
...🍃Happy Reading🍃...
*Brak*
Tuan Nugroho menggebrak meja saat mendengar cerita putrinya.
"Kenapa kamu sangat bodoh ?" teriak Tuan Nugroho pada Shintia.
"Ya mana Shintia tahu jika Gama mengenal pria itu" jawab Ayana mencoba membela diri.
"Saat seperti ini kamu masih berani menjawab ?" geram Tuan Nugroho.
"Sia-sia Papa menyekolahkan kamu tinggi-tinggi, tapi otakmu sama sekali tidak berfungsi. Jika sudah seperti ini kita tidak bisa mendapatkan keuntungan dari keluarga Gama" lanjut Tuan Nugroho masih meneriaki putrinya.
Shintia yang tahu sang Papa sangat marah hanya bisa diam dan menunduk. Memang ia bodoh mudah saja ditipu dan dijebak oleh Gama.
'Sial' umpatnya.
🍃
Hari-hari berlalu, tanpa terasa sudah 2 pekan Ayana berada di Bandung. Waktu yang cukup lama bagi Ayana meninggalkan toko rotinya di Surabaya. Rencananya Ayana akan pulang besok lusa.
Selama dua pekan ini Gama benar-benar tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mendekati Zayyan. Meski terkadang pria itu mendapat perlakuan tidak mengenakkan dari Ayana, tapi itu bukan halangan untuk dirinya mengambil hati sang putra.
Seperti Minggu pagi ini, Gama kembali bertamu di rumah Ayana. Tentu saja kehadirannya disambut hangat oleh Zayyan. Berbeda dengan Ayana yang terlihat menatap sinis pria itu.
"Om hari ini jadi kan kita jalan-jalan ?" tanya Zayyan pada Gama.
"Tentu saja. Tapi harus ijin dulu sama Mama kamu ! Kalau bisa ajak sekalian supaya kita bisa jalan bareng !" jawab Gama.
"Oke Om, Zayyan coba dulu ya" ucap Zayyan. Pria kecil itu segera berlari ke tempat sang Mama berada, tepatnya di dalam kamar.
Sementara Gama tersenyum senang karena putranya sangat penurut.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu membuat Ayana segera membuka pintu kamarnya.
"Zayyan, ada apa Nak ?" tanya Ayana bingung mengapa Zayyan menemuinya. Apa mungkin Gama sudah pulang ? Tapi kenapa begitu cepat ?, Tanya batin Ayana.
"Mama sedang apa ?" tanya Zayyan.
"Mama baru saja selesai mandi. Memangnya ada apa ?"
Ayana memang baru keluar dari kamar mandi dan hendak menggunakan pakaian, tapi tiba-tiba ia mendengar suara ketukan pintu. Akhirnya Ayana mengurungkan niatnya.
"Sini masuk sayang !" lanjut Ayana sebelum putranya menjawab pertanyaannya.
Zayyan masuk dan ikut duduk di tempat tidur.
"Mama, apa boleh Zayyan jalan bersama Om Gama ?" tanya Zayyan membuat Ayana menatap putranya.
"Kemarin Om Gama berjanji untuk mengajak Zayyan jalan-jalan. Selama disini Zayyan tidak pernah jalan-jalan, selalu main di rumah. Apa Mama memberikan ijin Zayyan pergi dengan Om Gama ?" Lanjut Zayyan dengan mimik wajah sendu.
Memang Ayana akui, jika selama tinggal di Bandung ia tidak pernah mengajak Zayyan jalan-jalan. Tapi ia tidak bisa mengijinkan Zayyan pergi dengan Gama.
"Apa Zayyan sangat ingin jalan-jalan ?" tanya Ayana mendapatkan anggukan kepala dari putranya.
"Kalau begitu kita jalan-jalan berdua saja !" ucap Ayana.
"Kenapa tidak dengan Om Gama ? Zayyan ingin jalan bersama Om Gama"
"Kenapa Zayyan lebih memilih Om Gama daripada Mama ?"
"Bukan seperti itu, tapi Zayyan dan Om Gama sudah merencanakan ini dari kemarin. Jika Mama ingin ikut Zayyan semakin senang" jawab Zayyan.
Ayana menghembuskan nafas dengan kasar. Ia mencoba menahan kekesalannya terhadap Gama. Entah apa yang telah pria itu lakukan sehingga bisa membuat putranya sangat lengket dengannya.
"Kenapa harus bertiga jika berdua saja lebih seru ? Mama tidak bisa mengijinkan Zayyan pergi bersama Om Gama" balas Ayana.
"Sekali Mama bilang tidak ya tetap tidak. Mama tidak perlu memberikan alasan mengapa Mama melarang kamu pergi bersamanya" balas Ayana sedikit tegas.
Ini merupakan pertama kalinya Ayana tidak menuruti keinginan putranya. Begitupun dengan Zayyan, ini adalah pertama kalinya ia tidak bisa diatur oleh sang Mama.
Dengan perasaan sedih Zayyan keluar tanpa mengatakan sepatah katapun. Sementara Ayana kepergian putranya dengan tatapan nanar.
Sepertinya mereka memang harus segera pulang ke Surabaya. Jika berada disini Gama akan selalu gencar merebut perhatian putranya.
Saat ini Zayyan sudah berada di kamar sang Omah. Ia melewati Gama yang sedang mengobrol bersama Papa Hartono. Zayyan menangis dan mengadu pada Omah jika Mamanya sangat jahat karena telah melarangnya pergi bersama Gama.
Omah sendiri merasa bingung, kali ini tindakan Ayana tidak bisa ia benarkan, tapi disisi lain ia mengerti mengapa Ayana bersikap seperti ini.
Tak lama pintu kamar terbuka dan terlihat Papa Hartono masuk menghampiri ibu dan cucunya.
"Zayyan, kamu kenapa Nak ?" tanya Papa Hartono. Tadi ia begitu jelas melihat Zayyan menangis.
"Mama, Kek. Mama melarang Zayyan jalan dengan Om Gama. Padahal Om Gama orang baik, tapi Mama terlihat tidak menyukai Om Gama" jawab Zayyan sesegukan.
Papa Hartono menghela nafas, ia lalu membawa cucunya dalam pelukannya.
"Sayang, berhentilah menangis ! Kakek akan coba bicara dengan Mama kamu Nak" Papa Hartono mencoba menenangkan cucunya.
"Benarkah Kek ?" tanya Zayyan berbinar.
"Benar, tapi Zayyan janji dulu tidak akan menangis lagi !"
Zayyan segera menghapus air matanya dan tersenyum pada sang Kakek. Setelah melihat Zayyan tidak mengeluarkan air mata lagi, Papa Hartono segera keluar dan menemui Ayana.
Kebetulan sekali Ayana hendak keluar. Tapi saat sang Papa memintanya bicara empat mata, Ayana kembali masuk ke kamarnya. Jadilah mereka duduk di sebuah sofa.
"Kenapa kamu melarang Zayyan jalan dengan Gama ?" tanya Papa Hartono to the point.
"Memangnya salah jika Ayana melarang putra Ayana pergi dengan orang lain ?" tanya Ayana.
"Dia bukan orang lain Ayana, dia adalah Papa biologis Zayyan. Kamu tidak boleh lupa akan hal itu !" ucap Sang Papa.
"Apa Papa mendukung pria itu merebut Zayyan dariku ?" tanya Ayana merasa kecewa.
"Tidak ada yang ingin merebut Zayyan darimu. Gama hanya ingin menebus kesalahannya beberapa tahun lalu. Apa kamu tidak ingin memberikan kesempatan untuknya ?"
Ayana terdiam, ia memang tidak ingin memberikan kesempatan kepada Gama.
"Gama sangat menyesali perbuatannya maka dari itu ia kembali ingin menebus rasa bersalah itu pada kalian. Terlebih lagi pria itu masih menyimpan perasaan yang sama padamu. Ini adalah bentuk perjuangannya. Bukan karena ingin merebut Zayyan darimu" lanjut Papa Hartono.
"Tidak ada salahnya kita memberikan kesempatan kedua untuk seseorang. Tidak ada manusia di dunia ini yang tidak pernah melakukan kesalahan. Tapi tidak semua manusi menyesali kesalahan yang telah ia perbuat"
"Apa kamu tidak kasihan melihat putramu menangis seperti itu ?" tanya Papa Hartono.
Ayana tidak bisa menjawab karena sejujurnya ia juga merasa sedih jika Zayyan menangis seperti itu. Tapi ia harus bersikap egois agar dirinya tidak kehilangan Zayyan.
"Jika kamu takut Gama merebut perhatian putramu, kamu tenang saja karena hal itu tidak akan terjadi" lanjut Papa Hartono.
"Tapi Pa, pada kenyataannya memang Gama ingin merebut Zayyan dariku. Ayana tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Maka dari itu Ayana harus menjauhkan Zayyan dari pria itu" balas Ayana tegas.
Papa Hartono hanya bisa menghela nafas dengan kasar. Putrinya memang sudah sangat berbeda, sangat sulit diatur dan begitu keras kepala.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo sayang²ku 😘 sambil nungguin Novel ini Up, ini Sa kasih rekomendasi novel bagus untuk kalian 🤗 jangan lupa mampir ya 🤩
Author : Asma Khan
Judul : Istri Siri Tuan Briant