Young Mommy

Young Mommy
Part 109



...🍃Happy Reading🍃...


Tiba di ruangan Dokter Obgyn, mereka duduk di hadapan sang Dokter.


"Ada yang bisa saya bantu Bapak dan Ibu ?" tanya sang Dokter.


"Emm.... Begini Dok, kami datang kemari ingin memastikan kondisi calon bayi kami" jawab Gama.


"Oh, ibu sedang hamil ya ? Sudah testpack ?" tanya sang Dokter.


"Sudah Dok, dan hasilnya positif" jawab Gama lagi.


"Ya sudah, kalau begitu kita coba lakukan USG, silahkan Ibu berbaring di atas brankar !"


Ayana berjalan ke arah brankar lalu membaringkan tubuhnya dengan pelan.


"Maaf ya, bajunya saya singkap sedikit" ujar sang Dokter.


"Silahkan Dok" balas Ayana.


Dokternya itu pun menyingkap baju Ayana hingga di bawah dadanya. Dokter lalu mengoleskan gel di perutnya.


Sementara Gama berdiri tepat di samping kepala sang istri. Ia terus mengelus kepala Ayana.


Meskipun ini hanyalah sebuah pemeriksaan, tapi Gama merasa deg-degan.


"Silahkan lihat monitor disana !"


Gama dan Ayana melihat ke arah monitor. Mereka masih melihat monitor yang hitam. Tak lama mereka melihat janin mereka.


"Sayang itu anak kita" ucap Gama dengan perasaan terharu.


"Ukuran janinnya sudah sebesar buah apel. Sistem saraf dan juga organ-organ utamanya mulai terbentuk" jelas sang Dokter.


"Kenapa sebesar apel Dok ? Kami baru honeymoon beberapa hari yang lalu" tanya Ayana bingung.


Sang Dokter pun tersenyum mendengar pertanyaan Ayana, "kapan ibu terakhir kali haid ?" tanya sang Dokter.


Ayana tampak berpikir, tapi sayangnya ia tidak ingat kapan terakhir kali ia haid.


"Sepertinya Ibu hamil sebelum berangkat honeymoon. Umur janin ibu sudah 5 Minggu" jelas sang Dokter.


Ayana membulatkan matanya. Seandainya ia tahu ia sudah hamil, pasti ia tidak akan pergi honeymoon lagi.


"Yang benar Dok ?" tanya Ayana.


Dokter itu pun mengangguk sambil tersenyum. Ayana menatap suaminya yang tersenyum lebar.


"Punyaku masih topcer" ucap Gama tanpa rasa malu sama sekali.


🍃


Saat ini Dira sedang berada di kafe bersama Aaron dan Freya. Ya, Freya juga ikut dengan alasan bosan makan di kantin rumah sakit.


Kini ketiga orang itu terlihat saling diam menunggu makana yang mereka pesan.


Sebenarnya Dira keberatan Freya ikut, bukan karena rasa cemburu tapi ia tidak bisa berbicara dengan Aaron mengenai rumah tangga mereka.


Rasanya tidak etis jika membicarakan masalah rumah tangga mereka sementara ada orang lain.


Tak berselang lama, seorang waiters membawakan makana yang mereka pesan.


"Kita makan dulu ! Setelah itu baru bicara" ucap Aaron.


Sesekali Freya membuka percakapan agar tidak terasa canggung. Dira hanya bisa menanggapinya dengan senyuman.


"Jadi kamu mau bicara apa ?" tanya Aaron terhadap Dira usai makan siang.


Dira tampak terdiam, sesekali ia melirik Freya. Sementara Freya yang dilirik bisa menangkap maksud lirikan Dira.


"Hmmm.... Aku tunggu kalian di mobil saja ya" ucap Freya.


Aaron hanya mengangguk sambil melempar senyuman pada wanita itu.


Dira memperhatikan senyuman Aaron terhadap Freya, ia merasa senyuman itu berbeda ketika tersenyum padanya.


Freya pun meninggalkan meja tersebut. Kini tinggal Dira dan Aaron.


"Aku ingin membahas masalah rumah tangga kita" ucap Dira sambil menatap Aaron.


"Aku rasa, kita memang harus berpisah setelah anakku lahir. Kita tidak mungkin terus bertahan dalam rumah tangga ini, kita terikat tapi tanpa sebuah rasa cinta" lanjut Dira.


Aaron menatap dalam-dalam mata Dira, pria itu terdiam dalam waktu yang lama.


"Apa kamu yakin ?" tanya Aaron.


Dira mengangguk, "kita bisa berpisah dengan cara yang baik, seperti kesempatan kita beberapa bulan yang lalu" jawab Dira.


"Kita bisa menjadi adik kakak mungkin, atau sahabat ? Rasa sayang yang kita miliki memang hanya sebatas itu. Jadi keputusan yang kita ambil memang sudah tepat" lanjut Dira.


Aaron menarik tangan Dira dan mengelusnya dengan lembut, "aku harap setelah perpisahan kita, kamu bisa menemukan kebahagiaan kamu" ucap Aaron sambil tersenyum.


Pria itu memang menyayangi Dira, tapi hanya sebatas sahabat dan juga adik kakak.


Dira membalas senyuman Aaron, "kakak juga, semoga saja bisa menemukan wanita yang lebih baik dariku. Aku yakin kakak akan mudah mendapatkan cinta sejati kakak" balasnya.


"Kakak ?" tanya Aaron dengan kening yang berkerut.


"Ya, kakak Aaron" balas Dira tertawa.


Aaron pun tertawa melihat Dira tertawa, "Adikku Dira" balasnya.


"Setelah perpisahan kita, aku harap tidak ada jarak diantara kita" ucap Dira. Kini mata wanita itu berembun.


Tak lama air matanya terjatuh, ia menangis bukan karena sedih melainkan ia lega karena bisa melepaskan Aaron untuk mengejar cintanya.


"Itu tidak mungkin adikku" balas Aaron sambil menghapus air mata Dira.


"Terima kasih sudah membantuku, aku sangat berhutang budi pada kakak" ucap Dira.


"Adik kakak mana ada yang berhutang budi. Memang itu sudah kewajiban bukan ?" Aaron sama sekali tidak menganggap Dira berhutang budi padanya. Ia tulus membantu Dira.


Aaron kemudian berdiri lalu memeluk tubuh Dira dengan penuh kasih sayang. "Pria yang akan berjodoh denganmu adalah pria yang beruntung. Dia mendapatkan wanita kuat seperti adikku ini" ucap Aaron.


Dira pun membalas pelukan Aaron, "kakak juga, pasti wanita yang mendapatkan cinta kakak adalah wanita yang beruntung" balasnya.


Tanpa mereka sadari, Freya melihat interaksi mereka. Mata Freya terasa panas ketika melihat pria yang ia cintai berpelukan dengan wanita lain.


"Ya Tuhan, mengapa aku harus cemburu ? Mereka adalah suami istri, lantas pantaskah aku cemburu ?" tanyanya lirih.


Freya segera kembali ke mobil. Tadi ia berniat memanggil Aaron untuk segera ke rumah sakit karena ia mempunyai pasien emergency.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...