
...🍃Happy Reading🍃...
Setelah itu jam lebih sibuk dengan alat dapur. Akhirnya Ayana menyelesaikan pekerjaannya. Wanita itu segera membawa kue buatannya di pinggir kolam. Terlihat Omah, Mama Lisa menemani Zayyan bermain di paviliun samping kolam.
"Kuenya sudah jadi" ucap Ayana seraya meletakkan kue itu di atas meja.
Zayyan yang tadinya asik bermain kini mendekat dan mengambil kue buatan Mamanya, diikuti oleh Omah dan Mama Lisa yang tidak sabar merasakan kue buatan Ayana.
"Bagaimana rasanya ?" tanya Ayana.
"Enak benget sayang..." Puji Mama Lisa.
"Benar, kue buatan kamu sangat enak, Nak. Wah pasti toko roti milikmu sangat ramai" sambung Omah.
Ayana tersenyum saat mendengar pujian dari Mama dan Omahnya. Ia lalu ikut duduk di samping Omah dan menikmati kue buatan tangannya.
"Toko roti kamu ramai disana ?" tanya Mama Lisa.
"Iya Ma. Ayana bahkan sudah bisa beli rumah minimalis dari hasil toko roti Ayana" jawabnya.
"Wah ternyata putri Mama hebat" puji Mama Lisa yang tidak menyangka toko roti milik putrinya sukses.
"Syukurlah Ma, semua juga berkat bantuan Fabio dan keluarganya" balas Ayana.
"Untungnya kamu bertemu orang baik seperti mereka" ucap Omah.
"Oh iya, nanti kapan-kapan ajak mereka makan malam di rumah !" ucap Mama Lisa.
"Nanti deh diatur" balas Ayana.
"Apanya yang diatur ?" seseorang yang tiba-tiba muncul memberikan pertanyaan.
"Papa... Ngagetin aja deh" ucap Mama Lisa mengelus dadanya.
Papa Hartono tersenyum tanpa rasa bersalah. Pria paruh baya itu baru pulang kerja.
"Lagi makan apa ?" tanya Papa Hartono.
"Ini kita lagi makan kue buatan Ayana, Pa" jawab Mama Lisa.
"Sepertinya enak" ucap Papa Hartono sambil menatap kue buatan Ayana.
"Memang enak, Papa coba dulu deh !" Mama Lisa memberikan sepotong kue untuk suaminya.
Papa Hartono mulai memasukkan kue itu dalam mulutnya. Kepalanya mengangguk-angguk karena kue buatan Ayana memang enak.
"Enak kan ?" tanya Omah.
Papa Hartono lagi-lagi hanya menjawab dengan anggukan kepala. Setelah kuenya habis Papa Hartono bertanya pada ketiga wanita tersayangnya.
"Tadi apanya yang mau diatur ?"
"Jadi, Mama mau ngundang Fabio dan keluarganya untuk makan malam di rumah sebagai rasa terima kasih kerena sudah menolong Ayana" jelas Mama Lisa.
"Boleh juga" ucap Papa Hartono setuju.
"Makanya Mama minta Ayana buat undang mereka" ucap Mama Lisa.
"Ya sudah, Mama dan Ayana atur aja. Kalau Papa mah ikut aja" ucap Papa Hartono sambil mengunyah kue.
Setelah itu mereka masuk rumah. Malam harinya, Ayana dan Mama Lisa menyiapkan makan malam sementara Papa Hartono dan Omah menemani Zayyan menonton film kartun.
Setelah semua makanan tersaji, Ayana memanggil mereka untuk makan malam. Mereka makan malam dengan khidmat. Sesekali mereka memuji masakan Ayana yang terasa enak.
Berbeda di kediaman Ayah Budianto. Makan malam mereka lewati dengan suasana sunyi dan canggung. Gama terlihat sangat cuek terhadap orang tuanya. Sementara kedua orang tua Gama hanya bisa menghela nafas dengan berat.
Selesai makan malam, Gama mengantar sang nenek masuk ke kamarnya.
"Bagiamana tadi siang ? Seru main bareng anak sendiri ?" tanya Nenek Rukmini.
"Seru sekali Nek. Gama merasa sangat-sangat bahagia. Ya walaupun tadi sempat sedih karena ditolak sama Mamanya. Tapi aku gimana lagi ? Memang salah Gama jadi wajarlah Ayana sangat marah dan benci dengan Gama" ucapnya dari wajah yang terlihat bahagia hingga berubah menjadi sedih.
"Jangan putus asa Nak ! Nenek yakin Ayana masih menyimpan perasaan padamu. Kamu hanya perlu memperjuangkan cintanya lagi !" pesan Nenek Rukmini.
"Ye benar sekali Nek, Gama harus berjuang kembali" ucapnya semangat, "tapi Gama mau dekati Zayyan dulu setelah itu baru Pepet Mamanya" lanjutnya sedikit tertawa.
"Ikuti yang mana baiknya saja, Nak ! Nenek akan terus mendoakan yang terbaik untuk kalian. Nenek menyangi Ayana dan Zayyan sama seperti Nenek menyangi kamu" ucap Nenek Rukmini sambil mengelus punggung cucunya.
Gama pamit keluar dari kamar Nenek Rukmini setelah membantunya berbaring. Saat Gama keluar, ia melihat kedua orang tuanya sedang duduk di ruang tengah. Gama mencoba berlalu tanpa memperdulikan keberadaan orang tuanya.
Saat kakinya sudah melewati tiga anak tangga, tiba-tiba ia berhenti kala mendengar suara sang Ayah yang memanggilnya.
"Gama, Ayah ingin berbicara denganmu" ucap Ayah Budianto.
Gama terdiam sejenak. Rasanya begitu malas berhadapan dengan kedua orang tuanya yang egois. Pembicaraan mereka selalu berkahir dengan perdebatan sengit.
"Ayah ingin membahas soal perjodohanmu dengan Shintia" lanjut sang Ayah.
Gama memejamkan matanya sejenak, 'Sudah ku duga, pasti mau bahas itu lagi' kata batinnya kesal.
"Gama tidak tertarik" jawabnya datar. Ia melanjutkan langkah kakinya menaiki anak tangga.
"Ayah tidak akan memaksa kamu menikah dengan Shintia jika kamu sudah menemukan wanita itu" ucap Ayah Budianto berhasil membuat Gama memutar tubuhnya.
"Apa Ayah sedang bercanda ?" tanyanya heran. Ia menatap sang Ayah dengan penuh selidik, Gama berpikir sang Ayah sedang merencanakan sesuatu.
"Ayah tidak bercanda" tegas sang Ayah.
"Tapi, kamu harus menemukan wanita itu dan pertemukan kami dengannya !" lanjut Ayah Budianto.
"Untuk apa kalian bertemu dengannya ? Apa kalian ingin menghinanya lagi ? Atau kalian ingin menyingkirkan anakku ? Hah, jangan mimpi ! Aku tidak akan membiarkan satu orang pun yang berani menyakiti mereka, bahkan kalian sekalipun" ucap Gama menuduh kedua orang tuanya.
"Jangan berburuk sangka ! Kami hanya ingin berbicara sesuatu dengannya" balas sang Ayah yang berusaha menahan amarahnya karena mendengar tuduhan dari Gama.
"Siapa yang tahu niat busuk kalian" ucap Gama tersenyum miring.
"GAMA !!!" teriak Ayah Budianto emosi.
"Yah, udah ! Jangan ribut lagi !" Tegur Bunda Mila.
"Gama, kami sadar jika dulu kami terlalu jahat pada Ayana. Kami ingin bertemu dengannya untuk meminta maaf sekaligus berterima kasih karena telah menemukan Nenekmu" lanjutnya menjelaskan niat mereka ingin bertemu Ayana.
"Sepertinya itu akan sulit" ucap Gama datar.
"Kenapa ? Apa kamu belum menemukannya ? Atau kamu tidak ingin mempertemukan kami ?" tanya Bunda Mila. Ia berpikir mungkinkah Gama belum bertemu dengan Ayana.
"Tidak, bukan itu alasannya" ucap Gama.
"Lalu ?"
Mendengar pertanyaan sang Bunda membuat Gama tersenyum miris. 'Jangankan kalian, bertemu denganku saja Ayana sangat enggan' jawab batinnya.
Ia pergi tanpa berniat menjawab pertanyaan sang Bunda. Baginya, sekarang belum saatnya kedua orang tuanya bertemu dengan Ayana.
🍃
Malam ini Ayana tidur sendiri karena Zayyan memilih tidur di kamar Omah. Ayana yang belum mengantuk memilih duduk di sofa sambil melihat akun sosial medianya.
Saat asik scroll IG, Ayana menemukan posting terbaru Tio.
"Jadi bukan hanya mereka berdua yang ada di Surabaya ? Gala juga ada disana ?"
Ayana menatap foto Gama dan kedua sahabatnya itu sedang melakukan tugas KKN.
Saat melihat foto itu, Ayana tiba-tiba teringat dengan kedua sahabatnya.
"Oh iya, bagaimana kabar Dira dan Mona ? Apa IG-nya masih aktif ya ?"
Ayana mencoba mencari akun IG Dira dan Mona. Ia mengirim DM dan mengatakan jika ia sedang berada di Bandung. Ayana juga mengatakan jika ia ingin bertemu dengan mereka.
Setelah itu, Ayana memutuskan untuk istirahat. Tak menunggu waktu lama ia sudah masuk ke alam mimpi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo sayang²ku 😘 sambil nungguin Novel ini Up, ini Sa kasih rekomendasi novel bagus untuk kalian 🤗 jangan lupa mampir ya 🤩
Judul : Penelusuran Gaib Rania
Author : Novi Putri Ang