Young Mommy

Young Mommy
Part 23



...🍃Happy Reading🍃...


Pagi ini Ayana sudah siap dengan kopernya. Ia akan berpindah tempat lagi, mencari tempat yang mau menerimanya.


"Kamu yakin tidak ingin orang tua kamu tahu ?" tanya Omah.


"Yakin Omah" jawab Ayana mantap.


Memang ia sengaja tidak memberitahu orang tuanya jika ia akan meninggalkan desa tempat tinggal Omah. Ia masih marah dengan orang tuanya yang tahu aturan desa ini namun masih membawanya untuk tinggal disini.


"Maafkan Omah tidak bisa membela kamu" ucap Omah.


"Ini bukan salah Omah" jawab Ayana.


Keduanya saling berpelukan dan terisak. Mereka seakan tidak ingin saling melepaskan, tapi keadaan membuat mereka harus terpisah.


Para warga sudah berada di halaman rumah Omah menunggu Ayana angkat kaki dari desa ini.


Ayana keluar dan melihat para warga berbisik-bisik. Sayup-sayup ia dengar suar ibu-ibu yang menggosipi orang tuanya.


"Ternyata wajahnya tidak sepolos yang aku bayangkan"


"Persis dengan Ibunya"


"Memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya"


Seperti itulah kata-kata yang keluar dari mulut para ibu-ibu.


Ayana menutup matanya dan menarik nafas panjang. Setelah itu ia membuka matanya perlahan dan mulai meninggalkan rumah Omah, ia menunduk malu. Air matanya terus mengalir membasahi pipinya.


Sementara Omah segera masuk dan menutup rapat pintunya. Ia tidak sanggup melihat kepergian cucunya terlebih lagi mendengar cemoohan para tetangga.


"Maafkan Omah... Omah harap kamu baik-baik saja Nak" ucapnya sesegukan.


🍃


Ayana duduk di sebuah terminal dengan pandangan kosong. Ia tidak tahu kemana ia harus pergi, ia tidak mungkin kembali ke Bandung.


"Ya Tuhan... Tolong aku !!!" ucapnya lirih.


Tanpa Ayana sadari seorang nenek tua memandanginya, nenek tua itu berjalan mendekati Ayana dengan menggunakan tongkat.


"Kamu baik-baik saja ?" tanya nenek-nenek tua itu.


Ayana tersentak lalu menatap nenek-nenek tersebut. Nenek yang terlihat lebih tua dari Omahnya. Ayana menggeser tubuhnya dan memberikan duduk untuk sang nenek.


"Terima kasih" ucap Nenek itu tersenyum, "kamu mau kemana ?" tanya sang nenek.


"Saya tidak tahu nek" jawab Ayana sambil menunduk.


Nenek-nenek itu lalu menatap perut Ayana, ia paham jika wanita itu pasti mempunyai masalah berat.


"Mau ikut dengan nenek ?" tanya sang nenek.


Ayana menatap nenek-nenek tersebut dengan tatapan penuh pertanyaan. Nenek-nenek itu pun tersenyum pada Ayana.


"Kamu tenang saja ! Nenek bukan orang jahat, nenek menolongmu karena merasa kasihan apalagi kamu sedang hamil" jelas sang Nenek.


Ayana yang memang bingung harus kemana akhirnya menyetujui tawaran sang nenek. Mereka kemudian masuk ke dalam bis yang entah menuju kemana, Ayana sendiri tidak tahu.


Mereka menempuh perjalanan yang cukup panjang. Bahkan Ayana sempat tertidur begitu lama di dalam bis hingga dirinya tidak sadar jika mereka sudah sampai.


"Kita sudah sampai" ucap sang nenek membangunkan Ayana.


Ayana mengucek matanya dengan lembut lalu menatap sekelilingnya. Mereka ternyata sudah sampai di sebuah terminal. Ayana dan sang nenek segera turun dari bis setelah sang nenek itu membayar sang supir.


"Apa kamu sanggup berjalan jauh ?" tanya sang nenek.


"Sanggup Nek, tapi kini sedang berada dimana ?" tanya Ayana penasaran.


"Kita berada di sebuah desa yang jauh dari kota. Tapi bukan disini kit akan tinggal. Kita akan berjalan beberapa puluh kilo lagi untuk mencapai tempat tinggal kita" jelas sang nenek.


Ayana lalu mengangguk dan mengikuti sang nenek yang mulai berjalan, sang nenek berjalan cukup lambat karena tubuhnya yang sudah bungkuk.


Mereka berjalan menyusuri jalanan setapak, Ayana menatap sekelilingnya tak ada rumah tapi hanya ada sawah yang membentang luas.


"Apa kamu lelah ?" Tanya sang nenek menatap Ayana mulai berkeringat.


"Minumlah !" sang nenek memberikan sebotol air minum untuk Ayana.


Dengan sigap wanita hamil itu meneguk air minum itu hingga tandas. Sang nenek lalu tersenyum kala melihat Ayana meneguk air itu hingga tak tersisa.


"Maaf Nek, saya menghabiskan air Nenek" ucap Ayana merasa bersalah.


"Tidak masalah. Apa kamu sanggup melanjutkan perjalanan kita ?" tanya sang nenek.


"Sanggup Nek" jawab Ayana yakin.


Mereka lalu melanjutkan perjalanan mereka. Setelah melalui jalanan setapak yang dikelilingi sawah, kini mereka melewati jalanan yang dikelilingi hutang bambu.


Ayana merasa merinding kala mereka masuk sebuah hutan bambu. Wanita hamil itu kini merasa was-was dan mulai paranoid. Ia takut jika dirinya salah telah mengikuti sang nenek hingga sejauh ini. Tak lama mereka tiba di sebuah rumah sederhana.


Ayana tampak tercengang melihat ada rumah di tengah hutang bambu ini. Ayana lalu menatap sang nenek dengan tatapan bingung.


"Ini adalah rumah nenek" ucap sang nenek seolah tahu apa yang ada di dalam benak Ayana.


"Nenek tinggal sendiri ?" tanya Ayana memastikan.


"Iya, nenek tinggal sendiri" jawab sang nenek tersenyum getir.


Ayana yang tahu perubahan wajah sang nenek merasa tidak enak hati, "maaf Nek jika saya terlalu lancang"


Sang nenek hanya tersenyum lalu masuk ke dalam rumahnya, Ayana pun ikut masuk bersama sang nenek. Ayana lagi-lagi tercengang saat melihat rumah sederhana itu ternyata di dalamnya cukup luas, rumah ini memiliki tiga kamar dan berlantaikan kramik.


"Kamu pilih saja kamar yang mana kamu sukai !" ucap sang Nenek lalu masuk kamarnya.


Ayana lalu melihat kedua kamar tersebut, ternyata keduanya memiliki kasur yang empuk persis dengan kasur di rumahnya, bahkan memiliki lemari yang bangus dan lumayan besar. Ayana semakin bingung mengapa rumah ini bisa memiliki spring bed empuk yang Ayana yakini pasti harganya lumayan mahal.


Tak mau ambil pusing, Ayana lalu membereskan pakaiannya dan memasukkan ke dalam lemarinya. Ayana lalu keluar dari kamarnya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Ayana menatap bak air yang kering, ia lalu mencari dimana letak kerang air namun ia tidak mendapati yang ia cari.


Ayana lalu keluar dan mencari sang nenek, ia mengetuk pintu kamar nenek dan tak lama orang yang ia cari keluar.


"Ada apa Nak ?" tanya sang Nenek.


"Hmm... Itu Nek, kamar mandi nggak ada airnya" jelas Ayana.


"Oh, untuk airnya, kita harus timba di sumur lalu membawanya masuk ke rumah" jawab sang nenek.


"Su-sumur ?" tanya Ayana tercengang.


"Iya, apa kamu tidak pernah menimba di sumur ?"


"I-iya Nek"


Sang nenek kemudian tersenyum, ia yakin Ayana pasti dari kota. Mengingat tentang 'kota' sang nenek kemudian teringat dengan putra dan menantunya.


'Aku memang pantas mendapatkan hukuman ini' ucap batinnya.


Melihat sang nenek tampak termenung, Ayana lalu mencoba menyadarkan sang nenek dari lamunannya.


"Nek... Nenek tidak apa-apa ?" tanya Ayana dengan lembut.


Sang nenek pun tersadar dan menggeleng, "Ayo ikut Nenek ke belakang ! Di belakang ada sumur tempat kita mengambil air" ucap sang Nenek.


Ayana lalu mengikuti langkah nenek tua itu ke belakang rumah. Dan benar saja ada sumur disana dan sebuah timba yang terbuat dari ember bekas tempat cat.


Sang nenek lalu menurunkan ember tersebut dan setelah sampai di ujung sumur dan terisi dengan air, sang nenek lalu menariknya dengan pelan. Melihat hal itu membuat hati Ayana tergerak untuk membantu sang nenek.


Awalnya Ayana merasa kesulitan karena belum terlalu mengerti cara menimba air, tapi lama-kelamaan Ayana sudah mulai mengerti. Wanita hamil itu lalu mengangkat ember yang berisi air masuk ke dalam kamar mandi.


Baru sekali ia mengangkat ember yang berisi air, ia sudah lelah. Ia pung berusaha mengatur nafasnya agar bisa kembali normal.


"Sekarang kamu mandi !" seru sang nenek.


Ayana lalu mengangguk dan setelah keringatnya kering, ia lalu membersihkan tubuhnya dengan air yang seadanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa kritik dan sarannya 🤗


komen dong biar Sa semangat nulis 🥺🤧