
...🍃Happy Reading 🍃...
Esok harinya Ayana dan Omah ke kebun seperti biasanya. Tanpa Ayana duga ternyata Aaron juga ada di kebun membantu ibunya memetik kentang. Ayana yang tidak ingin berurusan dengan kedua orang itu memilih bergabung dengan Bu Nimas dan Bu Sari.
Aaron yang sadar akan kedatangan Ayana segera mengalihkan pandangannya ke arah wanita itu. Bu Sri tentu memperhatikan tingkah putranya. Dengan kesal ia bertanya pada Aaron.
"Ngapain lihatin wanita itu ?"
Aaron salah tingkah saat sang ibu memergokiku menatap Ayana. Ia tersenyum malu-malu pada Bu Sri.
"Kamu suka dengannya ?" tebak Bu Sri.
"Akh mana mungkin Bu, Aaron hanya mengangumi saja" jawab Aaron.
"Itu sama saja. Kamu jangan dekat-dekat dengan wanita itu ! Dia itu bukan wanita baik-baik" ucap Bu Sri dengan ketus.
"Dia kan cucunya Omah, jadi sudah pasti dia wanita baik-baik" balas Aaron. Ia heran mengapa ibunya terlihat tidak senang dengan Ayana padahal mereka dan Omah berhubungan baik.
"Pokoknya dengarkan saja kata ibu !" ucap Bu Sri lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Aaron menatap ibunya dengan kebingungan. Harusnya ibunya senang dengan Ayana karena wanita itu adalah cucu dari Omah, tapi mengapa sang ibu tampak membenci Ayana. Ada apa dengan sang ibu ?, Batin Aaron.
🍃
Hari semakin berlalu, tanpa terasa Ayana sudah berada sebulan di desa ini. Kehidupan Ayana di desa terbilang cukup baik karena mengenal banyak ibu-ibu yang ramah, meski ia masih terkadang mendapatkan perkataan yang kurang mengenakkan dari Bu Sri. Tapi Ayana senang karena masih banyak orang yang baik padanya, ia juga mulai merasa sedikit senang karena sudah tidak ada Aaron disini. Ya meskipun pria itu tidak pernah mengganggunya, namun Ayana merasa risih dengan kehadiran pria itu.
"Hari ini kamu saja yang ke kebun ! Omah merasa kurang enak badan" ucap Omah setelah mereka selesai sarapan.
Ya, memang semalam Omah merasa kurang enak badan.
"Kalau gitu Ayana nggak usah pergi, Ayana tinggal disini jagain Omah saja" balas Ayana.
"Omah tidak apa-apa, Omah masih bisa jaga diri sendiri, kamu sebaiknya ke kebun saja !" ucap Omah.
"Omah yakin ?" Ayana mencoba bertanya sekali lagi.
"Iya"
Dengan berat hati Ayana meninggalkan Omah sendiri. Ia berjalan menuju kebun dan tiba-tiba Bu Sri berada di belakangnya. Wanita paruh baya itu baru saja keluar dari rumahnya dan hendak ke kebun juga.
"Tumben anak kota jalan sendirian di desa, biasanya nempel terus sama Omah"
Ayana memutar kepalanya ke arah Bu Sri yang ternyata menatapnya sinis.
"Bu Sri kenapa kelihatan sangat tidak senang ya dengan saya ? Apa saya ada salah ?" tanya Ayana. Ia tidak habis pikir mengapa wanita paruh baya itu selalu mengeluarkan sindiran halus ataupun sindiran yang sangat kasar terhadapnya.
"Memang aku tidak senang denganmu" jawabnya ketus.
"Memang kenapa Bu Sri tidak menyukai saya, apa alasannya ?" tanya Ayana.
"Memang perlu alasan ? Saya tidak suka kamu ya memang karena tidak suka, dan untuk alasannya apa itu bukan urusanmu"
"Jelas ini urusanku karena saya merasa tidak nyaman jika Bu Sri selalu mengeluarkan kata-kata yang kurang menyenangkan terhadap saya" balas Ayana.
"Karena kamu adalah anak dari wanita itu" ucap Bu Sri lalu meninggalkan Ayana.
Ayana tampak semakin bingung, ia tidak mengerti maksud dari perkataan Bu Sri. Tak mau terlalu pusing dengan si ibu Sri, Ayana ikut melanjutkan langkahnya menuju kebun.
Setelah pukul sebelas siang, Ayana memutuskan meninggalkan kebun dan kembali ke rumah. Sesampainya di rumah ia segera membersihkan tubuhnya dan memasak untuk Omah. Ayana memang sudah bisa memasak, ya walaupun hanya memasak makanan yang gampang-gampang saja. Tapi setidaknya ia sudah memiliki ilmu dalam dunia per-dapuran.
Setelah semua siap, Ayana membawa nampan berisi nasi dan lauk untuk sang Omah. Ia masuk ke kamar Omah dan memintanya untuk segera makan siang lalu minum obat.
"Omah, kita makan siang dulu ya !"
"Kenapa repot-repot bawa ke kamar Omah ? Kan kamu bisa manggil Omah buat keluar makan bersamamu" ucap Omah.
"Omah kan lagi nggak enak badan" jawab Ayana.
Omah tersenyum dengan perubahan Ayana yang sudah bisa mengurus beberapa pekerjaan rumah.
"Nah, Omah makan dulu ya ! Mau disuapin ?"
"Omah masih sanggup"
Mereka lalu makan siang bersama di dalam kamar Omah, sesekali Ayana dan Omah bercakap-cakap.
Selesai makan siang, Ayana membawa semua cucian piring kotor ke wastafel, ia mencuci piring kotor itu setelah itu ia masuk ke kamarnya.
Ayana lalu mengambil gadgetnya dan membuka beberapa pesan yang masuk. Ia membalas satu persatu pesan yang masuk dari sahabatnya. Ayana lalu mulai membuka beberapa akun sosial medianya, tak lama kemudian Ayana mendapatkan notifikasi pesan dari nomor yang tidak di kenal. Ayana membuka pesan tersebut dan seketika dadanya terasa sesak saat membaca pesan tersebut.
💌 +6283xxx
Aku kemarin bersama kekasihmu di sebuah kafe, kami makan siang bersama, mengerjakan tugas bersama dan juga sesekali bercanda bersama. Rasanya sangat menyenangkan bisa dekat dengan Gama.
Ayana meremas ujung pakaiannya saat melihat foto Gama. Luka hati yang sedang ia usahakan untuk sembuh malah semakin menganga karena Gama justru hidup senang disana sementara dirinya sengsara.
"Pada dasarnya cintamu memang hanya sebatas nafsu bukan cinta yang tulus. Dengan mudahnya kamu menemukan wanita lain setelah menghancurkan diriku. Kamu berhasil membuatku terjatuh dan tidak bisa bangkit, kamu berhasil membuatku tenggelam dalam lautan cintamu yang sangat dalam. Kamu juga berhasil membuatku tidak percaya dengan adanya cinta" ucapnya kembali memegangi dadanya yang terasa perih.
Memang ia salah dan begitu bodoh dengan mudahnya diperbudak oleh nafsu yang berkedok cinta. Seharusnya memang ia tidak mudah jatuh hati dengan Gama.
Tapi semua tidak bisa disesalkan, benih pria itu sudah berkembang dalam rahimnya. Janin yang tidak berdosa yang tidak diinginkan kehadirannya. Janin yang tidak bersalah namun berusaha untuk disingkirkan.
Sampai kapanpun Ayana tidak akan membiarkan siapapun yang berani melukai calon anaknya. Bahkan ia akan mengorbankan nyawanya sekalipun untuk melindungi calon bayinya ini.
"Jangan harap kamu dan keluarga kamu bisa menyentuh anakku nanti ! Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi" tegasnya sebelum ia memutuskan untuk tidur.
🍃
"Kenapa kamu kesini lagi sih ?" tanya Gama ketus.
"Memangnya kenapa jika aku kemari ? Ini kan tempat umum jadi wajar jika aku berada disini" jawab Shintia.
Wanita itu dengan santainya duduk di meja yang sama dengan Gama. Ia memang sengaja mengikuti Gama, tapi ia berpura-pura jika pertemuannya ini hanyalah kebetulan yang tidak disengaja.
"Makan yang banyak Gama ! Kamu terlihat kurus" ucapnya.
Gama menarik nafas dengan berat lalu menatap Shintia dengan tatapan penuh kebencian.
"Pindah dari tempatku ini !" perintah Gama.
"Gama, kita ini pernah satu sekolah loh. Kita saling mengenal, masa kamu tidak ingin berbagi meja denganku ? Meja lain juga sudah penuh" ucap Shintia dengan wajah sedihnya.
"Jika kamu tidak ingin pergi, maka aku yang akan pergi !"
Gama memanggil waiters dan membayar tagihan makanannya walaupun makanan tersebut belum disajikan. Setelah itu ia membereskan semua barang-barangnya dan meninggalkan Shintia.
Wanita itu tentu sangat geram, ia mengepalkan tangannya dan menatap kepergian Gama.
"Sekarang kamu bisa menghindar dariku, tapi tidak dengan waktu lain" ia tersenyum licik lalu memakan makanan yang baru saja disajikan oleh waiters.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
hari ini 1 bab aja ya 😬