nenek bisa langsung bertemu dengan sang Bidan.
Setelah Bidan tersebut membersihkan dan mengecek kondisi Ayana dan bayinya, Bidan itu lalu pamit untuk kembali bertugas.
Ayana mendapatkan tujuh jahitan di bagian inti tubuhnya. Untungnya Ayana tidak mengalami pendarahan sehingga kondisinya bisa dikatakan baik-baik saja.
"Cicit Nenek tampan sekali" puji sang Nenek.
Sang Nenek tersenyum melihat wajah anak Ayana, tiba-tiba ia teringat dengan seseorang sehingga membuatnya merasa rindu.
'Mengapa wajahnya mirip sekali ?' batinnya.
"Nek, Ayana mau memangkunya" ucap Ayana.
Sang Nenek lalu membawa bayi mungil itu ke pangkuan Ayana.
"Tampan sekali" ucap Ayana terharu.
"Iya, cicit Nenek yang tampan ini sudah mempunyai nama ?" tanya sang Nenek.
Ayana tersenyum lalu berkata, "Zayyan Arkana"
"Nama yang sangat bagus"
Ayana tersenyum kala sang Nenek memuji nama putranya.
Tak lama sang bayi pun mulai menangis membuat Ayana bingung. Ia tidak pernah menghadapi seorang bayi yang menangis seperti ini.
"Sepertinya cicit Nenek haus, coba kamu berikan dia asi !"
Ayana meletakkan bayinya di sampingnya dengan beralaskan sarung batik. Air matanya tiba-tiba mengalir saat melihat putranya hanya menggunakan sarung sebagai pengalas. Semua tidak seperti yang pernah ia bayangkan dulu.
Ia pernah memimpikan sebuah rumah tangga bahagia, memiliki anak-anak yang cantik dan tampan bersama orang yang ia cintai. Ia juga berjanji pada dirinya sendiri jika anaknya tidak akan ia biarkan kekurangan apapun, tapi sepertinya rencana Tuhan berbeda.
Namun meskipun begitu, Ayana bersyukur karena bayinya lahir dengan selamat. Ayana bertekad untuk kembali ke kota setelah kondisi putranya sudah memungkinkan untuk melakukan perjalan jauh. Ia akan mencari pekerjaan di kota dan untuk membiayai hidupnya dengan keluarga kecilnya.
🍃
Sebuah mobil baru saja parkir di depan rumah Omah. Papa Hartono dan Mama Lisa untuk pertama kalinya kembali setelah menitipkan Ayana pada sang Ibu. Mereka ingin melepas rindu pada Ayana dan Omah, mereka juga sudah mengambil cuti untuk menantikan kelahiran cucu pertama mereka.
Tapi sayangnya...
"Ayana tidak ada disini" ucap Omah.
"APA ???" Keduanya dibuat terkejut.
"Ayana telah diusir oleh warga saat mereka tahu Ayana sedang hamil di luar nikah" jelas Omah.
Tubuh Mama Lisa tiba-tiba luruh di atas lantai. Sementara Papa Hartono menatap Omah dan bertanya.
"Apa peraturan itu masih berlaku ?"
"Peraturan itu akan berlaku seumur hidup. Setia wanita yang hamil di luar nikah akan diusir dari kampung ini karena dianggap memperburuk nama baik desa" jelas Omah.
"Lalu kenapa Ibu tidak bilang pada kami ?" tanya Papa Hartono kecewa.
"Waktu itu Ibu takut Ayana berpikir jika Ibu menolaknya, Ibu akui Ibu memang salah. Tapi kamu juga ikut bersalah karena membawa Ayana kemari. Seharusnya kamu membawa Ayana ke luar negri saja waktu itu !"
"Tapi seharusnya Ibu mengatakan jika Ayana sudah diusir dari desa ini !"
"Ayana meminta Ibu untuk tidak mengabari kalian"
"Dan ibu setuju ?"
Omah mengangguk pelan. Papa Hartono memijit pangkal hidungnya karena merasa pusing. Sementara Mama Lisa sudah terisak memikirkan nasib putri dan cucunya.
"Bagaimana kita akan menemukan Ayana ?" tanya Papa Hartono frustasi.
🍃
Di tempat lain, seorang pria paruh baya tampak begitu kesal saat para anak buahnya belum juga mendapatkan informasi tentang dimana ibunya berada.
"Dasar tidak becus !!!" Pekiknya, "keluar kalian !" lanjutnya mengusir para anak buahnya.
"Yah, tenang !!!" ucap sang istri mengelus dada suaminya.
"Bagaimana aku bisa tenang jika ibuku sampai saat ini belum ketemu ? Semua salahmu yang menitipkan ibu di panti jompo" bentak sang suami pada istrinya.
"Kenapa Ayah hanya menyalahkan Bunda ? Ayah juga ikut andil dalam kasus ini" balas sang istri dengan suara yang tidak kalah tinggi dari suaminya.
"Iya, tapi jika dulu kamu bisa akur dengan Ibu maka semuanya tidak akan terjadi"
"Kamu lupa jika Ibumu dulu menindasku ? Bahkan terang-terangan ingin menyingkirkan anak kita ? Lalu setelah anak kita lahir Ibumu tidak mengakuinya sebagai cucunya. Bagaiman aku bisa terima perlakuan ibumu itu ?"
Kedua pasangan suami istri itu saling menatap tajam. Mereka sama-sama sedang dalam emosi yang memuncak.
"Sebaiknya kamu kembali ke kamar !" pinta sang suami setelah bisa mengontrol emosinya.
Sang istri pun segera meninggalkan ruangan kerja suaminya dan menutup pintu dengan cara membanting. Pria paruh baya itu pun berusaha menahan emosinya setelah melihat kelakuan istrinya.
Seketika rasa penyesalan kembali menghantuinya, seharusnya sebagai seorang anak dan sebagai kepala rumah tangga ia bisa membuat ibu dan istrinya berbaikan. Tapi ia gagal menjadi putra yang berbakti, ia gagal menjadi suami yang yang mengayomi.
"Semua memang salahku" ucapnya lirih.
"Ya Tuhan, ampunkan segala dosaku pada diri-Mu dan ibuku. Aku mohon berikan kesempatan untukku bertemu dengan ibuku jika beliau masih hidup, dan jika beliau sudah kembali ke sisi-Mu maka berikan aku kesempatan untuk mengunjungi peristirahatan terakhirnya" doa dalam isak tangisnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini Sa baik hati dan tidak sombong jadi Sa up double 🤗🤣