Young Mommy

Young Mommy
Part 79



...🍃Happy Reading🍃...


Ayana, Gama dan yang lainnya baru saja tiba di bandara internasional Husein Sastranegara.


"Mama, Papa, tidak apa-apa kan jika Gama membawa Ayana bertemu dengan orang tuaku terlebih dahulu ?" tanya Gama pada orang tua Ayana.


"Tidak masalah, Nak" jawab Papa Hartono.


"Kalau begitu kita pisah disini saja !" Lanjut Papa Hartono.


"Baik Pa"


Tak lama supir Papa Hartono datang menjemput mereka. Sementara Gama dijemput oleh Lucas.


"Gercep juga ternyata, aku pikir bakalan sampai bertahun-tahun" ucap Lucas menggoda Ayana dana Gama.


"Nggak usah banyak bicara, kamu angkatin koperku !" perintah Gama.


"Ck... Dasar teman tidak tahu diri, sudah dijemput masih saja menindasku" gerutu Lucas.


Gama tidak memperdulikan Omelan sahabatnya itu. Ia membukakan pintu untuk Ayana lalu membukakan pintu untuk putranya.


"Zayyan duduk di depan bareng Om Lucas ya !" ucapnya.


"Baik Papa" jawab Zayyan.


Sementara Gama duduk di kursi penumpang bagian tengah bersama Ayana.


Ayana sangat gugup ingin bertemu dengan calon mertuanya. Gama yang menyadari itu menggenggam tangan Ayana lalu mengecupnya.


"Rileks sayang ! Semua akan baik-baik saja" ucapannya mencoba menenangkan Ayana.


Ayana mencoba menarik nafas panjang lalu menghembuskan nafas. Ia melakukan berulang-ulang kali hingga merasa sedikit tenang.


"Tenang saja Ayana ! Jika orang tua Gama tidak menerimamu maka orang tuaku siap menerima kamu" ucapnya menggoda Ayana dan Gama.


Seketika pria itu mendapatkan pukulan di bahunya dari Gama.


"Berani kamu menggoda calon istriku, aku patahkan lidahmu itu agar tidak bisa berucap" kesal Gama.


"Auw, sakit bege" pekik Lucas, "Lagian aku cuman bercanda Gama. Ya mana mungkin aku merebut Ayana darimu, kecuali Ayana yang dengan senang hati datang padaku" bukannya berhenti, Lucas justru semakin gencar menggoda kedua calon pengantin itu.


"Sekali lagi kamu bicara yang tidak-tidak, maka aku tendang kamu dari mobil ini" ancam Gama.


Lucas terkekeh geli melihat sifat pencemburu Gama.


Beberapa menit kemudian mereka tiba di rumah Gama.


Ayana menggenggam erat tangan Gama karena semakin gugup. Gama menatap Ayana dan memberikan senyuman. Zayyan berada dalam gendongan Gama. Sementara Lucas mengekor di belakang sambil membawa barang-barang milik Gama.


"Aku seperti seorang pesuruh saja" kesalnya.


Gama membuka pintu rumah, mereka melangkah pelan. Semakin dalam mereka masuk semakin Ayana keringat dingin.


"Nek..." ucap Gama memanggil sang Nenek yang kebetulan berada di ruang tengah.


Sontak Nenek Rukmini menoleh ke arah mereka. Nenek Rukmini tersenyum bahagia saat melihat calon cucu menantunya dan cicitnya datang.


"Kalian sudah datang ? Kemarilah, Nenek sangat rindu pada kalian" ucap Nenek Rukmini.


Zayyan turun dari gendongan sang Papa. Ia lalu berlari memeluk tubuh Nenek Rukmini.


"Nenek, Zayyan kangen banget sama Nenek" ucap Zayyan.


"Nenek juga kangen sama cicit Nenek yang tampan ini" balas Nenek Rukmini.


Ayana dan Gama kemudian mendekat dan mencium punggung tangan Nenek Rukmini.


"Maafkan anak dan menantu Nenek" ucap Nenek Rukmini kala Ayana mencium punggung tangannya.


"Maafkan Ayana Nek" ucap Ayana yang kini mulai terisak. Ia masih teringat bagaimana dirinya mengusir Nenek Rukmini. Meskipun ia sudah meminta maaf berkali-kali tapi tetap saja ia merasa bersalah ketika mengingat hal itu.


"Sudah Nenek katakan, semuanya tidak perlu diungkit dan diingat lagi !" Bala Nenek Rukmini.


Mereka lalu melepaskan pelukannya, setelah itu Ayana duduk di sofa bersama putranya.


"Nek, Bunda dan Ayah dimana ?" tanya Gama.


"Mereka masih di kamar" jawab Nenek Rukmini.


Gama mengerutkan keningnya, ia bingung dengan orang tuanya. Pasalnya kemarin mereka mengatakan tidak sabar ingin bertemu dengan Ayana.


Tapi mengapa ketika mereka datang, kedua orang tuanya justru betah berada di kamar.


"Kamu tunggu disini ya sayang !" ucapnya pada Ayana.


Gama kemudian berjalan menuju kamar orang tuanya. Ia mengetuk pintu kamar, namun tidak ada yang membukakan pintu.


Akhirnya Gama mencoba memutar handle pintu. Setelah pintu terbuka Gama masuk dengan langkah pelan.


Ia melihat kedua orang tuanya saling berpelukan. Tampak sang Bunda sedang terisak.


"Bunda, Ayah ada apa ini ? Mengapa kalian bersedih ?" tanya Gama sehingga membuat kedua orang tuanya terkejut.


"Ga-Gama, kamu sudah datang Nak ?" tanya Bunda Mila sesegukan. Wanita itu menyeka air matanya.


Gama tidak menjawab pertanyaan sang Bunda. Ia masih menatap bingung kedua orang tuanya.


"Apa Ayana dan cucuku juga datang ?" tanya Ayah Budianto.


"Mereka menunggu kalian di luar" jawab Gama.


Bunda Mila kemudian menatap Ayah Budianto. Gama semakin bingung melihat orang tuanya.


"Apa kalian tidak ingin bertemu dengan mereka ?" tanya Gama.


"Mau" jawab Bunda Mila lirih.


"Tapi mengapa kalian masih disini ?" tanya Gama.


Bunda Mila menunduk lalu menjawab pertanyaan putranya.


"Sebenarnya kami sangat malu bertemu dengan Ayana dan Zayyan" jawabnya dengan bibir yang bergetar.


"Kami malu karena pernah menolak mereka, bahkan kami sangat kejam menyuruh meminta Ayana menggugurkan kandungannya. Kami takut Ayana masih membenci kami"


Kali ini Bunda Mila terisak ketika mengeluarkan semua rasa takut yang menyelimuti hatinya.


Gama mendekati Bundanya lalu memeluknya.


"Ayana dan Zayyan sudah menerima kalian. Jika saja mereka tidak menerima Bunda dan Ayah, mana mungkin Ayana menerima ajakan Gama untuk menikah. Sekarang Bunda hapus air mata Bunda, setelah itu kita keluar menemui mereka"


Gama melepaskan pelukannya setelah meyakinkan sang Bunda. Ia juga menyeka air mata sang Bunda dan melempar senyum.


"Mereka sudah tidak sabar bertemu dengan Bunda dan Ayah" ucapnya.


Gama kemudian membantu sang Bunda berdiri. Ia menggenggam tangan Bunda Mila berjalan keluar kamar.


Saat melihat Gama dan kedua orang tuanya keluar dari kamar. Ayana menundukkan kepalanya.


Sementara Zayyan berlalu ke arah mereka.


"Omah... Opah..." Teriak Zayyan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...