
...🍃Happy Reading🍃...
Pukul 7 pagi, Shintia sudah bertanya di rumah orang tua Gama. Tujuannya datang pagi-pagi untuk menunjukkan foto Ayana dan Fabio saat di hotel kemarin. Ia yakin setelah memperlihatkan foto tersebut Gama akan menerima perjodohan ini, karena alasan Gama selalu menolak yaitu menunggu kembalinya Ayana.
Kedatangan Shintia membuat kedua orang tua Gama saling menatap. Mereka sudah lelah berurusan dengan Shintia dan Tuan Nugroho yang sangat kerasa dan sangat pemaksa.
"Selamat pagi Tante, Om" sapa Shintia tersenyum manis.
"Selamat pagi" balas Bunda Mila.
"Ada apa datang pagi-pagi ? Tidak biasanya" lanjut Bunda Mila bertanya.
"Shintia ada perlu dengan Gama. Sekalian mau ketemu sama calon mertua" jawab Shintia percaya diri.
Bunda Mila menghembuskan nafas dengan kasar. Bagaimana mau membatalkan perjodohan jika anak dan ayah itu sangat-sangat keras.
Tak lama, Gama datang sambil mendorong kursi roda sang Nenek. Ia berjalan menuju meja makan dan melewati ketiga orang itu.
"Gama... Aku datang ingin bertemu denganmu" ucap Shintia kala melihat Gama. Namun sayangnya Gama tidak menggubrisnya.
Melihat sikap cuek Gama terhadap Shintia, Bunda Mila akhirnya meminta Shintia ikut sarapan saja.
"Kita sarapan saja dulu ! Nanti kamu bahas urusanmu dengan Gama !" ucap Bunda Mila.
Akhirnya Shintia ikut bergabung di meja makan. Shintia yang tidak sabar ingin memperlihatkan foto itu tidak peduli walau sedang di meja makan, ia tetap mengeluarkan gadgetnya.
"Gama... Coba kamu lihat siapa yang ada di dalam foto ini !" pinta Shintia sambil menyodorkan gadget miliknya.
Tapi lagi-lagi Gama tidak memperdulikannya. Tentu saja ia merasa kesal.
Bunda Mila yang melihat wajah kesal Shintia segera bertanya.
"Memang itu foto siapa ?"
"Coba Tante lihat !" pinta Shintia.
Bunda Mila segera merebut gadget milik Shintia dan melihat foto Ayana bersama seorang lelaki dan juga anak kecil diantara mereka.
"Darimana kamu mendapatkannya ?" tanya Bunda Mila.
"Di hotel Tante" jawab Shintia menggebu-gebu, "Shintia rasa itu adalah suaminya Ayana. Atau bisa saja itu adalah pria hidung belang yang ingin merasakan servis dari Ayana. Jika tidak sepeti itu mana mungkin mereka bertemu di hotel" lanjutnya.
*BRAK*
Gama menggebrak meja kala mendengar ucapan Shintia. Ia marah karena seseorang telah menghina wanitanya.
Sontak saja semua orang yang berada di meja makan terkejut. Tak terkecuali Shintia, tapi rasa keterkejutannya terganti dengan senyuman saat merasakan jika Gama sedang marah. Ia sangat yakin jika pria itu marah kerena mengetahui Ayana adalah wanita murahan.
"Omong kosong apa yang kamu katakan ?" Gama menatap Shintia dengan tatapan marah.
"Ini bukan omong kosong Gama. Memang kenyataan jika Ayana bertemu dengan seorang pria di hotel. Coba deh kamu lihat fotonya !" Shintia mengambil gadgetnya dari tangan Bunda Mila dan memperlihatkan kepada Gama.
"Lihatlah betapa mesranya mereka. Ketemuannya di hotel sudah pasti tujuannya untuk main di hotel. Aku tidak menyangka ternyata Ayana semurahan itu. Menjijikan sekali" lanjutnya.
Gama menatap layar gadget Shintia dan tersenyum sinis. Ia lalu mengambil mengambil gagdet itu dari tangan Shintia dan melemparnya ke lantai hingga gadget itu hancur berkeping-keping.
"GAMA !!! Apa yang kamu lakukan ?" pekik Shintia saat melihat Gama membanting gadget miliknya.
"Lain kali cari bukti yang lebih akurat !" Ucap Gama dengan suara dingin.
"Memangnya kurang akurat apalagi bukti itu ? Bukannya sudah terlihat jelas jika Ayana memang sedang di hotel bersama pria lain ?" Balas Shintia emosi.
"Apa kamu lihat Ayana masuk dalam hotel bersama pria itu ?" tanya Gama setelah mengehentikan tawanya.
Shintia yang tadinya marah dengan Gama kini marah pada dirinya sendiri. Bagaimana ia bisa begitu bodoh tidak mengikuti Ayana. Ia terdiam sesaat tapi ia mencoba mencari jawaban untuk membela diri.
"A-aku tidak mempunyai bukti. Tapi kita bisa mengecek CCTV disana" jawabnya. Ia yakin Ayana memang seorang pemain.
Gama tersenyum miring, "Bisa saja aku melakukan apa yang kamu sarankan tadi. Tapi aku Benyak urusan penting jadi tidak bisa. Tapi jika kamu mau setuju dengan syarat yang aku ajukan maka aku akan datang mengecek CCTV disana dan membuktikan apakah benar Ayana seorang pemain. Jadi maukah kamu menyetujui syaratku ?"
"Sya-rat apa ?" tanya Shintia yang mulai merasakan perasaan yang tidak enak.
"Jika Ayana tidak terbukti sebagai pemain. Maka kamu harus setuju membatalkan perjodohan kita ! Dan juga katakan pada orang tuamu untuk tidak meminta uang ganti rugi karena perjodohan dan kerja sama anatar perusahaan kita batal. Jika kamu tidak mau itu artinya kamu PEMBOHONG !" Ucap Gama menekan kata 'Pembohong'
"Mana bisa seperti itu ? Aku tidaklah berbohong" Shintia masih mencoba membela diri.
"Kalau begitu kamu harus setuju dengan syaratku untuk membuktikan jika kamu tidak berbohong. Bila memang benar Ayana pemain maka aku akan segera menikahimu. Tapi jika tuduhanmu tidak benar, makan aku akan membatalkan perjodohan kita dan kamu harus meminta pada orang tuamu untuk tidak meminta ganti rugi. Toh perusahaan milik keluargamu dan keluargaku juga belum melakukan kerja sama. Baru akan memulai, jadi disini tidak ada yang dirugikan" balas Gama.
"Baiklah, aku setuju" jawab Shintia dengan yakin. Ia masih menyakini jika Ayana memang pemain.
"Baiklah, aku akan membuat surat perjanjian dulu. Nanti siang aku akan datang menemuimu" ucap Gama.
Pria itu lalu berdiri dan meninggalkan semua orang yang ada di meja makan.
Sementara di rumah Ayana, tepatnya di meja makan. Suasana hangat menyelimuti keluarga itu. Celotehan Zayyan membuat semua orang dewasa sangat gemas padanya.
Setelah selesai sarapan. Papa Hartono berangkat ke perusahaan. Omah menemani Zayyan bermain. Sementara Ayana dan Mama Lisa sedang membereskan dapur.
"Semalam kalian bicara apa ?" tanya Mama Lisa.
Ayana mengerutkan keningnya, ia bingung dengan pertanyaan sang Mama.
Mama Lisa yang melihat Ayana sepertinya kebingungan mencoba memperjelas pertanyaannya.
"Tadi malam kamu dan Gama bicara apa ?" tanya Mama Lisa.
Mendengar nama pria yang semalam memeluknya membuat wajah Ayana mendadak jadi merah. Ia teringat dengan kejadian tadi malam saat dirinya menikmati pelukan Gama.
'Ya Tuhan... Ada apa dengan pikiranku ini' batin Ayana. Kedua tangannya ia kibas-kibaskan seolah sedang menghalau sesuatu masuk dalam pikirannya.
Hal itu membuat Mama Lisa heran dengan tingkah aneh sang putri.
"Ayana, kamu kenapa ?" tanya Mama Lisa.
Sontak Ayana terkejut. "Ah... Bu-bukan apa-apa kok Ma" jawab Ayana mencoba menenangkan pikirannya yang terus mengingat kejadian semalam. Dan entah kenapa kata-kata 'Sayang' yang diucapkan Gama kini terngiang-ngiang di telinganya.
"Bukan apa-apa tapi kok main pelukan ?" goda Mama Lisa semakin membuat wajah Ayana merona.
"Mama ini bicara apasih. Siapa yang main peluk-pelukan, orang dia-nya aja yang senang main nyosor. Memang dasar otak mesum" jawab Ayana tanpa sadar membuat tangannya menutup mulutnya. Tanpa banyak bicara, Ayana langsung masuk ke kamarnya karena sangat malu pada sang Mama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo sayang²ku 😘 sambil nungguin Novel ini Up, ini Sa kasih rekomendasi novel bagus untuk kalian 🤗 jangan lupa mampir ya 🤩
Judul : Gadis Kesayangan Tuan Agra
Author : Nurmay