Young Mommy

Young Mommy
Part 58



...🍃Happy Reading🍃...


Siang harinya Ayana menemani Zayyan bermain di paviliun pinggir kolam. Sudah pukul satu siang, tapi pria itu bekum juga muncul. Biasanya juga baru pukul sebelas siang pria itu sudah berada di rumahnya.


'Aduh ngapain juga aku berharap dia datang. Lebih bagus seperti ini' batin Ayana.


Sementara Gama berada di sebuah kafe, tempat yang ia sepakati untuk bertemu dengan Shintia.


Tanpa mengulur waktu pria itu membuat surat perjanjian antara dirinya dan Shintia.


"Jadi aku jelaskan dulu isi perjanjian ini. Seperti yang kita sepakati tadi pagi, perjodohan kita batal dan tidak ada kata ganti rugi sama sekali jika Ayana tidak terbukti sebagai pemain. Tapi jika Ayana memang terbukti sebagai pemain, maka aku akan menikahimu" ucap Gama serius.


"Baiklah aku akan setuju" tanpa pikir panjang lagi Shintia menandatangani surat perjanjian itu.


"Bisa langsung ke hotel ?" ucap Gama.


"Ayo !" Dengan penuh kepercayaan diri Shintia berjalan di belakang Gama. Baginya tidak sulit mendapatkan rekaman CCTV setiap kamar hotel karena dia bisa membayarnya.


"Gama, bisakah kita satu mobil ?" tanya Shintia kala mereka berada di area parkir.


"Tidak" jawab Gama singkat lalu masuk ke mobilnya.


"Ck... Sekarang kamu bisa menolakku, tapi saat Ayana terbukti menjadi ******, maka kamu akan menjadi milikku seutuhnya" ucap Shintia tersenyum licik.


Setibanya mereka di hotel, Gama dan Shintia segera meminta ijin untuk memeriksa rekaman CCTV hotel. Setelah mendapat ijin mereka memeriksa rekaman CCTV bagian lobby terlihat dahulu. Tak butuh waktu lama mereka menemukan rekaman video Ayana sedang menunggu seseorang di kursi lobby bersama seorang anak yang tak lain adalah Zayyan.


Gama masih ingat dengan pakaian mereka, jadi ia tahu jika Ayana ke hotel setelah mereka bertemu di kafe.


Dalam rekaman tersebut, Fabio datang menghampiri mereka. Taka ada adegan mesra sama sekali. Tidak seperti di dalam foto yang diambil Shintia yang terlihat mereka sangat mesra.


Shintia melihat video itu berharap jika Ayana dan pria itu masuk ke kamar hotel seperti dugaannya. Tapi sayangnya Ayana justru meninggalkan hotel.


'Apa-apaan ini ?' batinnya kesal.


Gama tersenyum puas saat Ayana meninggalkan hotel.


"Jadi..." ucapnya sambil menatap ke arah Shintia.


"Bagian mana yang menurut kamu begitu mesra ?" lanjutnya bertanya.


"I-ni... Hmm, Gama sepertinya kita perlu periksa beberapa rekaman CCTV lagi ! Aku sangat yakin mereka berdua sama-sama tidur di hotel dan bermain" jawab Shintia mulai kelabakan.


"Tidak ada lagi yang perlu kita cek. Semua sudah jelas. Kamu menuduh Ayana dan dengan begitu bodohnya kamu yang berpikir aku akan mudah ditipu dengan foto seperti itu ? Kamu pikir aku seperti pria-pria di kebanyakan novel yang hanya melihat satu sisi saja dan bisa langsung percaya ?" Balas Gama.


"Dengar Shintia. Sebelum mengarang cerita, sebaiknya kamu belajar terlebih dahulu. Mana ada seorang wanita yang ingin main membawa anaknya ? Dan asal kamu tahu ya, Ayana dan laki-laki itu memang saling kenal. Bahkan Nenekku saja mengenal pria itu" lanjut Gama tersenyum penuh kemenangan.


"Ja-jadi kamu kenal pria itu ?" tanya Shintia dengan suara yang sedikit meninggi.


"Benar sekali. Bahkan kami saling mengenal baik. Kamu juga harus tahu jika pria itu yang membantuku bertemu dengan Ayana" jawab Gama. Ia begitu senang melihat wajah kesal Shintia.


"Kamu tahu pria itu tapi kamu pura-pura tidak mengenalnya untuk menjebakku ? Dasar licik kamu Gama. Perjanjian itu tidak sah, aku tidak ingin membatalkan perjodohan kita" teriak Shintia tidak terima.


"Kamu tidak bisa mengingkari janjimu. Jika kamu mengingkarinya maka aku akan membawanya ke proses hukum. Kamu tidak baca semua isi surat perjanjian tadi ? Jika kamu berani melanggar maka aku berhak melaporkan kamu atas kasus pencemaran nama baik"


Gama menatap remeh wanita bodoh di depannya. Bisa-bisanya wanita ini langsung setuju tanpa membaca isi surat perjanjian.


"Lakukan saja ! Kamu mana ada bukti ?" Shintia menantang Gama.


"Kamu masih meremehkanku ?" Tanya Gama mencoba meyakinkan Shintia.


"Akh... Sialan kamu Gama. Kali ini kamu menang, tapi tunggu pembalasan dariku" teriak Shintia sembilan mendorong tubuh Gama. Wanita itu segera berlalu meninggalkan Gama yang tertawa puas.


🍃


Malam harinya, Ayana menatap putranya main sendiri di depan TV. Ada rasa kasihan yang menyelimuti perasaan Ayana saat melihat Zayyan bermain seorang diri.


'Apa segitu saja perjuangannya ? Benar-benar lelaki pengecut' batinnya kesal.


Sibuk memikirkan Gama hingga wanita itu tidak sadar orang yang sedang dipikirkannya sudah duduk di sampingnya.


"Sedang mikirin aku ya" bisik Gama membuat Ayana menjerit kaget.


"Argh..." Tanpa sadar Ayana memukul kepala Gama hingga pria itu terhuyung ke belakang.


"Ka-kamu ke-napa bisa ada disini ?" tanya Ayana yang tidak peduli Gama meringis kesakitan.


"Om Gama" teriak Zayyan saat melihat Gama duduk di dekat Mamanya.


Taka lama Papa Hartono mendekati mereka, "Ada apa Ayana ?" tanya Papa Hartono panik.


"Ti-tidak apa-apa Pa" jawab Ayana sambil menggeleng.


"Kamu bikin kaget Papa saja" ucap Papa Hartono meninggalkan kembali ke teras untuk menikmati kopinya.


Ayana kembali menatap Gama dengan tatapan kesal. Sementara Gama yang ditatap memberikan senyuman menawannya pada wanita itu.


"Kenapa kamu kemari ?" ketus Ayana.


"Aku ingin bertemu dengan dirimu dan juga putra- mppphh"


Ayana menutup mulut Gama dengan telapak tangannya karena takut Zayyan mendengar ucapannya. "Jangan bicara sembarangan saat Zayyan ada" tegurnya.


Gama mengangguk mengerti. Dalam hati Gama begitu senang karena tanpa Ayana sadari tubuh mereka sangat dekat.


"Mama, kenapa mulut Om Gama ditutup ?" tanya Zayyan menghampiri sang Mama dan Gama.


Ayana melihat tangannya masih menempel di bibir Gama dan ia juga menyadari jika tubuh mereka begitu rapat. Dengan gerakan cepat Ayana menarik tangannya dan menjauhkan tubuhnya dari Gama.


Tentu saja ia sangat malu pada pria itu. Bahkan jantungnya mulai berdetak tidak karuan.


'Aahkkk.. rasanya malu sekali' batin Ayana menjerit.


Sementara Gama tersenyum saat melihat Ayana menjauh. Bahkan wanita itu terlihat membuang muka. Gama tebak jika wanita itu pasti sangat malu.


'Menggemaskan sekali. Coba saja kita sudah baikan, aku pasti akan mencium pipimu yang merah merona itu' batin Gama.


"Om dan Mama ini aneh sekali" ucap Zayyan yang memperhatikan interaksi kedua orang dewasa itu.


"Mama kamu yang aneh" ucap Gama sambil melirik Ayana.


Sontak saja Ayana membulatkan matanya karena kesal mendengar ucapan Gama. Sementara Gama justru terkekeh melihat kekesalan Ayana.


"Om kita main yuk di paviliun !" ajak Zayyan.


"Baik Boss" jawab Gama semangat.


Gama segera membantu Zayyan mengambil mainannya. Sementara Ayana hanya menjadi penonton saja. Ia mencoba memperhatikan raut wajah Zayyan. Saat main tadi Zayyan tidak sesenang itu. Berbeda ketika ada Gama, senyum putranya melengkung indah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Halo sayang²ku 😘 sambil nungguin Novel ini Up, ini Sa kasih rekomendasi novel bagus untuk kalian 🤗 jangan lupa mampir ya 🤩



Judul : Rahim Sengketa


Author : Asri Faris