
Setelah Nindy memeriksakan diri kedokter dan dokter menyatakan bahwa Nindy hamil. Nindy langsung menghubungi Arkan untuk bertemu dan bertanggung jawab. Arkan yang masih di sekolah mau tak mau mendatangi Nindy.
Namun jawab Arkan membuat Nindy kecewa sekaligus sakit hati. Nindy keluar dari cafe dan mengendarai mobilnya menuju ke Bogor, untuk menenangkan pikirannya. Sebelum benar-benar menuju bogor, Nindy mengambil semua pakaiannya dan memasukkan nya ke mobil.
Nindy adalah anak yang terlahir dari keluarga broken home. Meskipun keluarganya masih lengkap tapi jika kedua orangtua nya di pertemukan maka akan terjadi pernah dunia ke-3. Kini kedua orang tua Nindy hanya sibuk bekerja bekerja dan bekerja tanpa memperdulikan anaknya sudah makan atau belum, sehat atau tidak dan lainnya.
Papa Nindy, Darma. Kini ia sedang berada di Madagaskar untuk mengurus perusahaan pemberian opa Nindy. Sedangkan,mama Nindy. Nita, kini sibuk dengan perusahaan nya yang di Amsterdam. Mereka berdua pulang kerumah bergantian. kadang papa 1 tahun sekali atau mama 6 bulan sekali. Nindy rasa mereka telah melupakan Nindy sebagai anaknya. Menelfon saja jarang.
Nindy berharap bahwa orang tuanya mampu bersatu kembali dan bersama membangun keluarga yang bahagia. Meskipun Nindy di tinggal kan rumah megah nan mewah tapi Nindy tetap ingin tinggal di kosannya dengan alasan bosan di rumah yang besar namun sepi.
Terkadang nggak semua anak senang bila memiliki mobil mewah, rumah mewah, barang mewah dan apapun serba mewah. Mereka lebih senang jika kedua orangtua nya menemaninya di setiap hari. menasihati nya jika salah, melarang pergi diatas jam 10 malam, dilarang ini itu. Jujur Nindy merindukan kedua orangtua nya.
Back to topik
Pukul 2 siang Nindy tiba si sebuah komplek Vila asri yang ia beli sendiri dari hasil ia menabung uang pemberian kedua orang tuanya yang bisa di bilang sangat banyak hingga 5 tahun menabung langsung bisa membeli satu komplek Vila seharga 15,8 M terdiri dari 10 unit Vila.
"Selamat datang kembali nonna" Ucap para maid ketika melihat Nindy masuk kedalam kediaman utama.
"Siapkan kamar. Saya akan ke kebun teh sebentar" Maid menunduk hormat.
5 menit bersepeda Nindy sudah sampai kebun teh Nindy menjelajahi kebun tersebut dengan tenang sesekali berhenti lalu duduk di batang kayu atau di bebatuan sambil menghirup udara dingin nan sejuk.
drtd
Mama
K**amu dimana nak? Mama lagi di rumah. Kamu nggak mau ketemu sama mama? Mama kangen sama kamu
Nindy
Nindy lagi di bogor. Nggak bisa ketemu mama.
Mama
Hmm, yaudah hati hati ya sayang. Kamu kapan pulang? Mama disini sampe bulan depan
Nindy
Nggak tau kapan pulang. Hmm mah, Nindy mau ngomong jujur dan nggak mau nutupin ini dari mamah.
Mama
ngomong apa sayang?
Nindy
Nindy hamil mah, tapi cowoknya nggak mau tanggung jawab. Dia nggak salah ma, karena dia waktu itu mabuk. Maafin Nindy ma, Nindy salah
Mama
Nggak apa apa sayang. Mama bangga kalo kamu mau mempertahankan bayi itu. Disini itu mama yang salah karena nggak pernah perhatiin kamu. Mama Minta maaf ya nak.
Nindy
Sekarang Nindy butuh mama. Mama mau kan ke Bogor? Nindy beli komplek Vila di deket Gunung Pancar.
Mama
Iya sayang. Mama kesana sekarang
Nindy
Hati hati ya ma
read
"Huh, aku fikir mama akan marah" Ucap Nindy
"Nggak tau deh kalo pap tau. Marah nggaknya? " Nindy menghampiri sepedah nya untuk kembali ke Vila.
"Mbak, bersihkan seluruh kamar disini"
"Baik nonna"Balas maid tersebut. Nindy berjalan menuju kamarnya lalu ia membuka balkon kamarnya yang langsung berhadapan dengan hutan pinus.
"Baik baik di dalam ya nak. Bunda akan selalu sama kamu" Nindy mengelus lembut perutnya.
"Bunda? " Nindy masih merasa aneh dengan penghilang itu.
Drtd Drtd Drtd
Nindy mengangkat telfon yang bertuliskan nama Zahra
Zahra
woy kampret, lo dimana? Kata Mami, Mama lu udah di rumah
Nindy
Gue hamil
Zahra
Nindy
Gue hamil, Zahra
Zahra
SUMPAH!! GUE NGGAK SALAH DENGER KAN? ANAK SIAPA ****?
Nindy
Arkan
Zahra
Bukannya lo udah putus sama dia?
Nindy
Cerita nya panjang, Zahra. Waktu itu Arkan mabuk jadi dia merasa dia nggak ngelakuin apa apa dan sekarang dia nggak mau tanggung jawab.
Zahra
Kok lo bisa ke goda?
Nindy
Gue nggak bisa ngelawan. Tenaga nya terlalu besar, tangan gue aja memar memar abis ngelawan dia
Zahra
Aduh Nindy sayang. Kalo tante Nita tau, bisa di gorok gue
Nindy
Mama gue udah tau kok. Sekarang gue lagi di Gunung Pancar, tempat yang gue pernah ceritain ke lo itu
Zahra
Kok tante bisa tau?,terus reaksinya gmn? Lo di komplek Vila yang lo beli itu kan? Gue nyusul ya?
Nindy
Eh jangan jangan, lo kan besok sekolah. Gue juga mau quality time sana nyokap gue
Zahra
Hari sabtu gue kesana ya? Gue mah bolos selama satu minggu. Eh terus lo sekolah nya gmn?
Nindy
Kayaknya gue lebih memilih homeschooling aja deh
Zahra
Terus gue gmn? Masa sendirian lagi? Lo kan tau disini mana ada orang yang mau main sama cewek tomboi kayak gue
Nindy
Rubah sikap lu monyet.
Zahra
Hus, nggak boleh ngomong gitu. Inget ada jabang bayi
Nindy
iya iya maap. Gue tutup dulu ya, gue mau mandi. Capek banget
Zahra
yaudah, bye young mom. Titip ponakan gue, jangan di apa apain
Nindy
*iya bawel
tut tut tut*
1 jam kemudian Nita datang dengan derai air mata dan langsung memeluk Nindy.
"Ma, Nindy kangen sama mama" Ucap Nindy di dalam pelukan mamanya
"Mama juga sayang. Sekarang mama mau denger cerita kamu kenapa kok bisa jadi kayak gini" Ucap Nita. Nindy menceritakan semuanya, mulai dari awal hingga akhir dan tak ada yang di tutup tutupi.
"Mama nggak marah sama aku? " Tanya Nindy
"Buat apa marah? Nasi sudah menjadi bubur. Mama nggak marah cuma mama kecewa sama kamu yang nggk bisa jaga diri kamu" Nita mengusap pundak Nindy lembut