Young Mommy

Young Mommy
Part 64



...🍃Happy Reading🍃...


Hari ini adalah perayaan ulang tahun Zayyan. Ayana memilih merayakan ulang tahun putranya di toko, sekalian ia ingin memberikan makanan gratis untuk semua pelanggannya.


Pukul 2 siang, toko roti miliknya itu sudah disulap dengan dekorasi acara ulang tahun anak-anak.


Fabio, dan orang tuanya juga ikut hadir di acara ulang tahun Zayyan. Acara ulang tahun yang sederhana saja, hanya menyanyikan lagu ulang tahun setelah itu tiup lilin dan memotong kue. Selebihnya hanya acara melayani para pelanggan yang datang untuk mengambil makanan gratis.


Meskipun terbilang sederhana, tapi bagi Zayyan itu sudah lebih dari cukup. Pria kecil itu sangat senang karena bisa merayakan ulang tahunnya.


"Nah, ini kado dari Om Bio" ucap Fabio seraya memberikan kado yang cukup besar untuk Zayyan.


"Wah besar sekali Om. Terima kasih ya Om Bio" Zayyan begitu senang ketika mendapatkan kado dari Fabio.


Melihat hal itu membuat Ayana dan yang lainnya ikut senang.


"Kalau yang ini, kado dari Omah dan Opah" ucap Ibu Shita sembari memberikan kado ulang tahun untuk Zayyan.


Zayyan meletakkan kado pemberian Fabio lalu mengambil kado dari tangan Ibu Shita.


"Ada lagi ya ? Teri kasih banyak Omah Shita, Opah Sandy. Zayyan sangat senang"


"Sama-sama sayang" ucap Ibu Shita sambil mengelus pucuk kepala Zayyan.


"No Omah, Zayyan kan nggak suka digituin" ucapnya mengingatkan apa yang tidak ia sukai.


"Maaf, Omah lupa" ucap Ibu Shita terkekeh.


"Tidak masalah Omah" balasa Zayyan.


Ayana hanya bisa geleng kepala melihat tingkah putranya. Padahal jika Gama yang melakukannya, Zayyan tidak pernah marah.


'Ck... Kenapa pikiranku malah kesana sih ?' batin Ayana. Tanpa sadar ia menggelengkan kepalanya berusaha menormalkan pikirannya.


Perilaku Ayana tentu menjadi perhatian Fabio. Ia mendekat pada Ayana dan berkata.


"Ada apa ?"


Ayana tersadar dan menghentikan aksinya. Ia membalas tatapan Fabio dengan senyum malu.


"Tidak apa-apa kok" jawab Ayana.


'Duh, gara-gara mikirin pria itu kan, aku jadi bertingkah aneh seperti ini' batin Ayana.


Ayana lalu mengalihkan atensinya pada Zayyan. Ia melihat putranya yang sedang sibuk membuka kadonya. Cukup banyak kado yang diterima Zayyan, karena tak hanya Fabio dan orang tuanya yang memberikan hadiah. Tapi beberapa pelanggan tetap Ayana juga turut memberikan kado ulang tahun untuk Zayyan.


Ayana lalu mendekati putranya.


"Nanti saja dibuka pas lagi di rumah sayang !" ucapnya lembut.


"Iya Ma. Ini Zayyan hanya buka kado pemberian Om Bio, Omah dan Opah saja" jawab Zayyan sambil memperlihatkan kado pemberian Fabio.


Ayana tersenyum mendengar ucapan putranya.


"Mama belum kasih Zayyan kado" ucapnya Zayyan mengingatkan sang Mama.


"Nanti Mama berikan hadiah untuk Zayyan. Zayyan bisa mengatakan apa yang Zayyan inginkan, Mama akan memberikan untuk putra Mama yang tampan ini" ucap Ayana mencolek pipi Zayyan.


"Benarkah Ma ?" tanya Zayyan.


"Tentu saja Nak" jawab Ayana.


Zayyan tersenyum pada sang Mama dan berucap terima kasih. Kini ia berpikir, apa yang akan ia pinta pada sang Mama.


Sementara di tempat lain, tepatnya di salah satu kafe mewah di Surabaya. Gama dan kedua orang tua Ayana sedang sibuk menyiapkan kejutan untuk Zayyan.


Kafe itu sengaja disewa olah Gama hari ini. Demi menyenangkan hati putranya, Gama akan melakukan apapun.


Kini kafe tersebut telah dihias dengan dekorasi ulang tahun tema Zoo. Gama sengaja memilih tema ini karena teringat dengan putranya yang sangat suka dengan hewan-hewan. Tak lupa, Gama membeli mobil-mobilan aki Jeep untuk putranya.


"Semuanya sudah siap. Kita bisa hubungi Fabio sekarang" ucap Papa Hartono.


"Iya Om" jawab Gama.


Papa Hartono segera menghubungi Fabio dan mengatakan jika semuanya sudah selesai.


Do seberang sana, Fabio segera menjauh saat mendapatkan panggilan masuk dari Papa Hartono.


"Halo Om, ada apa ? Apa semuanya sudah siap ?" tanya Fabio.


📞"Semuanya sudah selesai, kamu bisa bawa Ayana dan Zayyan sekarang !" Perintah Papa Hartono.


Setelah panggilan terputus, Fabio kembali bergabung. Ia duduk di dekat Ayana dan Zayyan.


"Karena acaranya sudah selesai, bisakah kalian ikut denganku ?" tanya Fabio.


Ayana yang tadinya sibuk memperhatikan Zayyan kini mengalihkan atensinya kepada pria itu.


"Kemana ?" tanya Ayana dengan kening yang mengkerut.


"Rahasia, pokoknya kalian ikut saja denganku !"


Ayana menatap pria itu penuh selidik. Hal itu membuat Fabio terkekeh.


"Sudah, tidak perlu banyak pikir dan curiga ! Aku tidak akan menipumu dan membawamu kembali ke Bandung" ucapnya. Ia tahu pasti Ayana sedang mencurigainya.


Fabio sedikit memaksa Ayana untuk ikut dengannya hingga akhirnya wanita itu mau. Mereka pergi dengan menggunakan mobil Fabio.


Tak butuh waktu lama, mereka sudah tiba di tempat tujuan. Ayana menatap Fabio dengan tatapan penuh tanya.


"Kenapa menatapku seperti itu ?" tanya Fabio yang sadar dengan tatapan Ayana.


"Kamu tidak menyewa kafe ini kan ?" tanya Ayana pada Fabio karena melihat kafe tersebut sepi.


"Tidak" jawab Fabio jujur. Memang bukan dirinya yang menyewa kafe ini, tapi Gama.


"Kamu tidak menipuku kan ?" tanya Ayana mencoba memastikan apakah Fabio berkata jujur.


"Tidak Ayana. Untuk apa aku menyewa kafe ini ?" tanya Fabio.


Ayana yang melihat tidak ada kebohongan di mata Fabio akhirnya memutuskan tatapannya. Ia bersandar di jok seraya berkata.


"Kan siapa tahu, kamu tiba-tiba menyewa kafe ini dan berencana memberikan kejutan lalu melamarku ?"


Fabio tersenyum ketika mendengar ucapan Ayana.


"Apa kau berharap seperti itu ?" tanya seraya mendekati Ayana.


Seketika Ayana menjadi gugup ketika sadar dengan yang ia ucapkan. Terlebih ketika melihat Fabio yang mulai mendekatinya.


"Bu-bukan be-begitu maksudku" ucap Ayana terbata.


"Lalu apa maksud perkataanmu ?" tanya Fabio tersenyum jail.


Ayana terdiam dan mencoba berpikir keras. Hingga suara putranya menyelamatkan Ayana.


"Ma, Om Bio... Kenapa kita belum turun ?" tanya Fabio.


Ayana bernafas lega ketika Fabio memberikan pertanyaan. Fabio menjauhkan tubuhnya dan menatap Zayyan yang duduk di belakang.


"Maaf, Om lupa" jawab Fabio sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia seperti merasa seperti sedang dipergoki oleh seorang bocah.


"Ya sudah, kalau gitu kita turun sekarang !" Lanjutnya.


Ketiganya segera turun dari mobil. Mereka berjalan beriringan memasuki kafe yang terlihat sepi tersebut.


Sebelum masuk, Fabio mencoba menghubungi Papa Hartono terlebih dahulu.


"Kamu tunggu disini ya !" ucap Fabio sebelum menjauh dari Ayana.


"Hm" jawab Ayana singkat. Entah mengapa perasaan wanita itu berdegup kencang, sama seperti saat mereka ke Bandung. Dimana pertama kalinya Ayana bertemu keluarganya setelah terpisah selama lima tahun.


Tak lama, Fabio kembali dan mengajak mereka segera masuk.


"Ayo !" ajak Fabio.


Namun Ayana menarik tangan pria itu. Fabio menghentikan langkahnya dan menatap Ayana.


"Ada apa ?" tanya Fabio.


"Sebenarnya apa yang kamu rencanakan ?" tanya Ayana.


"Tidak ada yang aku rencanakan Ayana" jawabnya jujur, memang ini bukan rencananya meskipun ia ikut andil. Tapi tetap saja ia merasa ini bukan rencananya.


Ayana menarik nafas panjang sebelum meminta Fabio segera membawa mereka masuk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa berikan dukungan, agar Sa tambah semangat Up-nya 🤗❤️🤣