Young Mommy

Young Mommy
Part 87



...🍃Happy Reading🍃...


Omah, Nenek Rukmini, Ibu Shita, Dira dan Fabio duduk di meja yang sama.


Saat melihat kejadian Ayana dan Gama dipermalukan oleh Shintia tentu saja mereka sangat geram dan sedih.


"Kenapa dia muncul dan membuat suasana kacau ?" tanya Dira. Coba saja ia sudah melahirkan, pasti ia akan maju menjambak wanita itu.


"Kamu mengenal wanita itu ?" tanya Fabio pada Dira.


Dira menatap Fabio yang juga menatapnya, "dia adalah kakak kelas kami, jadi wanita itu seangkatan dengan Gama. Dari jaman sekolah, ia menyukai Gama tapi cintanya tidak terbalaskan" jelas Dira.


Fabio mengangguk paham. Ia kembali fokus melihat wanita yang ia cintai bersanding dengan pria lain. Sebenarnya hatinya sangat terluka, tapi ia harus kuat melepaskan Ayana bahagia dengan pria lain.


"Bio, bantu Nenek naik ke pelaminan !" pinta Nenek Rukmini.


Fabio mengalihkan atensinya pada wanita Nenek Rukmini. Ia berdiri lalu mendorong kursi roda Nenek Rukmini.


"Sebaiknya kita ikut juga" ujar Omah pada Dira.


Dira mengangguk, ia lalu berdiri sambil menggandeng tangan Omah.


Dada Fabio semakin sesak kala langkahnya semakin dekat dengan Ayana dan Gama.


'Ayo Fabio, kamu pasti bisa ! Tahan rasa sakit ini demi kebahagiaan Ayana' batinnya yang terus mencoba menguatkan dirinya sendiri. Sebisa mungkin pria itu memamerkan senyumannya walau hatinya sedang menangis.


"Nenek..." ucap Ayana kala melihat Nenek Rukmini dan yang lainnya menghampirinya.


"Selamat atas pernikahannya sayang" ucap Nenek Rukmini.


Ayana dan Gama mencium punggung tangan Nenek Rukmini. Gama memeluk tubuh sang Nenek seraya berterima kasih.


"Nek, terima kasih telah menjaga Ayana dikala sulit. Gama berjanji akan menjaga cucu menantu Nenek dengan baik"


"Sama-sama Nak. Buat istri dan anakmu bahagia, jika kamu berani melukai Ayana berarti kamu berani melukai Nenek" ucap Nene Rukmini membalas pelukan cucunya.


"Gama tidak akan melukai mereka. Mereka adalah hidup Gama" balas Gama.


Setelah itu mereka melepaskan pelukan mereka. Kini giliran Fabio yang memberikan ucapan selamat.


"Selamat atas pernikahan kalian. Aku berharap kalian bisa hidup bahagia" ucapnya sambil menjabat tangan kedua mempelai.


Fabio menatap Ayana dengan tatapan penuh luka.


"Terima kasih Fabio. Semoga kelak kau menemukan wanita yang baik" balas Ayana. Ia tahu pria itu pasti merasa terluka.


"Semoga saja" balas Fabio.


"Fabio, terima kasih telah membatu anak dan istriku saat susah. Jika tidak ada kamu, aku tidak tahu lagi kemana harus mencari Ayana. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu dengan sebuah kebahagiaan" ucap Gama tulus.


"Ya, sama-sama. Jaga mereka dengan baik, jika kamu tidak mencintainya lagi kamu bisa membawanya kepadaku" balas Fabio.


"Enak saja, kamu pikir istriku barang yang bisa dikasi orang lain ketika sudah disukai lagi ?" kesal Gama.


Fabio menahan tawanya melihat kekesalan Gama. Ada perasaan yang sedikit lega karena Ayana jatuh di tangan pria yang tepat.


Kini giliran Omah dan Dira yang memberikan ucapan selamat.


"Selamat atas pernikahannya cucu Omah" ucap Omah sambil mencium kedua pipi Ayana.


"Oma doakan semoga Zayyan cepat mendapatkan adik yang banyak" goda Omah yang berhasil membuat wajah Ayana bersemu merah karena tersipu malu.


"Selamat Ayana, akhirnya kalian bersatu juga. Ya, walaupun tadi sempat kacau gara-gara nenek lampir itu" ucap Dira merubah wajah bahagianya menjadi wajah kesal.


"Terima kasih Dira" balas Ayana, "Oh iya, Mona juga hadir loh disini. Tapi aku nggak tahu dia sedang dimana" lanjut Ayana.


"Ah, benarkah ? Aku sangat rindu padanya" balas Dira.


Tak lama seorang wanita memanggil Dira dari arah belakang.


"Dira..." Mona sedikit berlari menghampiri sahabatnya.


"Mona" ucap Dira kala melihat Mona.


"Aku kangen banget sama kamu, Dir" ucap Mona.


"Aku juga kangen" balas Dira.


Keduanya saling memeluk melepaskan kerinduan.


"Sekarang kamu tinggal dimana ?" tanya Mona.


"Jadi kamu tinggal satu kota dengan Ayana ?"


"Iya, aku ikut suamiku yang kerja disana"


"Suami ?" tanya Mona bingung.


"Aku sudah menikah, dia pria yang baik" jawab Dira. Ia tahu pasti Mona bingung mengapa dirinya bisa menikah sementara ia tidak tahu siapa pria yang telah menghamilinya.


"Aku lega jika ada pria yang baik yang bisa mencintaimu. Semoga rumah tangga kalian selalu baik-baik saja" ucap Mona lega.


Mona melepaskan pelukannya pada Dira. Ia kemudian menghampiri Ayana dan memberikan ucapan selamat.


"Selamat Ayana dan Gama. Aku turut bahagia atas bersatunya cinta kalian. Cinta yang sejati yang tidak pernah luntur sama sekali. Semoga kebahagiaan selalu menyertai rumah tangga kalian"


Mona menangis terharu melihat Ayana bisa kembali pada cintanya.


"Terima kasih Mona, semoga kamu cepat nyusul" balas Ayana sambil membalas pelukan sahabatnya.


"Bulan depan aku pasti nyusul" balas Mona sambil tersenyum merekah.


"Benarkah ?" Tanya Ayana pada Mona.


"Iya, benar. Aku akan memperkenalkan pada kalian calon suamiku. Kebetulan dia ikut" jawab Mona.


"Wah aku juga ikut penasaran siapa pria yang berhasil memenangkan hatimu" sahut Dira.


"Tunggu ya, aku hubungi dulu" ucap Mona.


Wanita itu mengambil gadgetnya dan hendak menghubungi kekasihnya. Belum sempat suara panggilan terhubung itu berbunyi, seorang pria memegang pundak Mona.


"Sayang, aku disini" ucap pria itu dengan suara bariton.


Mona membalik tubuhnya lalu merangkul pinggang kekasihnya. "Ini kekasihku" ucap Mona tersenyum bahagia.


Ayana dan Dira tersenyum melihat pria itu. Mereka ikut senang karena akhirnya Sabahat mereka juga menemukan calon suami.


"Sayang, kenalkan ini Ayana !" ucap Mona.


"Ayana" ucap Ayana hendak menjabat tangan pria itu tapi dengan cepat Gama menariknya.


"Jangan menyentuh pria lain !" tegas Gama.


Ayana menatap suaminya dengan kesal, " Tapi mengapa dengan Fabio tadi kamu tidak marah ?" tanya Ayana.


"Itu beda sayang" jawab Gama.


Ayana.hanya bisa memutar bola matanya dengan malas. Sifat cemburuan suaminya mulai kambuh.


Dira, Mona dan yang lainnya hanya bisa tersenyum geli melihat Gama cemburu.


"Nak kalau yang ini namanya Dira" lanjut Mona memperkenalkan Dira.


"Dira" ucap Dira seraya mengulurkan tangannya.


"Angga" balas pria itu sambil tersenyum. Ia membalas uluran tangan Dira. Pria itu juga menatap wanita hamil di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Saat tangan keduanya saling berjabat, Dira merasakan perasaan aneh. Ia menatap wajah pria itu dan merasa tidak asing.


"Nah sekarang waktunya kita foto-foto dengan pengantinnya" ucap Mona. Dira segera mengakhiri jabat tangannya dengan Angga.


Mereka kemudian berfoto-foto sebelum turun dari pelaminan. Setelah itu mereka kembali duduk di tempat mereka.


Mona dan Angga juga ikut bergabung di meja Dira.


"Tadi aku pikir dia suamimu" ucap Mona sambil melirik Fabio.


Dira segera menggeleng, "Ah bukan, dia itu sepupu dari suamiku" jawab Dira.


"Tampan juga" puji Mona.


"Sayang..." Seketika Angga menegur Mona yang memuji pria lain.


"Iya, iya, kamu yang paling tampan" puji Mona pada Angga. Ia merasa bahagia karena Angga tipe pria yang pecemburu, itu artinya Angga sangat mencintainya.


Fabio yang sedari tadi diam melirik kekasih Mona, sedari tadi ia merasakan ada yang tidak beres dengan pria itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa dukung novel ini dengan cara berikan Vote, hadiah, Lik dan komen 🤗❤️