Young Mommy

Young Mommy
Part 61



...🍃Happy Reading🍃...


"Jadi kita kemana lagi ?" tanya Gama setelah mereka selesai makan siang.


"Langsung pulang saja !" jawab Ayana.


"Tidak mau jalan lagi ?" tanya Gama.


"Tidak. Kakiku sangat lelah setelah mengikuti kalian. Aku sangat menyesal mengiyakan ajakan kalian" ketus Ayana. Ia masih kesal saat mengingat kejadian tadi, dimana dirinya berjalan sendirian dan diabaikan oleh Gama dan Zayyan.


"Ya sudah kita pulang. Nanti aku pijit kamu" goda Gama yang berhasil memancing kekesalan Ayana.


*Bugh*. Ayana memukul pundak Gama hingga pria itu meringis kesakitan.


"Ternyata benar kata Lucas, kamu sudah berubah jadi monster cantik" ledek Gama semakin membuat Ayana naik pitam.


"Apa katamu ? Hah ?" pekik Ayana yang tidak sadar jika mereka masih berada di restoran.


"Coba katakan sekali lagi !" lanjut Ayana sambil menarik telinga Gama.


"Aduh... Aduh... Sakit sayang..."


Gama meringis sambil memegang telinganya yang dijewer Ayana. Meski begitu, Ayana tetap tidak peduli. Hingga datang seseorang membuat Ayana melepaskan telinga Gama.


"Hentikan Ayana !" pinta wanita paruh baya itu.


*DEG*.


Jantung Ayana seolah berhenti berdetak ketika melihat siapa yang menegurnya. Tubuhnya mendadak gemetar saat tahu jika warna paruh baya itu adalah Bunda Mila, wanita yang pernah menolak anak darinya.


Gama juga terkejut saat mendengar suara sang Bunda.


"Bu-nda..." ucap Gama. "Kenapa Bunda disini ?" lanjut Gama bertanya.


"Bunda dan Ayah sedang makan disini" jawab Bunda Mila.


Tatapan wanita paruh baya itu tidak lepas dari wajah Ayana. Ia melihat jika wanita itu menyimpan rasa takut dan amarah melalu sorot mata Ayana.


Sementara Zayyan segera mendekat pada Ayana. Ia memeluk erat tubuh sang Mama. Entah mengapa Zayyan merasa takut melihat wanita paruh baya itu.


Ayana pun membalas pelukan putranya dengan erat, ia takut jika orang tua Gama menyakiti putranya. Mengingat beberapa tahun lalu mereka meminta Ayana membunuh calon bayinya sendiri.


Tak lama Ayah Budianto juga menghampiri meja mereka. Zayyan semakin mengeratkan pelukannya, bahkan pria mungil itu menyembunyikan wajahnya di punggung sang Mama.


Atensi Gama dan kedua orang tuanya kini tertuju pada Zayyan. Gama mendekati putranya dan bertanya.


"Zayyan ada apa ?"


Namun Zayyan enggan menjawab. Gama bersandar kembali di kursinya lalu menatap kedua orang tuanya.


"Kenapa kalian malah kemari ?" tanya Gama datar.


"Ka-kami... Ingin-"


"Jangan harap kalian bisa menyentuh putraku, apalagi untuk menyakitinya. Bahkan seujung kuku pun aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi" potong Ayana cepat walau dengan suara yang bergetar.


Sorot matanya dapat menjelaskan perasaannya saat ini.


Mendengar ucapan Ayana membuat Bunda Mila menggeleng pelan. Mereka tidak memiliki niat untuk menyakiti cucunya sendiri, mereka hany ingin menyapa darah daging dari putranya.


Gama jelas tahu jika Ayana pasti merasa ketakutan dan marah. Ia mencoba menggenggam tangan Ayana yang saat ini sudah berkeringat dingin.


"Sebaiknya Bunda dan Ayah pergi dari sini !" pinta Gama mengusir orang tuanya. Ia tidak ingin Ayana merasa tidak nyaman karena kehadiran orang tuanya. Terlebih saat melihat putranya yang sepertinya ketakutan.


"Gama kami hanya ingin mengatakan sesuatu dengan Ayana. Biarkan kami berbicara dengannya walau sebentar" pinta Ayah Budianto.


Mendengar penolakan dari putranya membuat Ayah Budianto dan Bunda Mila merasa sedih.


"Tapi Gama, kami-"


"Sekali Gama bilang tidak tetap tidak" potong Gama dengan tegas.


Zayyan yang tadinya bersembunyi di punggung Ayana kini mencoba menatap Gama.


"Om... Zayyan takut" ucap Zayyan lirih.


Mendengar hal itu membuat Gama tidak tega. Ia segera menarik Zayyan dan menggendongnya. Sementara satu tangannya menarik lembut tangan Ayana. Ia berdiri lalu berkata.


"Setelah ini, jangan pernah berniat untuk menemui mereka !"


Setelah itu Gama meninggalkan kedua orang tuanya yang mematung.


"Tenanglah sayang. Semua akan baik-baik saja ! Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun mengusik kalian, termasuk orang tuaku sekalipun" bisik Gama mencoba menenangkan Ayana. Bahkan tangan yang tadinya menggenggam tangan Ayana kini berada di pundak wanita itu. Ia merangkul Ayana berjalan menuju mobilnya.


Sementara Bunda Mila kini terduduk lemas. Dadanya merasa sesak kala mendengar penolakan putranya. Bayangan ketika ia melakukan hal yang sama dengan ibu mertuanya kini berputar-putar di kepalanya.


Sama halnya dengan Ayah Budianto yang kini merasa menyesal dan marasa bersalah telah berlaku jahat pada Ibunya dan juga wanita yang telah melahirkan cucunya.


🍃


Setelah kejadian kemarin, Gama tidak pernah kembali lagi ke rumahnya. Bahkan saat sang Ayah ingin bertemu dengannya di perusahaan, secara terang-terangan ia menolak bertemu dengan Ayah Budianto.


Kemunculan orang tua Gama kemarin membuat hubungannya dengan Zayyan dan Ayana mejadi dingin kembali.


Bahkan semalam Zayyan tidak pernah mengajaknya lagi bicara. Begitu juga dengan Ayana yang semakin cuek padanya.


Meski begitu, Gama akan tetap membuat kedua orang tersayangnya itu kembali luluh padanya. Meskipun ia harus berjuang keras lagi.


Setelah dua hari ini, Gama tidak bisa bertemu dengan Zayyan dan Ayana. Saat Gama berkunjung ke kediaman Papa Hartono, Zayyan dan Ayana mengurung diri di kamar.


Gama hanya bisa mengembuskan nafas dengan kasar karena hubungan mereka kembali berjarak.


"Maafkan kami Gama, Om dan Tante tidak bisa membujuk Ayana dan Zayyan bertemu denganmu" ucap Papa Hartono.


"Benar Nak, kami minta maaf" sambung Mama Lisa.


"Tidak apa-apa Tante, Om. Gama mengerti" jawab Gama berusaha tersenyum.


Mama dan Papa Ayana saling memandang. Ia tidak tahu permasalahan apa yang membuat Ayana dan Zayyan tidak ingin bertemu Gama.


"Kalau boleh tahu, memangnya apa permasalahan kalian ?" tanya Papa Hartono pada Gama.


Gama terdiam sejenak, ia menarik nafas panjang sebelum menceritakan kejadian yang ia alami tiga hari yang lalu.


"Wajar jika Ayana merasa takut dan khawatir jika sewaktu-waktu kedua orang tuamu menyakiti Zayyan. Mengingat mereka pernah dengan tegas menolak Zayyan, bahkan meminta Ayana membunuh calon anaknya sendiri. Meskipun kita tahu, jika bukan hanya mereka saja yang dulunya tidak menginginkan Zayyan. Kamu, dan bahkan kami sebagai orang tua Ayana dengan tega memintanya mengugurkan kandungannya. Pasti semua ini berat bagi Ayana untuk berdamai dengan masa lalunya" ucap Papa Hartono setelah mendengar cerita Gama.


Gama pun membenarkan ucapan Papa Hartono. Ia bahkan tidak bisa membayangkan betapa hancurnya Ayana kala itu. Bukan hanya keluarga mereka yang menolak kehamilan Ayana. Tapi orang-orang disekitarnya juga mencemooh Ayana karena hamil diluar nikah. Bahkan Ayana tidak bisa menyelesaikan sekolahnya dan mengejar impiannya.


"Berikan waktu untuk mereka. Om yakin, suatu saat nanti kalian bisa bersatu, meskipun mungkin sedikit sulit" lanjut Papa Hartono mencoba menguatkan Gama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Halo sayang²ku 😘 sambil nungguin Novel ini Up, ini Sa kasih rekomendasi novel bagus untuk kalian 🤗 jangan lupa mampir ya 🤩



Judul : Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas


Author : Alinatasya21