
Hari demi hari yang Nindy sudah lalui tanpa perdebatan antara Nita dan Darma, dan rasanya itu begitu indah sehingga tak bisa di bayangkan. Hari ini adalah hari sabtu.
"Mam, Nindy seneng deh mama sama papa nggak berantem kalo di deketin" Ucap Nindy yang sedang berbaring di paha Nita.
Nita menatap Darma lalu tersenyum.
"Mama sama papa janji nggak akan ribut lagi dan kami juga lagi berusaha selalu ada untuk kamu" Nita mengelus kepala Nindy dengan sayang.
"Makasih ya ma, pa udah nurunin ego kalian untuk Nindy" Ucap Nindy sungguh-sungguh
"Sama Sama sayang. Papa sama mama juga udah bosen berantem terus. Ya nggak beb? " Goda Darma pada Nita
"CIEEEE BEBEB TUU! " Semua mata mengarah pada Zahra yang baru saja datang dengan tangan yang penuh kantong belanjaan.
"Jaro. Masuk rumah tu assalamu'alaikum dulu kek, bukannya langsung teriak teriak" Omel Nindy
"Iya deh bumil. Maap" Ucap Zahra sambil menyalimi Nita dan Darma
"Dari mana ra? Banyak banget belanjaan nya" Tanya Nita
"Ini ty, Zahra bawain perlengkapan bayi. Ada baju tidurnya, baju mainnya, ada sepatunya ada topi dan kos kaki nya juga. Sumpah, onty lucu lucu banget barang bayi itu ya" Heboh Zahra
"Perasaan Nindy baru hamil deh. Masih lama lahirnya kamu udah bawa segini banyak. Gmn nanti pas Nindy lahiran" Kekeh Darma
"Nggak papa om, nanti jadi nggak usah beli beli lagi " Senang Zahra.
"Apaan ni? Baju anak umur 5 tahun. Masih lama ini mah make nya " Cerocos Nindy.
" Hehe emang buat anak 5 tahun ya? Kok si mbaknya nggak ngomong " Cengir bodoh Zahra.
"Zahra, main di taman yuk. Disana ada ayunan" Nindy menarik lengan Zahra hingga tiba ke luar.
"Zahra, ada yang nanyain gue nggak selama ini? " Tanya Nindy
"Waktu awal awal lo nggak masuk itu temen temen sekelas nanyain lo kecuali si Nayla, nah udah 3 hari lu ngga masuk si Arkan udah mulai ngedesek gue tapi selalu di halangi sama Nayla" Jawab Zahra. Nindy menunduk sedih lalu membelai perutnya.
"Ponakan gue sehat kan? " Zahra ikut ikutan mengelus perut Nindy.
"alhamdulillah sehat onty, nanti kita ber-5 main sama sama ya , onty Zahra" Zahra menatap aneh Nindy.
"Ngapain main ngajak ngajak orang tua lu. Kita bertiga ajalah" Ucap Zahra
"Anak gue ada tiga. Gimana mau ditinggal 2" Nindy menempeleng kepala Zahra.
"Serius? Yaampun gue makin nggak sabar deh sama kelahiran para ponakan gue. Pasti lucu"
"Tapi ra. Gue aneh deh sama bokap nyokap gue, kok mereka nggak pernah nanyain siapa ayah dari anak gue? "
"Nanti gue yang nanya. Lu nggak usah mikir macem macem nanti ujung ujungnya setres" Ucap Zahra.
"Gue yakin pasti orang tua gue marah sama gue karena gue udah bunting duluan"
"Orang tua mana yang nggak marah kalo anaknya hamil di luar nikah , tapi gue yakin mereka bangga sama lo yang udah mempertahankan bayi lo" Jawab Zahra
"Gue pasti jadi aib di keluarga gue , ra. Gue nggak mau orang tua gue nanggung malu karna gue " Ucap Nindy
"Terus lo maunya gimana?" Tanya Zahra.
"Gue sih ada niatan buat kabur dari rumah "
"Nggak selamanya kedua orang tua gue itu hidup, ra. Nggak mungkin gue terus terusan bergantung sama mereka" Ucap Nindy
"Lo belajar yang pinter, ntar kalo suatu saat terjadi apa apa sama bonyok lo, lo bisa gantiin mereka di perusahaan" Ucap Zahra
"Kok gue nggak kepikiran ya" Zahra menempeleng kepala Nindy
"Percuma lo ranking 1 di sekolah kao begituan aja nggak kepikiran"
×××
"Onty, Zahra mau nanya " Nita menoleh pada ponakannya
"Nanya apa? " Ucap Nita
"Onty nggak mau tau siapa ayah dari ponakan ponakan ,Zahra? " Tanya Zahra
"Ngapain onty nanya siapa ayah biologis nya kembar. Orang kayak gitu mah nggak penting, yang lebih penting sekarang Nindy sana triple sehat" Ucap Nita
"Maksudnya Zahra itu. Onty nggak penasaran sama ayah biologis mereka? " Tanya Zahra
"Sttt. Jangan kencang kencang ngomong nya, nanti Nindy bangun"
"Iya iya maaf"
"Onty udah tau siapa ayah biologis triple. Anak sahabat onty sendiri" Zahra syok mendengar nya.
"Terus onty sama sahabat onty gmn? " Tanya Zahra
"Sahabat onty sih nggak tau kalo Nindy hamil anak Arkan. eh, Arkan bukan mananya? " Zahra mengangguk.
"Onty juga mulai jaga jarak sana sahabat, onty"
"Bagus deh ty. Soalnya Nindy nggak mau liat barang atau pun apapun yang berhubungan dengan Arkan. Jujur Zahra marah sama Arkan, harusnya dia minta bukti kalo itu anaknya sama Nindy"
"Onty juga nggak suka ada hal yang berhubungan dengan ayah biologis triple" Balas Nita
"Sayang , udah selesai belum? Kata mama , papa jatuh dari kamar mandi, kita harus cepet cepet ke New Zealand" Ucap Darma dengan raut panik di wajah nya.
"Serius mas? Iya iya ini udah selesi" Ucap Nita buru buru masuk kedalam kamarnya untuk merapikan barang barang nya.
30 menit kemudian
"Zahra, onty nitip Nindy ya. Kalo dia mau ngapa ngapain kamu harus temenin dia . Oke. Titip salam buat Nindy, Onty nggak bisa pamit sama dia, takut ngeganggu waktu tidurnya" Ucap Nita cepat
"Iya ty. Tenang aja, Nindy aman sana Zahra" Ucap Zahra
"Zahra, bilang sama Nindy kalo semua kebutuhan nya udah ada semua. Om sama onty nggak tau mau pulang kapan jadi kami nitip Nindy dulu ya. Kalo mau pulang ke Jakarta ajak aja Nindy, kasian dia di sini sendirian" Pesan Darma
"Iya om, onty. Mama sama papa juga tadi chat katanya sore ini mau ke new Zealand juga" Jawab Zahra
"Yasudah, kami pamit ya. Assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam"
(sekian terimakasih)