Young Mommy

Young Mommy
Part 30 -



...🍃 Happy Reading🍃...


Sebulan tinggal di rumah Fabio, Ayana akhirnya memutuskan untuk pindah ke kontrakan yang sudah ia sewa.


"Mengapa kamu tidak tinggal disini saja selamanya ?" tanya Ibu Shita.


"Ayana tidak mau merepotkan Ibu dan Fabio terus-menerus" jawab Ayana jujur.


"Kami tidak pernah merasa direpotkan Ayana. Bahkan kehadiran kamu justru membuat kami merasa senang" balas ibu Shita.


"Tapi Ayana perlu hidup mandiri Ibu" balas Ayana.


Ibu Shita mau tidak mau harus membiarkan Ayana memutuskan pilihannya, dirinya tidak mempunyai hak untuk mengatur hidup Ayana karena ia bukan siapa-siapa.


"Ya sudah jika itu mau kamu. Tapi kamu jangan lupa sering-sering main kesini ya ! Pasti Ibu akan kangen dengan kalian apalagi dengan Zayyan" ucapnya pasrah.


"Pasti itu ibu" balas Ayana tersenyum pada wanita paruh baya itu.


"Kapan kalian pindah ?"


"Besok pagi Bu"


Setelah pembicaraan itu, mereka kini bermain dengan Zayyan. Bayi berumur hampir 8 bulan itu kini begitu aktif bermain meskipun baru bisa merangkak.


Puas bermain, Ayana membawa Zayyan ke kamarnya untuk tidur siang. Setelah Zayyan tertidur, ia mulai membereskan barang-barangnya. Seusai packing barang, Ayana mendekati putranya dan berbaring di sampingnya. Ia menatap wajah Zayyan yang tertidur lelap.


"Mengapa wajahmu harus mirip dengan pria itu ? Harusnya kamu mirip Mama karena Mama yang mengandung kamu, Mama yang melahirkan kamu, Mama yang membesarkan kamu. Semoga saja sifat kamu tidak sepertinya"


Cukup lama Ayana memandang wajah Zayyan, hingga akhirnya wanita itu ikut tertidur dengan putranya.


Malam harinya Ayana membantu ibu Shita menyiapkan makan malam. Setelah semuanya siap mereka mulai makan malam tanpa adanya yang membuka suara.


Beberapa saat kemudian mereka duduk di ruang tengah, sementara Nenek Rukmini dan Zayyan berada di kamar Ayana.


"Untuk tempat usahamu, aku sudah menemukan ruko yang strategis untuk usaha Bakery. Besok kita bisa cek-cek tempatnya. Jika kamu kurang suka kita bisa cari tempat lain lagi" ucap Fabio.


"Baiklah, terima kasih sudah membantu" balas Ayana.


"Untuk sementara ini, biarkan Bi Ar ikut denganmu ! Supaya kamu tidak kewalahan menjaga Zayyan dan mengurus usaha kamu. Kamu bisa fokus dengan usahamu, Nenek Rukmini juga ada yang jaga" ucap Ibu Shita.


"Apa itu tidak terlalu merepotkan ?" tanya Ayana merasa tidak enak. Pasalnya ia sudah mendapatkan banyak bantuan dari Fabio dan keluarganya.


"Tidak sayang. Kamu jangan merasa sungkan pada kami ! Kami sudah menganggap kamu sebagai bagian dari keluarga kami" balas ibu Shita tersenyum lembut dengan Ayana.


Ayana membalas senyuman ibu Shita, wanita paruh baya yang satu bulan ini ia anggap sama dengan Mama Lisa.


Bicara tentang Mama Lisa, Ayana setiap malam menangis karena merindukan kedua orang tuanya serta sang Omah. Tapi Ayana belum siap untuk bertamu mereka. Ayana hanya bisa berharap semoga mereka baik-baik saja.


"Sebaiknya kamu istirahat ! Besok kamu akan lebih lelah lagi karena pindah rumah" perintah ibu Shita.


"Baik Ibu, kalau begitu Ayana permisi, Yah, Bio" ucapnya pamit untuk istirahat.


Setelah Ayana menghilang dari pandangan mereka sang Ayah mulai membuka suara.


"Sayang banget Ayana pilih untuk hidup mandiri. Selama kehadiran mereka terutama Zayyan membuat rumah ini jadi berwarna. Coba saja putra Ayah lebih gercep buat ikat Ayana dalam janji suci, pasti wanita itu tidak akan bersih keras untuk tinggal di rumah kontrakan"


Fabio menarik nafas panjang, entah sudah berapa kali ia mengatakan pada Ayahnya jika Ayana bukanlah wanita yang gampang ditaklukkan.


"Dia wanita yang berbeda Yah, masa lalu telah membuat Ayana menjadi keras seperti ini. Hatinya sudah sangat keras untuk dikukuhkan, bahkan hatinya telah mati rasa dan sangat membenci sesuatu yang berhubungan dengan cinta" jelas Fabio.


"Sekeras-kerasnya hati wanita yang terluka, pasti masih ada sebagian kecil hatinya yang lunak. Maka dari itu, kamu harus berusaha mencari dimana letak bagian hari tersebut !" ucap sang Ayah.


"Sebenarnya apa yang membuat Ayana sangat sulit membuka hati ?" tanya Ibu Shita penasaran.


Fabio menatap sang ibu, "Sebenarnya..." Ia menceritakan masalah yang telah menimpa Ayana. Kedua orang tuanya tampak terkejut saat mendengar kisah pahit yang dilewati Ayana.


"Ya Tuhan... Kasihan sekali hidupnya" ucap Ibu Shita ikut merasa sedih.


Kedua orang tua Fabio kini paham mengapa Ayana sangat menjaga hatinya.


🍃


Esok harinya Ayana, Zayyan, Nenek Rukmini dan Bibi Ar, pindah ke rumah kontrakan, mereka diantar oleh Fabio.


Sesampainya di rumah kontrakan, Ayana langsung membereskan semua pakaiannya dalam lemari, tak lupa ia menyusun pakaian Zayyan dan Nenek Rukmini.


Rumah Kontrakan ini memiliki 2 kamar, Ayana dan Zayyan tinggal di kamar utama sementara Nenek Rukmini dan Bibi Ar sekamar.


Setelah semuanya beres, Ayana menitipkan Zayyan pada Bibi Ar. Siang ini ia dan Fabio akan mengunjungi ruko yang akan menjadi tempat usahanya.


Tak butuh waktu lama mereka sudah tiba di tempat tujuan. Ayana mengecek kondisi ruko tersebut, cukup luas untuk dijadikan toko roti. Ayana cukup puas dengan ruko pilihan Fabio, tanpa berpikir lama Ayana meminta Fabio untuk segera menghubungi pemilik ruko dan mengatakan jika ia ingin sewa disini.


"Mau langsung pulang atau mau ke suatu tempat ?" tanya Fabio.


"Kita ke mini market dulu ! Aku ingin membeli bahan-bahan untuk membuat kue dan roti agar tidak terlalu repot nantinya. Sekalian mau belanja keperluan Zayyan" jawab Ayana.


"Ya sudah kalau gitu kita berangkat sekarang !" ajak Fabio.


Mereka kemudian ke mini market, Ayana membeli banyak bahan kue. Setelah semua yang diperlukan sudah ia dapat, kini mereka berjalan ke kasir untuk membayar.


"Biar aku yang bayar" ucap Fabio. Pria itu segera mengeluarkan beberapa lembar uang merah dan membayar belanjaan Ayana.


"Selalu saja begitu. Aku tidak ingin kamu membayar belanjaanku terus-menerus. Aku tidak ingin memiliki banyak utang denganmu" ucap Ayana merasa tidak enak hati.


"Sekali-kali Ayana, nanti kalau usaha kamu udah sukses giliran kamu yang belanjain aku !" balas Fabio terkekeh.


"Ya udah, lain kali jangan lagi ya ! Aku tidak ingin mereposisi kamu, aku juga tidak ingin mendapatkan welas kasihan dari siapapun termasuk kamu. Tapi untuk hari ini aku ucapkan terima kasih banyak telah membantu "


"Sama-sama"


Mereka kemudian meninggalkan mini market setelah selesai melakukan pembayaran. Sesampainya mereka, Fabio langsung pamit pulang sementara Ayana membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Selesai mandi, ia menyusui Zayyan dan bermain bersama sebentar.


Ayana lalu menata bahan-bahan kuenya si lemari, setelah itu ia memasak makan makan malam untuk mereka.


Ayana dan Nenek Rukmini lalu makan malam bersama, sementara Bibi Ar menjaga Zayyan. Selesai makan Ayana mengambil alih putranya agar Bibi Ar bisa makan malam.


Ayana sudah berada di kamarnya bermain dengan Zayyan. Tiba-tiba Nenek Rukmini masuk menghampirinya.


"Kapan kamu mulai buka usaha ?" tanya Nenek Rukmini.


"Minggu depan Nek, soalnya Ayana belum beli oven dan beberapa alat lainnya" jawab Ayana.


Nenek Rukmini mengangguk, ia lalu mendekati Ayana dan memberikan sebuah kantong kresek yang berisikan uang. Ayana terkejut saat Nenek Rukmini memberinya uang cukup banyak.


"Ambillah untuk modal usaha !"


"I-ini duit Nenek ?" tanya Ayana terbata.


"Iya, ini duit dari jual beberapa petak sawah nenek sebelum meninggalkan memutuskan ke kota" jawab Nenek Rukmini.


Ayana semakin terkejut mendengar jawaban Nenek Rukmini. Ia tidak menyangka jika Nenek Rukmini memiliki sawah.


"Dulu saat awal-awal Nenek tinggal disana, Nenek memutuskan membeli beberapa petak sawah dan di oleh Pak Sarman yang saat ini menempati rumah Nenek. Dari sawah itu Nenek mendapatkan biaya hidup. Tapi Nenek putuskan untuk menjualnya karena Pak Sarman sudah tidak mampu mengelola sawah Nenek, dan juga karena Nenek akan tinggal di kota bersamamu dan Zayyan" jelas Nenek Rukmini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Halo sayang²ku 😘 sambil nungguin Novel ini Up, ini Sa kasih rekomendasi novel bagus untuk kalian 🤗 jangan lupa mampir ya 🤩



Author : Nezha Ageha


Judul : Pesona Sang Diva