Young Mommy

Young Mommy
Part 91



...🍃 Happy Reading🍃...


"Ibu melamun mikirin apa ? Ibu tidak boleh banyak pikiran, jika ada sesuatu yang mengganjal di hati Ibu sebaiknya katakan !" ucap Ayah Budianto khawatir.


"Ibu tidak memikirkan sesuatu yang berat. Ibu hanya menikmati kebersamaan ini. Selama berpisah dengan kalian, Ibu tidak pernah terpikir akan merasakan kebahagiaan bersama kalian. Bahkan membayangkan saja Ibu tidak berani" jawab Nenek Rukmini tersenyum.


Semua yang berada di meja tersebut mendadak terdiam. Ada rasa sesak saat mendengar ucapan Nenek Rukmini. Mereka tidak bisa membayangkan betapa kesunyiannya Nenek Rukmini selama puluhan tahun.


"Ibu sangat bersyukur masih diberikan kesempatan untuk kembali berkumpul bersama kalian. Meskipun mungkin Ibu hanya akan merasakannya sebentar" lanjutnya.


"Bu..." ucap Bunda Mila.


"Usia Ibu sudah sangat senja, Nak. Ibu tidak tahu apakah Ibu masih bisa melihat kalian tertawa bahagia seperti ini. Saat ini Ibu tinggal menunggu panggilan Tuhan. Saat Ibu pergi menemui Ayah kamu, Ibu bisa bercerita jika kalian sudah hidup bahagia. Ibu bisa pergi dengan tenang" potong Nenek Rukmini.


Suasana hangat tadi berbuah menjadi sedih. Ayana dan Bunda Mila tidak bisa menahan air matanya. Meskipun mereka tahu setiap yang bernyawa akan kembali pada Sang Pencipta, tapi rasanya sangat sedih jika ditinggal oleh Nenek Rukmini saat mereka baru saja merasakan kebahagiaan.


"Takdir Tuhan memang sulit ditebak. Akibat ulah kalian yang mengusir Ayana ketika hamil, Ibu bisa bertemu dengannya. Karena kehadiran Ayana Ibu kembali merasa tidak sepi. Bahkan karena Ayana kalian bisa bertemu dengan Ibu lagi. Dulu Ibu pernah putus asa untuk hidup karena tidak memiliki keluarga, tapi kehadiran Ayana dan Zayyan membuat Ibu kembali bersemangat untuk hidup" ucap Nenek Rukmini memandang Ayana.


"Jika seperti itu, Nenek harus lebih semangat lagi agar bisa bertemu dengan adiknya Zayyan !" balas Gama yang saat ini mendekati sang Nenek dan memeluknya dengan hangat.


"Sekarang bagi Nenek semuanya sudah selesai. Kalian sudah bersatu. Cukup kalian berjanji pada Nenek akan hidup rukun dan berjanji untuk tidak melakukan kesalahan yang sama ! Nenek akan pergi dengan tenang" balas Nenek Rukmini.


Tidak ada lagi yang membuka suara, semua dilanda kesedihan. Terlebih Ayana dan Bunda Mila. Ayah Budianto berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh, ia tidak ingin terlihat cengeng di hadapan keluarganya.


🍃


Saat ini Dira, Fabio dan Ibu Shita sedang sarapan di salah satu warung makan. Saat mereka sedang asik makan tiba-tiba seseorang menghampiri Dira.


"Wah, sekarang kamu hidup luar di luaran sana ?" cibir wanita paru baya yang tak lain adalah Mamanya sendiri.


"Mm-mama..." Ucap Dira lirih.


"Iya ini Mama kamu. Masih ingat juga ternyata ?" balas sang Mama sinis.


"Sekarang senang hidup bebas di luaran sana dengan perut bunting ?" tanya sang Mama.


Mendengar ucapan pedas sang Mama membuat Dira hanya bisa terdiam.


"Mbak, sebaiknya Mbak duduk dulu dan bicara baik-baik dengan Dira !" pinta Ibu Shita yang merasa kasihan dengan Dira.


"Jangan ikut campur kamu ! Ini anak yang tidak tahu malu yang hamil di luar nikah, mana bisa diajak bicara baik-baik" balas Mama Dira dengan ketus.


Semua mata menatap ke arah mereka, tentu hal ini membuat Dira semakin malu. Fabio dan Ibu Shita pun merasa risih.


"Kamu harus tahu anak tidak tahu diri, aku menyesal menerima kehadiran kamu dalam ke keluargaku" sambung sang Mama.


Kali ini Dira tidak terima, wanita itu mengangkat wajahnya dan menatap tajam sang Mama.


"Mama pikir Dira senang hidup dalam keluarga Mama ?" sinis Dira.


"Kau..." Sang Mama yang Emosi hendak menampar Dira, tapi sayangnya tangannya ditahan oleh Fabio.


"Berani sekali anda ingin melukainya" ucap Fabio yang melindungi Dira.


"Lepaskan !" Perintah Mama Dira emosi. Ia menarik tangannya dengan kasar.


"Saya tidak tahu mengapa Anda sangat membenci Dira. Tapi perlu Anda ketahui, tidak ada seorang ibu yang tega mempermalukan anaknya sendiri bahkan ingin memukulnya di depan umum" ucap Fabio.


"Tahu apa kamu ? Aku memang membencinya, dia anak tidak tahu diri, tidak tahu malu, tidak tahu rasa terima kasih. Seharusnya dia membuat kami bangga. Ini malah bikin malu" balas Mama Dira.


Ibu Shita hanya bisa mengelus dada saat mendengar ucapan Mama Dira. Ia baru lihat ada seorang ibu yang begitu tega menyakiti anaknya sendiri, apalagi dalam keadaan hamil seperti ini.


"Sudah ya, sebaiknya Anda pergi !" usir Fabio yang berusaha mengatur emosinya.


"Tanpa kamu usir pun aku akan pergi dari sini" balas Mama Dira ketus. Ia pergi dengan langkah kaki yang panjang setelah membuat kekacauan.


Kini Dira terisak setelah mendapatkan serangan mendadak dari sang Mama. Dadanya terasa sesak saat mendengar kata-kata pedas dari wanita yang terlah membesarkannya itu.


Ibu Shita yang melihat Dira menangis mencoba menenangkan wanita itu.


"Yang sabar sayang ! Ibu ada bersamamu"


Dira memeluk tubuh wanita paruh baya itu, Ibu Shita pun membalas pelukan wanita hamil itu sambil mengelus punggungnya dengan lembut.


"Sebaiknya kita pulang !" ajak Fabio yang kini tidak berselera makan.


🍃


Hari ini Ayana, Gama dan Zayyan akan menginap di rumah orang tua Ayana. Besoknya mereka akan kembali ke Surabaya untuk beberapa hari sebelum memutuskan untuk menetap di Bandung.


"Gama, kita mampir ke pasar swalayan dulu !" pinta Ayana.


"Baik sayang" balas Gama.


Beberapa menit kemudian mereka mampir di sebuah pasar swalayan.


"Mau beli apa ?" tanya Gama.


"Mau beli bahan-bahan untuk buat kue" jawab Ayana.


Gama menggandeng tangan Ayana, sementara Zayyan berada di dalam gendongannya.


Keluarga kecil itu berjalan mencari barang yang ingin mereka beli. Hampir satu jalan mereka berkeliling. Mereka akhirnya ke kasir, setelah itu kembali ke mobil.


Gama kembali melajukan mobilnya menuju rumah orang tua Ayana. Setelah tiba, Ayana membantu suaminya mengangkat barang-barang masuk sementara Zayyan sudah masuk duluan.


"Kalian sudah datang ?" tanya Mama Lisa.


"Iya, Ma" jawab Gama. Mereka kemudian mencium punggung tangan Mama Lisa.


"Papa kemana ?" tanya Ayana.


"Ada di belakang, biasalah lagi ngurusin ikan-ikannya" jawab Mama Lisa, "sebaiknya kalian istirahat saja dulu !" lanjut Mama Lisa.


Ayana dan Gama mengangguk. Setelah membawa barang-barang ke dapur mereka masuk ke kamar.


"Sayang pasti kamu capek kan ?"


Ayana mengangguk seraya berkata "ya, sedikit"


"Sini biar aku pijitin !" Tawar Gama.


Saat ini mereka sedang duduk di sofa. Gama menarik kaki Ayana lalu memijitnya dengan lembut. Ayana memejamkan matanya saat merasakan pijitan Gama yang sangat enak.


"Enak sayang ?" tanya Gama sambil menatap istrinya.


"Hem..." Jawab Ayana.


Gama tersenyum mendengar jawab istrinya.


"Sayang, aku mau kamu panggil aku jangan pakai nama lagi !" ucap Gama.


Ayana membuka matanya pelan dan menatap sang suami, "Lalu maunya dipanggil apa ?" tanya Ayana.


"Maunya dipanggil dengan nama yang romantis" jawab Gama.


"Iya, maunya nama panggilannya apa ?"


"Terserah kamu mau manggilnya apa yang penting bukan nama"


Ayana kini mencoba berpikir nama panggilan yang romantis untuk suaminya.


"Gimana kalau Abang ?" tanya Ayana.


"Tidak" tolak Gama.


"Mas ? Sayang ?" tanya Ayana.


"No! Cari yang lain !" pinta Gama.


"Iya, maunya nama apa ?" tanya Ayam mulai kesal.


"Panggil Hubby !"


Sontak Ayana memutar bola matanya dengan malas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...