
...🍃Happy Reading🍃...
Sepulang dari rumah orang tua Ayana, Gama langsung menancap gas ke rumah orang tuanya. Ia ingin bertemu dengan Neneknya dan menanyakan tentang Ayana.
Tiba di rumah orang tuanya, Gama disambut oleh Shintia. Pria itu mendengus kesal saat melihat senyum licik wanita itu.
"Untuk apa kau datang kemari ?" tanya Gala ketus.
"Untuk menemui calon tunanganku" jawab Shintia santai.
"Cih... Percaya diri sekali. Jangan harap kamu akan menjadi tunanganku ! Sampai kapanpun aku tidak akan menikah dengan wanita licik seperti dirimu" tegas Gama.
Shintia tersenyum miring lalu mendekati Gama. Wanita itu berbisik di telinga Gama, "Tidak peduli seberapa keras kamu menolak, pertunangan kita akan tetap dilanjut"
Gama mengepalkan tangannya dengan kuat. Jika Shintia bukan wanita, maka ia sudah menghajar wanita itu habis-habisan.
"Menyingkir dari tubuhku !" Tegas Gama sambil mendorong tubuh wani dihadapannya dengan kasar.
"Sekarang kamu menolak Gama, tapi akan aku pastikan kamu tidak akan bisa jauh dariku" balas Shintia geram.
"Bermimpilah dalam tidurmu, jika perlu tak usah bangun !" ucap Gama mengejek.
Pria itu kemudian masuk ke kamar neneknya tanpa menghiraukan ocehan Shintia. Sementara Shintia mencari keberadaan calon mertuanya yang tak kunjung muncul.
Di dalam kamar Nenek Rukmini...
Gama duduk di samping neneknya yang sedang berbaring di atas tempat tidur.
"Gama... Kamu datang ?" tanya Nenek Rukmini terdengar lemah.
"Iya Nek, Gama rindu dengan Nenek" ucap Gama tersenyum lembut.
"Nenek juga merindukan kamu. Mengapa kamu tidak kembali tinggal bersama kami disini ? Kita bisa bertemu setiap hari"
Gama tersenyum lalu berkata, "Gama akan tinggal disini jika sudah bisa menemukan wanita Gama"
"Apa kamu sangat mencintainya ?" tanya Nenek Rukmini.
"Sangat Nek, tapi Gama tidak tahu apa wanita itu masih mencintai Gama atau cintanya sudah berubah menjadi benci" jawab Gama sedih.
Nenek Rukmini mengelus punggung Gama. Ia teringat masa lalu ketika putranya mengatakan jika ia sangat mencintai wanita yang bernama Mila. Melihat Gama mengatakan perasaannya yang tulus membuat ia teringat Ayah Budianto saat memperjuangkan cinta Bunda Mila.
"Cari wanita itu dan perjuangkan cintanya !"
"Gama sudah menemukannya. Tapi Gama tidak bisa menjemputnya karena takut ia kabur lagi" jelas Gama.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan ?" tanya Nenek Rukmini.
"Gama sudah mengatur rencana Nek" jawab Gama.
Nenek Rukmini terdiam mendengar jawaban Gama, ia berharap jika cucunya bisa bersatu dengan wanita yang ia cintai. Sementara Gama sedang membuka galeri foto di gadgetnya. Ia menjadi foto Ayana beberapa tahun lalu saat mereka masih bersama. Setelah menemukannya ia lalu bertanya pada sang Nenek.
"Apa Nenek mau melihat wanita yang Gama cintai ?"
Nenek Rukmini menjawab 'iya' membuat Gama tersenyum lebar.
Gama memperlihatkan foto Ayana pada Nenek Rukmini dan berkata, "Dia wanita yang Gama cintai"
Mata Nenek Rukmini membulat kala mengenal wanita yang dicintai cucunya. Ia menatap Gama seolah bertanya, apa benar ini wanita yang Gama cari ?
Gama yang mengerti tatapan Neneknya kini mengangguk dengan semangat.
"Wanita yang Nenek tolong waktu itu adalah Ayana, gadis cantik yang selalu ceria mampu membuat Gama jatuh hati." Gama tersenyum kala mengingat kisah manis mereka.
Nenek Rukmini masih terdiam mengingat bagaimana dulu Ayana mengusirnya. Ternyata ini alasan Ayana mengusirnya dengan kasar.
"Pantas saja waktu itu Ayana mengusir Nenek. Mungkin waktu itu ia melihat kedatangan orang tuamu" ucap Nenek Rukmini dengan air mata yang meleleh.
"Iya, itu alasannya mengapa Ayana meminta Nenek segera pergi dari kehidupannya. Ia tahu jika Nenek adalah ibu dari Ayah. Tapi Nenek harus tahu jika Ayana selalu dihantui rasa bersalah karena bersikap kasar pada Nenek" jelas Gama.
"Nenek tahu itu. Nenek bisa merasakannya. Saat Ayana mengusirku, Nenek bisa melihat kesedihan yang tergambar di wajahnya" jawab Nenek Rukmini sambil terisak. Ia merindukan Ayana dan Zayyan.
"Nenek tidak menyangka jika Zayyan adalah cicit kandung Nenek, bukan cicit angkat" lanjutnya.
"Zayyan ? Jadi nama putraku Zayyan, Nek ?" tanya Gama berbinar. Akhirnya ia tahu siapa nama putranya.
"Iya, namanya Zayyan Arkana" jawab Nenek Rukmini.
"Nama yang sangat bagus. Gama yakin pasti wajahnya sangat tampan"
"Iya, wajahnya sangat mirip denganmu. Nenek saja sampai terkejut saat melihat garis wajah kalian sangat mirip"
Lagi-lagi Gama tersenyum senang mendengar jika wajah putranya sangat mirip dengan wajahnya.
Melihat Neneknya sedih, Gama seger menenangkannya.
"Nenek tenang ya ! Gama akan segera membawa mereka kemari, tapi Gama minta bantuan Nenek boleh ?"
Nenek Rukmini menghentikan tangisannya lalu menatap cucunya.
"Gama minta Nenek bantu Gama mendapatkan cinta Ayana kembali. Gama yakin jika Nenek pasti bisa membuat Gama dan Ayana kembali bersama" ucap Gama.
"Lalu bagaimana dengan pertunanganmu dengan Shintia ?"
"Jangan pikirkan masalah itu, Nek ! Gama bisa menyelesaikannya" ucap Gama meyakinkan Nenek.
"Nenek akan membantumu karena Nenek yakin jika Ayana juga saat ini masih menyimpan rasa yang sama"
Gama mengecup kening Neneknya dan mengucapkan terima kasih.
🍃
Seminggu berlalu setelah acara ulang tahun Ibu Shita. Ayana tidak pernah lagi bertemu Lucas ataupun Fabio.
Lucas sudah pulang ke Bandung, sementara Fabio sibuk menyelesaikan semua tugasnya sebelum ia tinggal beberapa hari.
Pagi ini Ayana bersiap-siap ke toko roti miliknya. Tapi wanita itu terkejut saat melihat Fabio berdiri di samping mobilnya.
"Om Bio" teriak Zayyan.
"Halo Boy" sapa Fabio.
"Bio, kamu sedang apa di depan rumahku pagi-pagi begini ?" Tanya Ayana.
"Ayana, bisa aku minta tolong ?" Bukannya menjawab Fabio malah melempar pertanyaan balik.
"Bantuan apa ?"
"Hari ini aku ada pertemuan di luar kota. Aku butuh sekertaris, tapi sekertarisku sedang cuti melahirkan. Bisakah aku memintamu untuk menggantikannya ?" tanya Fabio.
"Kamu tahu kan aku tidak mengerti pekerjaan seperti itu. Bagaimana bisa kamu meminta bantuan padaku ?" tanya Ayana.
"Aku akan menjelaskan pekerjaan kamu. Yang penting kamu setuju dulu buat temani aku ke luar kota, aku mohon Ayana !" pinta Fabio.
"Tapi-"
"Aku tidak punya banyak waktu lagi, jika aku terlambat lima menit saja, maka aku akan mengalami kerugian yang sangat besar" Fabio memotong ucapan Ayana karena tahu wanita itu pasti ingin menolak.
Mendengar hal itu membuat Ayana tidak tega menolak permintaan Fabio.
"Bagaimana dengan Zayyan ?" tanya Ayana.
"Bisa dititipkan sama Ibu dulu !" Jawab Fabio.
Akhirnya Ayana mengiyakan. Mereka membawa Zayyan ke rumah Fabio. Setelah itu mereka pergi ke bandara.
"Sebenarnya kita mau kemana ? Kenapa harus naik pesawat ?" tanya Ayana bingung.
"Sudah kamu diam saja ! Aku mau Check-in dulu" ucap Fabio.
Akhirnya Ayana terdiam, ia mengikuti Fabio untuk Check-in. Setelah semua proses panjang yang mereka lalui di dalam bandara. Kini mereka duduk manis di dalam pesawat komersil.
"Berapa lama kita disana ?" tanya Ayana.
"Paling semingguan" jawab Fabio asal. Sebenarnya ia tidak tahu berapa lama Ayana akan berada disana, ia pun bertanya-tanya, apakah Ayana akan tinggal di Bandung atau kembali ke Surabaya.
"Kenapa lama sekali ? Bagaimana dengan Zayyan ? Kami tidak pernah berpisah terlalu lama" pekik Ayana.
"Kamu tenang saja ! Zayyan akan baik-baik saja !" ucap Fabio santai.
"Bagaimana aku bisa tenang jika aku meninggalkan putraku dalam waktu yang cukup lama ?" tanya Ayana kesal.
"Ck... Kamu cerewet sekali sih. Kamu percaya padaku jika Zayyan akan baik-baik saja !" balas Fabio. Pria itu lalu memasang earphone di telinga karena tidak ingin mendengar celotehan Ayana lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo sayang²ku 😘 sambil nungguin Novel ini Up, ini Sa kasih rekomendasi novel bagus untuk kalian 🤗 jangan lupa mampir ya 🤩
Author : Ayi
Judul : Nikah Dadakan Dengan Musuh