
...🍃 Happy Reading 🍃...
"Jangan harap kalian mudah memutuskan perjodohan ini ! Jika kalian masih ingin mengakhiri semuanya, kerja sama perusahaan kita batal dan kamu harus membayar ganti rugi sesuai dengan kesepakatan awal !" Tegas Tuan Nugroho.
"Tenang saja ! Aku akan membayarnya sesuai dengan surat perjanjian kontrak kita. Aku bukan orang yang ingkar atas janjiku" Balas Ayah Budianto.
Tuan Nugroho tertawa keras saat mendengar ucapan Ayah Budianto, tapi sedetik kemudian ia mengeraskan rahangnya karena emosi.
"Kamu mengatakan jika kamu bukan orang ingkar atas janjimu, lalu apa yang kamu lakukan sekarang ini ?" Ledek Tuan Nugroho.
Ayah Budianto terdiam sehingga membuat Tuan Nugroho tersenyum sinis.
"Aku akan memberikan kamu waktu untuk membujuk Gama sekali lagi ! Jika anakmu itu masih menolak maka siap-siap untuk ganti rugi !" Lanjut Tuan Nugroho sebelum meninggalkan rumah Ayah Budianto.
🍃
Saat ini Gama, Zayyan, Omah dan Mama Lisa menikmati makan siang mereka. Tanpa sadar Gama begitu lahap memakan masakan Ayana.
Omah dan Mama Lisa yang melihat Gama makan begitu lahap tersenyum senang.
"Tambah lagi ! Mumpung orang yang mask nggak ada, jadi nggak usah malu-malu lagi" Mama Lisa mengambilkan nasi lagi untuk Gama saat melihat nasi di piring pria itu hampir habis.
Gama tersedak mendengar ucapan Mama Lisa. Wajahnya memerah karena merasa malu pada Mama Lisa dan Omah.
"Masakan Ayana enak Tante" puji Gama sambil tersenyum.
"Masakan Mama memang enak. Zayyan sangat senang makan masakan Mama" celetuk Zayyan dengan mulut penuh.
"Zayyan... Kunyah dulu makanannya terus tekan, habis itu baru boleh bicara Nak !" tegur Mama Lisa. Ia takut cucunya tersedak makanan.
Zayyan tersenyum dengan polosnya, "oh iya, lupa Nek" jawabnya setelah makanan di mulutnya berhasil masuk ke tenggorokannya.
Mama Lisa geleng-geleng kepala melihat tingkah cucunya yang sangat menggemaskan. Sementara Gama dan Omah hanya tersenyum.
Setelah selesai makan siang, Gama duduk di rumah tengah menemani Zayyan bermain. Sesekali matanya melirik pintu kamar Ayana. Ia sangat berharap wanita itu keluar, gama ingin sekali melihat wajah wanita pujaannya.
Tak lama pintu itu beneran terbuka. Sekilas mata Ayana menatap matanya, namun wanita itu segera mengalihkan pandangannya ke lain arah. Ayana berjalan melewati Gama dan Zayyan.
'Ck... Ternyata putraku disogok mainan. Licik juga pikirannya' kesal hati Ayana. Bagaimana tidak kesal jika Zayyan dan Gama terlihat akrab seperti itu. Sesekali ia mendengar tawa Zayyan keluar.
Gama yang melihat Ayana berlalu mencoba mengikuti wanita itu.
"Zayyan, Om keluar sebentar ya ! Om mau bicara sama Mama kamu" ucapnya.
"Iya Om, tapi jangan lama-lama ya !"
Gama mengangguk mendengar permintaan putranya. Ia segera berjalan ke luar teras rumah. Ia ingin mencoba berbicara dengan Ayana.
Gama membuka pintu dan melihat Ayana duduk di sebuah kursi rotan. Mata wanita itu melirik ke arahnya dengan sinis. Gama tidak peduli lirikan mata Ayana. Ia tetap duduk di dekat wanita itu.
Terdengar hembusan nafas Ayana yang sangat kasar. Gama tahu jika wanita itu pasti kesal karena ia duduk di sampingnya.
"Ayana, bisa bicara sebentar ?" tanya Gama hati-hati.
"Tidak" ketus Ayana.
Gama menghela nafas panjang dan terdiam. Seketika terasa suasana sunyi dan canggung.
Ayana yang merasa risih dengan suasana canggung ini hendak meninggalkan Gama. Tapi pria itu menarik tangan Ayana saat tubuhnya telah berhasil berdiri.
*DEG*... Jantung Ayana berdetak kencang saat merasakan sentuhan tangan Gama yang hangat.
Ayana memejamkan mata mencoba menetralisir perasan rindu dan sakit yang meluap di hatinya. Sungguh Ayam sangat membenci suasana seperti ini.
Melihat Ayana terdiam membuat Gama tersenyum tipis.
"Aku merindukanmu" ucapnya dengan bibir bergetar, kedua tangannya kini menggenggam kedua tangan Ayana.
Mendengar ungkapan hati Gama membuat mata Ayana terasa panas. Ia semakin memperkuat pejaman matanya agar air matanya tidak jatuh.
"Selama ini aku tersiksa karena merindukan kamu. Wajahmu setiap saat datang mengusik pikiranku. Bahkan kamu seorang hadir di dalam mimpiku, membuat hatiku menjadi semakin tidak tenang. Aku benar-benar merindukan kamu Ayana" ucap Gama menggebu-gebu.
Jantung Ayana semakin berdetak kencang saat mendengar isi hati Gama. Hatinya tersentuh saat Gama mengatakan jika pria itu rindu padanya. Ada rasa senang dan rasa haru karena Gama selalu memikirkan dirinya.
'Tidak Ayana, kamu tidak boleh luluh padanya lagi ! Cukup sekali kamu melakukan kesalahan dengan jatuh cinta pada pria ini !' Batin Ayana berusaha menyadarkan perasannya.
Ia membuka matanya dan menatap wajah sendu Gama. Lagi-lagi hati wanita itu melunak kala melihat mata Gama yang berembun karena menahan air matanya. Ia menatap sinar mata Gama yang tampak memancarkan cinta, tatapan cinta yang masih sama saat pertama kali mereka jadian.
Ayana kembali merasa bimbang dengan perasannya yang berubah-ubah. Tapi sebisa mungkin membuat hatinya kembali pada pendiriannya, tidak ingin memberikan kesempatan untuk Gama.
"Berhenti berbicara omong kosong !" ucapnya segera menepis tangan Gama. Ia menatap tajam pria yang duduk di hadapannya.
Gama tersentak dengan respon Ayana, walaupun ia sudah menebak jika wanita itu akan menolaknya. Ia melihat raut wajah Ayana yang terlihat menahan emosi.
"Apa kamu sangat membenciku ?" pertanyaan bodoh itu berhasil keluar dari mulut Gama.
"Iya. Aku sangat membencimu. Jadi jangan lagi muncul di hadapanku terutama di hadapan Zayyan !" tegas Ayana.
"Tidak bisa Ayana ! Aku sudah lama menunggu pertemuan kita. Mana mungkin aku tidak muncul di hadapanmu ? Apalagi di hadapan Zayyan. Dia adalah putraku, aku memiliki hak untuk bertemu dengannya" balas Gama penuh penekanan.
Ayana tertawa saat mendengar ucapan Gama, "Punya hak apa kamu terdapat Zayyan ? Ingat ya Gama ! Zayyan hanya putraku, hanya anakku, jadi jangan pernah mengaku-ngaku jika dia putramu ! Aku yang mengandungnya, aku yang melahirkannya, aku juga yang membesarkannya. Jadi kamu tidak ada wewenang untuk menyebutnya sebagai putramu !"
Suara Ayana mulai meninggi karena emosi.
"Iya aku tahu hal itu. Tapi kamu juga perlu ingat jika Zayyan juga bagian dari diriku ! Dia darah daging ku. Kamu tidak mengelak hal itu !"
Gama kini berdiri tegap di hadapan Ayana. Kedua mata mereka saling beradu, Gama menatap Ayana penuh kelembutan, tapi Ayana menatapnya dengan tatapan penuh amarah.
"Tak perlu kamu ingatkan aku juga ingat. Tapi jangan lupakan jika kamu pernah menolaknya, bahkan dengan teganya kamu memintaku membunuhnya. Sangat lucu bukan jika kamu tiba-tiba mengakuinya sebagai putramu ?"
Ucapan Ayana bagaikan tamparan untuk Gama. Benar yang dikatakan Ayana, ia pernah menolak putranya. Ia masih ingat bagaimana Ayana menangis dan memohon pertanggungjawaban darinya. Tapi ia justru memilih untuk mengikuti egonya dengan alasan mengejar mimpinya.
Namun sekarang, mimpi yang ia perjuangkan justru harus ia lepaskan karena kedua orang tuanya.
Gama kini benar-benar menyesali keputusannya dulu, meninggalkan Ayana dan buah hati mereka hanya untuk mengejar mimpi yang sia-sia.
Melihat Gama terdiam membuat Ayana mempunya kesempatan untuk segera masuk rumahnya. Ia meninggalkan Gama dan segera masuk ke kamarnya. Air mata yang sedari tadi ia tahan kini terjun bebas membasahi pipinya. Perasaan kini berkecamuk sehingga membuat dadanya terasa sesak.
Sementara Gama yang sadar dengan kepergian Ayana hanya bisa terduduk lemas. Tak beda jauh dengan Ayana, ia juga menjatuhkan air matanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo sayang²ku 😘 sambil nungguin Novel ini Up, ini Sa kasih rekomendasi novel bagus untuk kalian 🤗 jangan lupa mampir ya 🤩
Author : Dira61
Judul : My Baby Hidden