Young Mommy

Young Mommy
Part 53



...🍃Happy Reading🍃...


Mona kini duduk di dekat Ayana. Ia menatap Zayyan yang juga menatapnya.


"Apa dia ponakanku ?" tanya Mona.


"Iya" jawab Ayana, "Zayyan, sekarang kenalan sama Tante !" lanjut Ayana.


Zayyan menurut dan mengulurkan tangannya, "Zayyan Arkana" ucap Zayyan memperkenalkan diri.


"Panggil Aunty Mona, jangan pakai Tante !" Pesan Mona, "Kamu sangat tampan" puji Mona sambil mencubit pipi Zayyan yang tembem karena merasa gemas.


"Stop Aunty ! Zayyan tidak suka" ucapnya sambil menepis tangan Mona.


"Zayyan, jangan seperti itu Nak !" tegur Ayana.


"Tidak masalah, namanya juga anak-anak" ucap Mona tidak keberatan. Ia malah semakin ingin menggoda Zayyan karena tidak suka jika pipinya dicubit.


"Oh iya, bagaimana kabarmu ?" tanya Ayana.


"Kabarku tentu sangat baik, tidak mungkin aku kemari jika tidak sedang baik-baik saja" jawab Mona santai.


"Ayana, kenapa kamu bisa berada disini ? Kapan kamu kembali ke Bandung ? Dan selama ini kamu tinggal dimana ? Kamu udah bertemu dengan orang tuamu ?" lanjut Mona memberikan pertanyaan beruntun pada Ayana.


"Tanya satu-satu dong Mona !" ucap Ayana. Ia pusing mendengarkan rentetan pertanyaan dari sahabatnya itu.


"Hahaha, maaf" ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Ayana hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah temannya yang tidak berubah.


"Selama ini aku tinggal di Surabaya. Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana awal mula aku bisa kesana. Yang jelas aku berada di Surabaya karena pada saat itu aku diusir dari kampung Omah. Aku sudah bertemu dengan orang tuaku, aku bisa berada disini karena aku dijebak sama Fabio" jelas Ayana.


"Dijebak Fabio ?" Mona mengerutkan keningnya karena tidak paham.


"Jadi seperti ini..." Ayana menjelaskan siapa itu Fabio, lalu melanjutkan penjelasannya mengenai penjebakan Fabio yang mengatakan memerlukan bantuan Ayana untuk menggantikan sekertarisnya, tapi kenyataannya Fabio sudah mengatur rencana agar ia bertemu dengan kedua orang tuanya.


"Jadi kamu sudah bertemu dengan Lucas ? Itu artinya kamu dan Gama-"


Ayana segera mengangguk, "Jangan sebut namanya !" pintanya.


"Berarti pria itu juga ikut dalam rencana itu ?" tanya Mona.


"Sepertinya begitu" jawab Ayana.


"Wah, gimana perasaanmu bertemu dengannya lagi ?" tanya Mona penasaran akan reaksi Ayana.


"Marah, benci, takut" jawab Ayana, "Aku marah kerena dia berani muncul di hadapanku. Aku benci dia karena berusaha mengambil hati keluargaku. Aku takut jika ia mengambil Zayyan dariku" jelas Ayana.


Mona semakin mendekat mencoba mengelus punggung temannya. Ia mengerti apa yang Ayana rasakan.


Zayyan yang sedari tadi mendengar pembicaraan sang Mama dengan Mona kini mengeluarkan pertanyaan.


"Memangnya siapa yang mau merebut Zayyan dari Mama ? Apa Om Gama ?" tanya Zayyan membuat Ayana dan Mona menatap ke arahnya.


Ayana merutuki dirinya yang terlalu bodoh. Ia lupa jika Zayyan sedang ikut dengannya. Sementara Mona menatap takjub pada Zayyan karena dapat menangkap arah pembicaraan mereka.


"Anakmu umur berapa sih ?" tanya Mona.


"Jelang 5 tahun" jawab Ayana.


"Tapi pemikirannya sudah kritis begitu ya ?" tanya Mona.


Ayana hanya mengangkat kedua bahunya. Ia lalu memandang putranya yang sedang menunggu jawaban darinya.


"Bukan siapa-siapa sayang" jawab Ayana.


Zayyan menatap sang Mama dengan tatapan tidak percaya. Melihat hal itu membuat Ayana menghela nafas.


Sementara di meja lain, Gama baru saja menyelesaikan makan siangnya. Pria itu ingin pamit pada Tuan Kai sebelum Ayana dan Zayyan pergi dari kafe ini.


"Kalau begitu, saya pamit ya Tuan Kai. Saya masih ada urusan. Senang bertemu dan bekerjasama sama dengan Anda" ucap Gama mulai berbicara formal.


Gama lalu menjabat tangan Kai dan Jennie. Kedua anak Tuan Kai mencium punggung tangan Gama.


"Apa Om punya anak yang tampan ?" tanya Andini secara tiba-tiba pada Gama.


Pria itu mengerutkan alisnya. Sementara Kai dan Jennie tersenyum canggung pada Gama.


"Sayang, Om Gama ini belum menikah, jadi belum punya anak" bisik Mommy Jennie di telinga Andini.


"Ya sayang sekali, padahal jika Om Gama punya putra yang tampan seperti wajahnya, Andini mau menikah dengannya" ucap putri sulung Tuan Kai secara gamblang.


Kedua orang tuanya sudah sangat malu mendengar celoteh putri sulungnya yang terdengar menggelitik di teling orang dewasa. Bagaiman mungkin putrinya yang baru berusia 8 tahun sudah berani berbicara tentang pernikahan.


Sementara Gama tidak bisa menahan tawanya.


"Hahaha... Benarkah ?" tanyanya yang mendapat anggukan kepala dari Andini, "Baiklah, nanti Om katakan pada putra Om jika ada seorang gadis kecil yang cantik ingin menikah dengannya" lanjutnya sambil mengelus kepala Andini.


"Tapi Mommy bilang Om nggak punya anak karena belum menikah" balas Andini.


Gama tersenyum mendengar ucapan Andini. Ia lalu menunduk dan berbisik di telinga Andini.


"Om punya anak, wajahnya sangat tampan. Tapi Om belum bisa memperkenalkannya padamu. Nanti kapan-kapan Om kenalkan anak Om denganmu. Tapi kamu juga harus janji tidak mengatakannya ke siapa-siapa. Ini rahasia kita berdua"


Andini tersenyum mendengar ucapan Gama. Ia membalas bisikan Gama dengan anggukan kepala yang penuh semangat.


Gama lalu berdiri tegak dan pamit pada keluarga Tuan Kai. Pria itu berjalan menuju sebuah meja yang berisikan dua wanita dewasa dan satu anak kecil yang sangat tampan.


"Zayyan" ucapnya saat dirinya sudah begitu dekat dengan meja tempat Yang duduk.


Sontak saja Zayyan memutar kepalanya dan menatap ke arah pemilik suara itu. Matanya berbinar kala melihat Gama sedang tersenyum padanya.


Sementara Mona membulatkan matanya kala melihat Gama berdiri tepat di belakang Ayana.


Sementara Ayana sendiri merasa tubuhnya mendesak membeku saat mendengar suara yang sangat ia kenal.


"Om Gama... Ayo duduk disini !" teriak Zayyan sambil menarik tangan Gama duduk di dekatnya. Jadilah Zayyan duduk diantara Ayana dan Gama.


Sebelum duduk, Gama sempat melirik ke arah Ayana yang hanya terdiam. Gama bisa menebak jika wanita itu pasti sedang marah karena ia muncul di hadapannya lagi.


"Ga-Gama" ucap Mona terbata.


Gama hanya melempar senyum pada sahabat Ayana.


Seketika meja yang ditempati Ayana terasa sangat canggung. Jika saja tidak ada Zayyan yang berceloteh maka sudah dipastikan meja itu seperti sebuah kuburan yang sangat sunyi.


"Om Gama mau makan siang juga disini ?" tanya Zayyan pada Gama.


"Om sudah makan, tadi Om makan disana" Gama menunjuk ke arah meja yang ditempati Tuan Kai dan keluarganya.


"Itu keluarga Om" Tanya Zayyan.


"Bukan, itu adalah teman kerjanya Om" jawab Gama.


"Oh seperti itu ya Om" ucap Zayyan.


Zayyan terus memberikan pertanyaan pada Gama dan dengan senang hati pun Gama menjawab pertanyaan Zayyan. Keduanya berbicara sangat akrab. Membuat Ayana sangat kesal karena baru tiga hari berada di Bandung, Gama sudah bisa merebut hati putranya.


Meja itu hanya diramaikan oleh suara Zayyan dan Gama. Sementara kedua wanita itu hanya jadi penyimak. Sesekali Gama melirik wajah Ayana yang tampak kesal. Namun Gama tidak menghiraukan kekesalan Ayana, toh ia duduk disini karena permintaan Zayyan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Halo sayang²ku 😘 sambil nungguin Novel ini Up, ini Sa kasih rekomendasi novel bagus untuk kalian 🤗 jangan lupa mampir ya 🤩



Judul : Belenggu Pernikahan Semu


Author : Teh Ijo