Young Mommy

Young Mommy
Part 66



...🍃Happy Reading🍃...


Usai makan malam, kini saatnya mereka menyerahkan kado mereka pada Zayyan. Ayana melihat putranya sangat bahagia ketika mendapatkan banyak hadiah. Terlebih lagi ketika mendapatkan hadiah dari Gama. Bagaimana tidak senang jika hadiah yang diberikan Gama berupa mobil-mobilan aki Jeep dan Toy*ta Fortuner. Mobil-mobilan ini bahkan bisa dinaiki orang dewasa.


"Terima kasih Om Gama" ucap Zayyan yang tidak hentinya berucap terima kasih.


Setelah Zayyan menerima semua kado, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali.


"Kalian tinggal di rumah Ayana saja !" pinta Ayana. Menurutnya sangat boros jika mereka tinggal di hotel sementara rumah Ayana masih bisa ditempati lima hingga tujuh orang lagi. Meskipun hanya memiliki tiga kamar saja. Tapi mereka semua bisa saling berbagi kamar.


"Apa tidak masalah ?" tanya Papa Hartono. Sebenarnya pertanyaan Papa Hartono bukan untuk mereka tapi lebih tepatnya untuk Gama. Apa Ayana tidak keberatan jika pria itu tinggal di rumahnya.


Ayana yang tahu arah pembicaraan sang Papa hanya bisa menjawab dengan sebuah anggukan kepala.


Mereka pulang menumpang di mobil Fabio. Sebelum ke rumah, Ayana mampir ke toko rotinya untuk mengambil mobilnya.


"Apa ini toko roti milikmu ?" tanya Mama Lisa.


"Iya Ma, Ayana turun dulu ya" ucap Ayana.


Wanita itu lalu turn dari mobil Fabio. Ia masuk dan memberitahu karyawannya jika ia pulang duluan. Setelah pamit, Ayana mengikuti mobil Fabio dari belakang.


Tiba di rumah Ayana, Fabio berpamitan dengan Ayana dan keluarganya.


"Terima kasih Fabio" ucap Ayana tulus.


Fabio yang hendak masuk mobilnya mengurungkan niatnya. Ia menatap Ayana yang tersenyum hangat padanya. Seketika jantungnya berdegup kencang, hanya dengan melihat senyum Ayana saja.


'Aku tidak tahu takdir kita seperti apa ? Yang jelas jika kamu tidak bersamaku, aku berharap kamu jatuh di tangan pria yang tepat, yang bisa membuatmu selalu bahagia. Aku akan mencoba melepaskan dirimu jika kamu telah menemukan pria itu' batin Fabio.


Ia membalas senyuman Ayana dan berkata, "Sama-sama"


Setelah mengucapkan itu, Fabio meninggalkan rumah Ayana. Ayana pun mengajak keluarganya masuk ke rumahnya.


"Rumah ini hasil dari usahamu ?" tanya Omah.


"Iya Omah, dari usaha toko roti itu Ayana bisa membeli rumah ini. Ya walaupun rumah minimalis tapi Ayana bersyukur karena bisa membeli rumah dari uang hasil kerja kerasa Ayana sendiri" jawab Ayana.


"Ini sudah bisa dikatakan pencapaian hebat, Nak. Menjadi Single Mom itu pasti tidak mudah, terlebih jauh dari sanak saudara. Omah bangga padamu, Nak. Ayana yang manja sekarang sudah tidak ada, kini berganti dengan Ayana yang hebat" balas Omah memuji cucunya.


"Ah, Omah bisa saja. Usaha roti itu bukan hanya milik Ayana tapi juga Nenek Rukmini" jelas Ayana.


"Nenek Rukmini ?" beo Gama.


Ayana menatap pria itu dan mengangguk. "Saat hari pertama membuka usaha roti itu, tepatnya sebelum Nenek Rukmini ditemukan oleh orang tuamu. Nenek Rukmini sempat memberikan uang padaku, uang itu hasil dari jual sawah miliknya. Dan uang itu sangat membantu untuk membangun usaha roti itu" jelas Ayana.


Gama tersenyum senang mendengar cerita Ayana. Ia harus berterima kasih dengan sang Nenek karena telah mambantu wanitanya.


"Sepertinya Nenek sangat menyayangi kalian" ucap Gama.


Ayana hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Gama.


"Ya sudah kalau gitu kalian istirahat saja. Kamar rumah ini cuman ada tiga, Omah tidur sama Ayana. Papa dan Mama sekamar" ucap Ayana, ia sengaja tidak menyebutkan nama Gama karena masih canggung.


"Lalu Om Gama tidur bareng siapa ?" tanya Zayyan polos.


"Kalau gitu Om Gama tidur bareng Zayyan saja ! Kasihan Om Gama nggak ada temannya"


Senyum di wajah Gama semakin merekah mendengar penawaran putranya. 'Baiklah, tidak bisa tidur dengan Mamanya tidur dengan anaknya tidak masalah' batinnya.


Sementara Ayana hanya mengangguk pelan.


Malam hari tiba, seperti biasanya Ayana akan sibuk di dapur. Wanita itu memasak banyak makanan untuk para tamunya. Tak lupa Ayana membuat kue sebagai cemilannya.


Setelah selesai memasak, Ayana memanggil keluarganya untuk makan malam. Usai makan malam mereka berkumpul di ruang tengah. Mereka kembali berbincang-bincang.


"Ayana, bagaimana kamu bisa mengenal Fabio hingga sangat dekat seperti sekarang ?" tanya Mama Lisa.


"Ayana kenal Fabio ketika Ayana baru kembali ke kota. Saat itu umur Zayyan baru 3 bulan lebih. Ayana mencari rumah kontrakan dan Fabio yang membatu Ayana. Fabio juga membantu Ayana mencari kerjaan" jawab Ayana.


"Pekerjaan ?" tanya Gama bingung. Memang Ayana bisa masuk kerja sementara pendidikan wanita itu tidak selesai.


"Hanya sebagai pelayan di warung" jawab Ayana.


Mendengar hal itu membuat Gama kembali dihantui rasa bersalah. Wanitanya banting tulang untuk menghidupi putra mereka sementara dirinya lepas dari tanggung jawabnya.


"Fabio juga yang mengajak Ayana ke Surabaya" lanjut Ayana.


"Oh jadi kalian memang sudah saling kenal sebelum pindah ke Surabaya ?" tanya Mama Lisa.


"Iya Ma, dulu Fabio sering membantu Nenek Rukmini menjaga Zayyan" jelas Ayana lagi.


"Wah baik sekali Fabio" puji Mama Lisa.


"Sepertinya pria itu menyimpan rasa padamu" ucap Papa Hartono to the point.


Ayana terdiam sejenak lalu mengangguk.


"Fabio sudah sering mengungkapkan perasaannya, tapi Ayana tidak bisa membalasnya" jawab Ayana.


Gama tentu terkejut mendengar ucapan Ayana. Jadi selama ini Fabio sering mengungkapkan perasaannya dengan Ayana ? Tapi mengapa Ayana tidak bisa membalas perasaan pria itu ? Apa Ayana masih memiliki perasaan yang sama padanya ?


Berbagai pertanyaan kini bersarang di kepala Gama.


"Mengapa ?" tanya Papa Hartono.


Mendengar pertanyaan sang Papa, Ayana hanya mampu terdiam.


Melihat diamnya Ayana membuat Papa Hartono mengerti jika putrinya enggan menjawab.


"Sepertinya sudah larut malam. Sebaiknya kita istirahat !" ucap Papa Hartono.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa tinggalkan jejak 🤗😘



jangan lupa mampir di kary terbaru Sa 🤗