
...🍃HAPPY READING🍃...
"Om, Zayyan ingin ke tempat kerja Mama" rengek Zayyan ketika sedang bermain dengan Gama.
Gama yang sedang fokus menyusun Lego menjadikannya sebuah kastil kini mengalihkan atensinya pada Zayyan.
"Zayyan mau bertemu dengan Mama ?" tanya Gama.
"Iya Om" jawab Zayyan.
Gama berpikir sejenak, lalu mengangguk setuju. Akhirnya mereka meminta ijin dengan Papa Hartono. Setelah itu Gama mencoba memesan taksi online.
"Sesuai lokasi ya Pak" ucap Gama kala berhasil mendudukkan bokongnya di dalam mobil.
"Baik Pak"
Akhirnya mobil itu berjalan meninggalkan kediaman Ayana. Selama perjalanan Gama mengajak putranya mengobrol.
"Zayyan, Om boleh tanya tidak ?"
Zayyan lalu menatap Gama lalu mengangguk.
"Memangnya Om mau tanya apa ?" tanya Zayyan.
"Emm... Apa Om boleh tanya tentang Papa Zayyan ?" tanya Gama hati-hati, ia takut putranya akan sedih atau merasa terluka.
"Zayyan nggak tahu apa-apa tentang Papa. Yang Zayyan tahu Papa kerja di tempat yang jauh dan kata Mama belum bisa pulang. Hanya itu yang Zayyan tahu, selebihnya bisa Om tanyakan sama Mama !" jelas Zayyan dengan suara lirih.
Tiba-tiba pria kecil itu menatap kosong ke luar jendela mobil. Gama jadi merasa bersalah pada putranya. Sangat terlihat wajah sedih Zayyan kala membahas Papanya yang tida ia kenal sama sekali.
'Apa kamu akan masih menerima kehadiran Papa saat kamu tahu semuanya nanti ?' batin Gama.
Pria itu mulai khawatir jika Zayyan akan membencinya saat tahu dirinya Papa jahat yang telah meninggalkan mereka.
Tak lama mereka tiba di depan toko roti milik Ayana. Mereka segera turun dari mobil. Wajah Zayyan yang tadinya murung kini kembali ceria. Gama menghala nafas lega saat melihat putranya kembali ceria. Untunglah Zayyan bukanlah tipe anak-anak yang larut dalam kesedihannya.
Gama menggandeng tangan Zayyan memasuki toko roti milik Ayana.
"Mama... Zayyan datang" teriak Zayyan kala sudah masuk dalam toko.
Beberapa pengunjung melihat kehadiran Zayyan. Tak ada yang marah saat mendengar anak kecil itu berteriak, karena semua pengunjung rata-rata pelanggan Ayana. Mereka sudah tahu jika Zayyan adalah anak pemilik toko roti ini.
Gala yang saat itu duduk di meja paling pojok juga menatap ke arah Zayyan.
DEG.
Seketika mata Gala membulat sempurna kala melihat Zayyan dan Gama saling bergandengan. Gala menyaksikan keakraban papa dan anak itu.
"Kakak" ucapnya lirih.
Tentu saja Gama tidak mendengarkan suara sang adik. Gama bejalan masuk mengikuti langkah Zayyan. Sementara Gala masih terpaku mencoba menenangkan perasannya yang terkejut.
Di dalam dapur, Ayana masih sibuk dengan wedding cake buatannya. Sakin sibuknya wanita itu, sampai-sampai tidak menyadari kehadiran putranya dan juga Gama.
"Mama" ucap Zayyan membuat Ayana tersentak.
Sontak Ayana memutar tubuhnya saat mendengarkan suara putranya. Wanita itu semakin terkejut saat melihat Gama berdiri di belakang Zayyan.
Gama melempar senyum manisnya pada Ayana yang menunjukkan ekspresi keterkejutannya.
"Ka-kamu kenapa bisa ada disini ?" tanya Ayana mulai gugup. Tentu saja ia gugup karena kedatangan pria yang ia cintai.
"Zayyan ingin menemuimu. Jadi aku mengantarnya kemari" jawab Gama mendekati Ayana.
Ayana semakin grogi saat tubuh Gama semakin dekat padanya. Gama berdiri tepat di hadapan Ayana lalu berbisik.
"Sebenarnya aku juga merindukan kamu sayang"
Seketika wajah Ayana memerah saat mendengar ungkapan pria itu. Terlebih lagi deru nafas Gama yang membelai lembut telinganya membuat jantungnya bekerja maksimal.
Gama menjauhkan bibirnya dari telinga Ayana. Pria itu memandang wajah kekasihnya dengan senyum jail.
"Cantik sekali... Pacar siapa sih ?" godanya.
Gama terkekeh mendengar ucapan Ayana. Setelah puas menggoda Ayana, Gama memilih keluar dengan Zayyan. Gama tidak ingin menggangu Ayana bekerja.
Mereka kini duduk di salah satu meja pengunjung. Gama menyapu bersih semua ruangan ini dengan pandangan matanya. Ia menilai toko roti milik Ayana, menurut Gama cukup nyaman meskipun tempatnya masih terbilang kecil.
Tak lama seorang pria menghampiri meja Gama. Pria itu tak lain adalah Gala, sang adik. Gama menatap sang adik dengan alis yang berkerut.
"Sedang apa kau disini ?" tanya kaget dengan kehadiran Gala.
Gala tidak menjawab pertanyaan sang kakak. Pria itu malah duduk di samping Zayyan.
"Hai, apa kamu masih mengingat Om ?" tanya Gala pada Zayyan.
Zayyan tentu menggelengkan kepalanya. Ia menatap Gala dengan tatapan bingung.
"Kalau gitu kita kenalan lagi ! Perkenalkan, Om Gala. Kita pernah bertabrakan disana" Gama menunjuk tempat saat mereka tidak sengaja bertabrakan.
Zayyan tampak berpikir sejenak, tak lama pria kecil itu mengangguk. "Om Gala, Zayyan udah ingat" ucapnya seraya tersenyum.
"Good Boy" balas Gala sambil mengacak-acak rambut Zayyan. Namun pria kecil itu segera menepis tangan Gala.
"Zayyan tidak suka diperlakukan seperti itu !" ucapnya dengan wajah cemberut.
"Maaf Boy, Om tidak tahu" ucap Gala.
Gama yang melihat interaksi sang adik dengan putranya mencoba bertanya lagi.
"Sedang apa kamu disini ?" tanya Gama.
Gala mengalihkan atensinya pada sang kakak. Seketika tatapan keduanya beradu.
"Sejak kapan kamu menemukannya ?" tanya Gala datar.
Gama menaikkan sebelah alisnya, "Apa urusanmu menanyakan itu ?"
Gala mengepalkan tangannya kala mendengar ucapan sang kakak. "Apa kamu lupa dengan ancaman dariku ? Jika kamu berani meninggalkan Ayana, maka aku tidak akan pernah membiarkan kamu kembali padanya"
Gama tersenyum miring mendengar balasan adiknya.
"Memangnya kamu siapa ? Kamu tidak berhak atas kehidupan Ayana, hanya dia sendiri yang berhak menentukan pilihannya" sinis Gama.
"Aku memang tidak memiliki hak untuk mengatur Ayana. Tapi aku akan memastikan jika kamu bukanlah pilihan hidup Ayana" balas Gala dengan tegas.
"Percaya diri sekali kamu" ledek Gama.
Gala mengetatkan rahangnya karena menahan kekesalannya. Kini pria itu kembali merasa terancam setelah rivalnya kembali.
Keduanya sama-sama terdiam dan sibuk dengan perasaan mereka. Hingga suara Zayyan memecahkan kesunyian di meja mereka.
"Wajah Om Gama kok hampir mirip dengan wajah Om Gama ? Bahkan nama kalian juga hampir sama" tanya Zayyan bingung.
Keduanya kompak menatap Zayyan.
"Dia adik Om" "Dia kakak Om" jawab keduanya kompak. Keduanya kemudian saling melirik dengan sinis.
Dengan wajah polosnya, Zayyan kembali bertanya, "Tapi mengapa kalian terlihat seperti orang yang bermusuhan ?"
Kali ini mereka kompak tidak menjawab pertanyaan Zayyan. Tidak mungkin kan jika mereka saudara yang bermusuhan karena sama-sama menyukai Mamanya.
Meja itu kembali sunyi, kedua pria itu sama-sama merasakan hawa panas. Meskipun mulut mereka sama-sama diam, tapi kedua matanya saling beradu dan berseteru.
Di dalam dapur, Ayana baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Wanita itu mencuci tangannya dan menyimpan apronnya.
Ayana lalu keluar dan menyerahkan sisa pekerjaan pada Mia. Ia mencari Gama dan Zayyan diantara meja pengunjung. Matanya lalu menangkap sosok Gama, tapi pria itu duduk tidak hanya dengan putranya.
"Apa itu kenalan Gama ?" Ayana bermonolog dengan dirinya sendiri.
Tak ingin penasaran, akhirnya wanita itu mendekati meja Gama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ada yang mau bagi gift nggak ? 🤣