
...🍃Happy Reading🍃...
Setelah merenungkan perkataan sang Papa, akhirnya Ayana melunak. Meskipun ia merasa terpaksa pergi dengan Gama, tapi ia tidak boleh egois. Kebahagiaan Zayyan lebih penting baginya.
Senyum bahagia jelas tergambar di wajah Zayyan. Sementara Ayana, jangan ditanya lagi. Sudah pasti wajahnya ia tekuk.
"Om kita mau jalan kemana ?" tanya Zayyan.
Saat ini mereka sedang berada di dalam mobil. Zayyan duduk di samping Gama sementara Ayana memilih duduk di kursi penumpang bagian belakang.
"Kamu mau ke Bandung Zoo tidak ?" tanya Gama pada Zayyan.
"Zoo ? Kebun binatang ?" beo Zayyan.
"Iya, kamu suka lihat binatang ?" tanya Gama.
"Suka. Suka sekali Om. Zayyan mau kesana" ucap Zayyan antusias.
"Baiklah, kita akan kesana" balas Gama. Tangan kirinya terlepas dari stir mobil dan mengelus lembut pucuk kepala putranya.
Sementara Ayana hanya bisa menjadi penonton interaksi kedua pria berbeda generasi itu. Ayana benar-benar tidak menyangka, dalam waktu yang singkat Gama bisa merebut hati putranya.
Akhirnya mereka memilih untuk pergi ke kebun binatang. Zayyan dan Gama berjalan denan tangan yang bergandengan. Sementara Ayana hanya mengekor di belakang kedua pria itu.
'Bahkan mereka meninggalkanku' batin Ayana kesal melihat kepergian Gama dan Zayyan.
"Zayyan, kita lihat jawab apa dulu ya ?" tanya Gama.
"Kita lihat Jerapah Om !" Jawab Zayyan.
"Ok, kita lihat Jerapah dulu"
Gama dan Zayyan berjalan mencari tempat Jerapah. Setelah menemukannya, Gama memberikan beberapa wortel pada Zayyan.
"Zayyan, coba kamu beri makan Jerapahnya !"
Zayyan mengangguk dan mengambil wortel yang diberikan Gama.
"Om, gendong Zayyan dong ! Kan Zayyan kecil, sementara Jerapahnya sangat tinggi !" pinta Zayyan.
Dengan senang hati Gama memenuhi permintaan putra kecilnya itu. Ia menggendong Zayyan, lalu tangan Zayyan terulur memberi makan Jerapah tersebut. Tawa Zayyan meledak ketika Jerapah itu memakan wortel di tangan Zayyan. Pria kecil itu merasa geli ketika lidah Jerapah itu menyentuh kulit tangannya.
"Geli sekali Om. Hahaha" ucapnya.
Setelah makana Jerapah habis, mereka ke tempat binatang lainnya. Ayana masih setia berada di belakang kedua pria itu. Sungguh mengenaskan nasibnya, dirinya bagaikan orang asing diantara kedua pria itu.
'Apa aku boleh berteriak dan menangis ? Hua... Rasanya hatiku sakit sekali melihat putraku tertawa dengan orang lain sementara aku diabaikan' jerit batin Ayana.
Dua jam lebih, akhirnya Gama mulai merasa lelah berjalan sambil menggendong Zayyan.
"Sudah ya, kita sekarang cari makan ! Om sangat lapar" ucap Gama.
"Iya Om, Zayyan juga lapar" jawab Zayyan.
Gama lalu menengok Ayana yang sepertinya juga lelah dan kelaparan. Sebenarnya pria itu bukannya lupa dengan kehadiran Ayana, tapi pria itu hanya ingin menikmati waktunya berdua dengan Zayyan. Tanpa pria itu sadari jika hal tersebut membuat Ayana menahan amarah.
"Apa kamu juga lapar ?" tanya Gama.
Ayana menatap tajam pria bodoh di depannya. Tentu saja ia merasa lapar, kenapa harus bertanya lagi.
"Kamu pikir hanya kamu yang manusia ? Aku juga manusia, jalan berjam-jam tentu membuatku lelah dan kelaparan" ketus Ayana.
"Baiklah, karena Mama juga lapar, kita cari tempat makan" ucap Gama dengan senyum tanpa rasa bersalah.
"Mama ?" beo Ayana mengerutkan keningnya.
"Iya, kamu kan Mamanya Zayyan. Atau kamu mau dipanggil, Bunda ? Mommy ? Mami ?" Goda Gama.
Tentu saja Ayana melotot pada pria itu. Hal tersebut membuat Gama terkekeh.
"Ya sudah. Kita makan sekarang !" Ucap Gama sambil menarik tangan Ayana.
"Lepas !" pinta Ayana.
"Tidak, nanti kamu hilang sayang" bisik Gama di telinga Ayana.
'Ya Tuhan, jantung ini... Kenapa tidak bisa terkontrol sih saat di dekatnya' batin Ayana.
Gama semakin memperkuat genggaman tangannya. Sementara Ayana hanya bisa pasrah. Lebih tepatnya Ayana berusaha menormalkan detak jantungnya.
Gama membukakan pintu mobil untuk Ayana dan wanita itu segera masuk ke mobil dan menutupnya. Tingkah Ayana tentu membuat Gama tersenyum geli.
"Ayolah jantung... Jangan berdebat seperti ini, kamu membuatku malu saja" ucap Ayana sambil memegang dadanya.
Tak lama Gama juga ikut masuk. Ia melirik Ayana dari cermin mobil. Tanpa sengaja tatapan mereka bertemu, tapi dengan cepat Ayana membuang muka. Gama menahan tawanya saat melihat Ayana salah tingkah.
'Sungguh menggemaskan' batin Gama.
Gama lalu melajukan mobilnya menuju sebuah restoran. Tak butuh waktu lama mereka sudah menemukan restoran yang sepertinya sangat nyaman.
Gama segera keluar dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Ayana. Ia tersenyum manis ketika wanita itu menatapnya.
"Ck... Aku bisa sendiri" ucap Ayana. Bukannya keluar, Ayana justru memilih keluar dari pintu sebelah. Tentu hal itu membuat Gama menghembus nafasnya.
'Sabar Gama, wanitamu itu lagi jinak-jinak merpati' batin Gama.
Ayana tersenyum puas ketika melihat wajah kecewa pria itu. Kali ini ia tidak ingin membiarkan Gama mengambil semua perhatian putranya.
"Zayyan ayo masuk !" ucap Ayana sambil menggenggam tangan putranya.
Zayyan mengikuti langkah sang Mama. Tapi kepalanya menatap ke arah belakang, tepatnya pada Gama.
"Om ayo !" teriaknya.
Tentu saja Gama segera mendekati putranya dan menggandeng tangannya. Jadilah mereka berjalan beriringan.
Beberapa orang menatap mereka dengan tatapan kagum. Orang-orang itu berpikir jika mereka adalah sebuah keluarga yang harmonis. Padahal nyatanya bukan.
Mereka memilih meja paling pojok. Setelah mereka duduk, pramusaji datang membawa buku menu.
Gama memilih makan untuknya. Setelah itu ia bertanya pada Zayyan dan Ayana. Selesai memilih makanan, Gama dan Zayyan kembali mengobrol.
"Apa Zayyan senang hari ini ?" Tanya Gama.
"Iya Om, hari ini Zayyan sangat-sangat senang. Terima kasih Om telah membawa Zayyan jalan-jalan ke Zoo" ucap Zayyan tersenyum pada Gama.
"Sama-sama sayang. Kamu juga harus berterima kasih pada Mama. Kan Mama udah ngijinin kita pergi"
Gama menatap Ayana dan melempar senyum tulus.
"Terima kasih Ma" ucap Zayyan pada Ayana.
Ayana membalas ucapan putranya sedang sebuah senyuman.
Tak lama, pramusaji membawa makanan pesanan mereka. Ketiganya makan dengan lahap.
Di sebuah meja lain, sepasang suami istri menatap ke meja mereka.
"Yah, apa benar itu Gama dan Ayana ?" tanya Bunda Mila pada Ayah Budianto.
"Iya Bun, itu benar Gama dan Ayana" jawab Ayah Budianto. Tatapannya fokus pada pria kecil yang duduk diantara mereka. Meskipun pria kecil itu memunggunginya tapi ia sangat yakin jika itu adalah cucunya.
"Apa Ayah melihat anak kecil itu ?" tanya Bunda Mila yang juga fokus pada Zayyan.
"Iya Bun. Itu cucu kita" ucapnya tanpa terasa membuat bibirnya melengkung ke atas.
"Mereka terlihat seperti keluarga harmonis. Selama ini kita telah salah Ayah, membuat Gama terpisah dengan wanita yang ia cintai" ucap Bunda Mila tanpa sadar menjatuhkan air matanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo sayang²ku 😘 sambil nungguin Novel ini Up, ini Sa kasih rekomendasi novel bagus untuk kalian 🤗 jangan lupa mampir ya 🤩
Judul : Kurebut Suami Kakakku
Author : AdindaRa