Young Mommy

Young Mommy
Part 33 -



...🍃Happy Reading 🍃...


Sesampainya Fabio di toko, Ayana langsung mengambil alih putranya, ia mencoba menenangkan Zayyan hingga putranya itu tertidur dalam gendongannya.


Ayana lalu duduk di kursi dan menjelaskan alasannya tidak ingin kembali ke rumah kontrakannya, ia menjelaskan dengan suara pelan agar tidur putranya tidak terusik.


"Aku takut Bio, aku nggak mau jika mereka tahu keberadaanku dan Zayyan" ucap Ayana mulai terisak.


"Lalu kita harus bagaimana ?" tanya Fabio bingung.


Fabio mencoba berpikir keras agar kedua orang tua Gama bisa meninggalkan rumah kontrakan Ayana. Tapi tidak mungkin juga ia mengusirnya, ia juga tidak mungkin berkata jujur pada Nenek Rukmini jika Zayyan bukanlah cicit angkatnya melainkan cicit kandungnya.


Sementara di rumah kontrakannya, kedua orang tua Gama sangat tidak sabar bertemu gadis yang telah menemani Nenek Rukmini selama setahun terakhir ini. Lebih tepatnya mereka tidak sabar ingin membawa Nenek Rukmini kembali.


'Tumben Ayana belum kembali di jam segini ?' Batin Nenek Rukmini, 'Apa terjadi sesuatu padanya ?' Lanjut batinnya mulai merasa cemas.


"Apa gadis itu memang pulang malam ?" tanya Ayah Budianto.


"Sebenarnya kemarin ia hanya buka toko hingga jam 5 sore" jawab Nenek Rukmini.


"Tapi ini sudah hampir jam 6, kenapa dia belum balik ?" Sambung Bunda Mila bertanya.


"Kita tunggu sebentar lagi, jika belum kembali kita susul saja ! Ibu juga merasa cemas dengannya" ucap Nenek Rukmini.


Akhirnya mereka menunggu kepulangan Ayana, tapi sudah jam 7 malam Ayana belum juga muncul, bahkan Fabio dan Bibi Ar ikut tidak pulang. Perasaan Nenek Rukmini semakin khawatir pada Ayana. Akhirnya ia meminta anaknya membawanya ke toko Bakery milik Ayana.


Tak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai. Mereka menuntun Nenek Rukmini masuk ke toko Bakery milik Ayana yang ternyata masih terbuka.


Kedatangan mereka membuat Ayana panik, wanita itu segera masuk ke sebuah ruangan dan bersembunyi. Ia tidak ingin kedua orang tua Gama menemukannya.


Sementara di luar tinggal Bibi Ar dan Fabio yang saling melirik.


"Dimana Ayana ? Kenapa tidak pulang dari tadi ?" tanya Nenek Rukmini.


"Eee... Ayana... Ada di-"


"Apa terjadi sesuatu padanya ?" tanya Nenek Rukmini memotong ucapan Bibi Ar.


"Dia ada disana" tunjuk Bibi Ar ke sebuah ruangan.


"Mari kita temui dia Ibu" ucap Bunda Mila dengan lembut.


Mereka baru saja melangkah tiba-tiba Fabio menghadangnya.


"Biar saya yang membawa Nenek Rukmini masuk menemuinya, kalian tetap disini !" ucap Fabio sedikit ketus.


Kedua orang tua Ayana saling memandang lalu mengangguk pelan. Mereka membiarkan Nenek Rukmini dan Fabio masuk, sementara mereka duduk di luar.


Fabio membuka pintu ruangan tersebut dan mendapati Ayana sedang berbaring di samping putranya dengan air mata yang terus menetes.


"Ayana..." Ucap Nenek Rukmini dengan lembut, "kamu kenapa Nak ?" Lanjutnya bertanya.


Ayana menghapus air matanya dan mengubah posisinya menjadi duduk.


"Saya tidak apa-apa" ucapnya dingin, ia enggan menatap ke arah Nenek Rukmini.


Hal tersebut membuat Nenek Rukmini merasakan sebuah perubahan sikap Ayana.


"Nenek tidak tahu apa masalahmu, jika belum siap mengatakannya pada Nenek itu tidak masalah" ucap Nenek Rukmini tetap berkata dengan lembut.


"Nenek hanya ingin mengatakan jika keluarga Nenek yang selama ini kita cari telah datang menjemput Nenek-"


"Lalu kenapa tidak pergi saja ?!" potong Ayana.


"Nenek tidak ingin pergi jika kamu tidak ikut dengan Nenek" jawab Nenek Rukmini.


"Saya tidak akan ikut, jika ingin kembali bersama keluarga anda silahkan saja ! Itu adalah hak anda" balas Ayana.


Mendengar ucapan Ayana membuat Nenek Rukmini merasa sedih. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada cucu angkatnya itu hingga membuatnya dingin seperti ini.


"Tidak. Bahkan Ayana berharap Anda pergi secepatnya dari sini !" balas Ayana semakin ketus.


"Ayana..." tegur Fabio, ia merasa kasihan pada Nenek Rukmini yang kini meneteskan air mata.


"Biarkan saja dia pergi ! Toh keluarganya juga sudah menjemputnya, setelah dia pergi aku tidak memiliki beban lagi" ucap Ayana semakin membuat hati Nenek Rukmini sakit.


"Apa salah Nenek padamu ? Apa selama ini kamu terbebani dengan kehadiran Nenek ?" tanya Nenek Rukmini terisak.


"Iya" jawab Ayana singkat. Sebisa mungkin Ayana menahan air matanya agar tidak keluar, 'Maafkan Ayana Nek, sebenarnya Ayana tidak ingin Nenek pergi, tapi ini adalah satu-satunya jalan agar mereka tidak menemukan keberadaan diriku dan putraku' lanjut batinnya.


Sesaat mereka terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing. Tak lama Ayana kembali membuka suara.


"Pergi sekarang juga !" usir Ayana, ini adalah hal yang paling menyakitkan dan paling jahat yang pernah ia lakukan.


Nenek Rukmini semakin terisak membuat hati Ayana menjadi tidak tega. Ia ingin meminta maaf telah bersikap kasar pada Nenek Rukmini.


'Tidak Ayana, kali ini kamu harus egois agar bisa hidup bahagia tanpa bayang-bayang dari keluarga pria brengsek itu' batinnya.


"Kamu mengusir Nenek ?" tanya Nenek Rukmini tidak percaya.


Ayana terdiam cukup lama hingga ia membuka suara kembali, "Bukankah sudah jelas jika saya menyuruh anda pergi ? Jadi pergilah dari sini !" ucap Ayana menatap tajam Nenek Rukmini.


Mau tidak mau Nenek Rukmini meninggalkan Ayana, meskipun ia tidak tahu apa yang membuat Ayana mengusirnya tapi ia tetap menuruti permintaan gadis itu.


"Saya harap anda dan keluarga anda tidak pernah muncul di hadapan saya lagi !" tegas Ayana sebelum Nenek Rukmini benar-benar keluar dari ruangan tersebut.


Setelah pintu ruangan itu tertutup rapat. Ayana mengeluarkan sesak di dadanya dengan air mata, ia menangis tanpa suara karena tidak ingin orang lain mendengarnya. Hatinya terus meminta maaf pada Nenek Rukmini karena mengusirnya dengan cara kasar.


Sementara Nenek Rukmini masih terisak hingga membuat anak dan menantunya heran.


"Ibu mengapa menangis ?" tanya Bunda Mila.


"Ah, Ibu hanya sedih harus meninggalkan Zayyan" jawab Nenek Rukmini.


"Apa Ibu akan ikut ke Surabaya ?" tanya Bunda Mila berbinar.


Nenek Rukmini mengangguk pelan, hal yang membuat Ayah Budianto merasa aneh. Pasalnya sangat terlihat raut wajah sedih sang Ibu yang sepertinya tidak ingin meninggalkan cucu angkatnya itu.


"Apa Ibu baik-baik saja ?" tanyanya padan sang Ibu.


Lagi-lagi Nenek Rukmini hanya menjawab dengan sebuah anggukan.


"Apa dia tidak ingin ikut dengan kita ?" sambung Bunda Mila bertanya.


"Sebaiknya kita berangkat sekarang !" pinta Nenek Rukmini.


Kedua orang tua Gama saling melempar tatapan, tapi mereka segera menuruti permintaan ibunya. Mereka meninggalkan toko milik Ayana dan langsung ke hotel. Nenek Rukmini meminta mereka untuk tidak mengambil barang-barang miliknya di rumah Ayana.


Setelah mereka pergi, Ayana segera keluar dengan mata yang bengkak. Ia menggendong Zayyan yang masih tertidur.


"Ayo kita pulang !" pintanya.


Fabio dan Bibi Ar segera mengikuti langkah Ayana hingga mobil. Mereka kembali ke rumah Ayana tanpa adanya pembicaraan. Fabio sengaja mendiami Ayana karena ia tahu wanita itu baru saja melakukan peran batin.


"Pulanglah ! Aku ingin istirahat" ucap Ayana mengusir Fabio. Dirinya benar-benar ingin menenangkan diri.


Fabio pun mengangguk dan pergi dari rumah kontrakan Ayana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Halo sayang²ku 😘 sambil nungguin Novel ini Up, ini Sa kasih rekomendasi novel bagus untuk kalian 🤗 jangan lupa mampir ya 🤩



Author : Sayonk


Judul : Gundik Sang Mafia