
...🍃Happy Reading🍃...
Saat ini Ayana dan Zayyan sedang duduk di bibir pantai. Ayana menatap putranya yang sedang asik menggambar di pasir.
"Apa Zayyan tidak suka jika Om Gama adalah Papa ?" tanya Ayana pada putranya.
"Suka" jawab Zayyan jujur.
"Lalu kenapa Zayyan terdiam saat Om Gama mengatakan jika dia adalah Papa kandung Zayyan ?" tanya Ayana mulai bingung dengan putranya.
"Zayyan hanya mengerjai Papa. Siapa suruh tidak mengatakan dari awal" jelas Zayyan dengan wajah cemberut.
Sebenarnya pria kecil itu marah pada Gama karena tidak jujur dari awal. Seharusnya sebelum mereka pulang dari Bandung, Gama sudah berkata jujur pada Zayyan.
Saat mereka kembali ke Surabaya, Zayyan selalu berharap jika Gama menemuinya dan mengatakan jika dirinya adalah Papa kandung Zayyan. Tapi pria itu begitu lama datang, itupun tidak langsung mengatakan kebenarannya.
"Itu karena Papa memiliki alasan sayang" jawab Ayana sambil mengelus lembut pucuk kepala putranya.
Ayana merasa lega karena Zayyan bisa menerima kenyataan jika Gama adalah Papa kandungnya.
"Apapun alasannya, tetap saja Papa sudah tidak jujur pada Zayyan. Mama juga, harusnya dari awal Mama mengatakan jika Om Gama adalah Papa !" Kini Zayyan juga mengalahkan Ayana karena tidak jujur dari awal.
"Mama ingat ketika kita jalan-jalan ke Zoo ?" tanya Zayyan.
"Iya, memangnya kenapa ?"
"Saat itu Zayyan sudah tahu jika Om Gama adalah Papa" jawab Zayyan.
Ayana menatap tidak percaya sekaligus terkejut mendengar jawaban putranya.
"Zayyan sudah tahu jika Om Gama adalah Papa ?"
"Iya, Zayyan tahu dari Omah dan Nenek Rukmini" jawab Zayyan.
Seketika Ayana semakin bersalah pada putranya karena tidak jujur dari awal.
"Maafkan Mama dan Papa ya sayang !" ucapnya seraya merengkuh tubuh mungil putranya.
Zayyan membalas pelukan sang Mama dengan erat.
"Mama kita kerjain Papa ya" pinta Zayyan pada sang Mama.
Ayana mengangguk, ia terkekeh dengan kejailan putranya. Entah siapa yang mengajari putranya cara nge-prank.
Dari kejauhan Gama melihat Ayana sedang memeluk tubuh putranya. Ia berharap semoga saja Ayana bisa meluluhkan hati Zayyan.
Gama mulai gelisah karena Ayana dan Zayyan masih betah berduaan.
"Apa begitu sulit membuat Zayyan menerimaku ? Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan ?" gumannya.
Tak lama ia melihat Ayana dan Zayyan mulai main air. Kedua orang itu terlihat kejar-kejaran dengan ombak kecil.
Gama tersenyum kala melihat Zayyan dan Ayana tertawa bahagia. Rasanya ia ingin bergabung dengan kedua orang tersayangnya itu.
Pria itu kemudian mendekati Ayana dan Zayyan. Sontak keduanya menghentikan aktifitasnya tatkala melihat Gama menghampiri mereka.
"Papa boleh ikut ?" tanya Gama.
Zayyan dan Ayana saling melirik, lalu keduanya kembali saling mengejar dan tertawa riang. Mereka mengabaikan Gama yang berdiri, Gama merasa sedih saat diabaikan oleh kedua orang tersayangnya.
Cukup lama mereka bermain air dan bermain istana pasir. Gama hanya bisa menjadi penonton.
"Hahaha... Sudah ya sayang, Mama capek !" Ayana berbaring di bibir pantai.
Zayyan juga ikut berbaring dengan sang Mama. Keduanya masih tertawa, sebenarnya mereka tertawa bukan hanya karena senang bermain. Tapi juga senang melihat wajah kusut Gama.
"Sudah ya sayang, kasihan Papa sedih seperti itu" bisik Ayana pada putranya.
Zayyan tersenyum lalu berdiri menghampiri Gama.
"Papa, ayo main sama-sama ! Mama sudah capek, Zayyan nggak ada teman main" teriak Zayyan seraya berlari.
DEG.
Hati Gama bergetar kala mendengar Zayyan memanggilnya Papa. Ia menatap putranya tidak percaya.
"Apa Zayyan sudah menerimaku sebagai Papanya ?" gumannya.
"Papa, ayo !" Zayyan menarik tangan Gama yang masih duduk mematung.
"Sayang, kamu tidak marah lagi sama Papa ?" tanya Gama.
"Maaf sayang, maafkan Papa" ucap Gama sambil merengkuh tubuh putranya.
Pria itu menangis terharu karena putranya telah menerimanya sebagai Papa.
"Papa jangan menangis !" Zayyan menjauhkan tubuhnya lalu menghapus air mata Gama.
Gama tersenyum seraya berkata, "Papa menangis karena bahagia" balas Gama.
"Papa bahagia karena Zayyan mau menerima Papa. Terima kasih sayang" lanjutnya kembali memeluk tubuh putranya.
Zayyan juga membalas pelukan Gama. Setelah puas saling memeluk, Zayyan dan Gama menghampiri Ayana.
"Katakan pada Papa siapa yang mengajari kamu untuk mengerjai Papa ?" tanya Gama.
Ayana merubah posisinya menjadi duduk saat Zayyan dan Gama sudah duduk di sampingnya.
"Itu ide Zayyan sendiri Pa" jawab Zayyan.
"Benarkah ?" tanya Gama, Zayyan mengangguk bangga, "Ternyata anak Papa sangat jail ya. Papa akan memberikan hukuman" lanjutnya tersenyum menyeringai.
Pria itu mendekati putranya lalu menggelitik perutnya. Hal itu tentu membuat Zayyan tertawa. Pria kecil itu mulai berguling-guling karena merasa kegelian.
"Mama, bantu Zayyan !" Teriak Zayyan disela tawanya.
Ayana terkekeh melihat Zayyan dan Gama.
"Gama, sudah ! Kasihan Zayyan, nanti perutnya sakit karena terlalu banyak ketawa" ucap Ayana.
Gama menghentikan aksinya, ia lalu membantu Zayyan berdiri. Gama membantu Zayyan membersihkan pasir di tubuhnya.
"Sekarang kita gelitikin Mama !" bisik Gama.
Zayyan mengangguk setuju. Ayana melihat Gama dan Zayyan tersenyum menyeringai mulai merasakan sesuatu yang tidak enak.
"Gelitik Mama sekarang !" Teriak Zayyan.
Sontak Ayana berdiri dan berlari menjauhi kedua pria yang berbeda generasi itu.
"Kejar Mama !" teriak Gama.
Mereka mengejar Ayana, sementara Ayana berteriak agar mereka tidak melakukan hal itu padanya.
"Jangan Mama dong !" Teriaknya tetao berlari menghindari Gama dan Zayyan.
Gama dan Zayyan tertawa melihat sang Mama berlari. Mereka tidak akan menghentikan aksinya sebelum membuat Ayana tertawa kegelian.
GRAP...
Gama berhasil menangkap tubuh Ayana. Wanita itu tersu meronta-ronta agar Gama melepaskannya.
"Gama, aku mohon jangan lakukan itu padaku !" pintanya.
Namun Gama dan Zayyan tidak memperdulikan rengekan Ayana.
"Zayyan, ayo gelitikin Mama !"
Zayyan melakukan perintah sang Papa. Gama mengeratkan pelukannya agar Ayana tidak kabur.
"Zayyan, sudah... Hahaha... Perut Mama... Sudah sakit... Hahah" ucapnya masih tertawa.
"Jangan hentikan Zayyan sebelum Mama bilang sayang pada Papa dan Zayyan !" pinta Gama.
"Baik Papa" Zayyan kembali menggelitik perut Ayana hingga wanita itu tertawa.
"Sudah ya sayang-sayangnya Mama ! Mama benar-benar capek" rengek Ayana yang mulai ngos-ngosan.
Gama meminta Zayyan menghentikan aksinya. Pria itu mengambil kesempatan untuk mengecup pipi Ayana sebelum melepaskan pelukannya.
"Dasar, pria yang tidak mau rugi" gerutu Ayana.
"Tapi kamu suka kan ?" goda Gama sehingga membuat wajah Ayana bersemu merah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
sudah ya 😁 capek jempolnya ngetik 🤧
sawer kembang dong 🥺