
...🍃Happy Reading🍃...
Seminggu setelah kepergian Ayana. Gama kembali murung. Sebenarnya ia biasa saja menyusul Ayana, tapi ia teringat dengan pesan orang tua Ayana dan juga Nenek Rukmini.
Mereka meminta Gama memberikan sedikit waktu untuk Ayana menenangkan diri dan mencaritahu kemauan hatinya sendiri.
Untuk mengurangi pikirannya terhadap Ayana, Gama lebih memilih menyibukkan diri.
Bahkan pria itu sering kali memilih lembur di kantor daripada pulang ke rumah orang tuanya atau ke apartemennya.
Sementara di tempat lain, tepatnya di toko roti milik Ayana. Gala sedang menjadi penguntit.
Ia menggunakan masker, topi dan sebuah kaca mata hitam duduk diantara banyaknya pengunjung.
Tak lama ia melihat Ayana keluar dari ruangannya bersama dengan Zayyan.
"Mia, aku pulang dulu ya" ucap Ayana pada karyawannya.
"Iya Mbak, hati-hati di jalan" balas Mia.
Ayana dan Zayyan berjalan keluar dari toko roti lalu masuk ke dalam mobilnya.
Tentu saja Gala tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, ia mengikuti kemana perginya mobil Ayana.
Dari jarak lima belas meter, Gala melihat mobil Ayana masuk sebuah pekarangan rumah minimalis.
"Apa itu rumahnya ?"
Gala terus memperhatikan Ayana yang baru saja keluar dari mobilnya.
Setelah Ayana masuk rumahnya, Gala memajukan mobilnya tepat di depan rumah Ayana.
"Akhirnya, aku tahu tempat tinggalnya" ucap Gala tersenyum bahagia.
Akhirnya Gala memutuskan untuk meninggalkan rumah Ayana dan kembali ke kos-kosannya.
🍃
Hari demi hari berlalu, tanpa terasa sudah dua bulan sejak Ayana kembali ke Surabaya.
Gama sudah tidak tahan lagi menahan rindunya. Hingga pria itu memutuskan untuk segera menyusul Ayana dan putranya.
"Nek, Gama akan menyusul Ayana" ucap Gama pada Nenek Rukmini.
Nenek Rukmini menatap cucunya lalu berkata, "Pergilah ! Sudah waktunya kamu kembali berjuang untuk mendapatkan cintamu !"
Mendengar dukungan sang nenek membuat Gama tersenyum puas. Kini Gama harus meminta ijin pada kedua orang tua Ayana.
Setibanya Gama disana, pria itu langsung ke intinya. Ia mengatakan niatnya untuk menyusul Ayana.
"Kalau begitu kita berangkat sama-sama !" ucap Papa Hartono.
"Besok lusa, ulang tahun Zayyan. Semalam Ayana meminta kami kesana jika memiliki waktu. Tapi kami belum menjawabnya" lanjut Papa Hartono.
"Benarkah Om ?" tanya Gama dengan mata yang membulat.
Dirinya merasa jika ia memang seorang Papa yang tidak bertanggung jawab. Bahkan ulang tahun putranya saja ia tidak tahu.
"Benar, Nak. Kami akan berangkat ke Bandung bersamamu" jawab Papa Hartono.
Jadual orang tua Ayana menyerahkan semuanya pada Gama. Mereka kini mulai packing pakaian yang ingin mereka bawa.
Sebelum berangkat, orang tua Ayana menghubungi Fabio terlebih dahulu.
Papa Hartono mengatakan jika mereka akan berangkat ke Surabaya, tapi Papa Hartono meminta agar Fabio tidak mengatakan ini pada Ayana.
Sore harinya, Gama, Orang tua Ayana dan Omah berangkat ke Surabaya.
Setelah menempuh perjalanan 2 jam lebih, kini mereka tiba di bandar udara internasional Juanda Surabaya.
Fabio melambaikan tangan ketika melihat mereka. Ia tersenyum pada kedua orang tua Ayana, tapi senyumnya luntur kala melihat Gama berjalan beriringan dengan Omah.
'Ternyata dia juga ikut ?' batin Fabio.
Papa Hartono segera menghampiri Fabio diikuti oleh yang lainnya.
"Apa kabar Om ?" tanya Fabio basa-basi.
"Kabar baik Bio, makanya Om bisa berada disini" jawab Papa Hartono tertawa.
"Syukurlah, kalau gitu Oma dan yang lainnya mau tinggal dimana ?" tanya Fabio.
"Kami menginap di hotel saja" jawab Papa Hartono.
"Iya, kebetulan kami sudah memboking kamar hotel" sambung Gama.
Sebenarnya Gama juga tidak terlalu senang dengan Fabio karena menganggap pria itu sebagai rivalnya.
Tapi sebisa mungkin Gama tidak menunjukkan rasa tidak sukanya pada Fabio.
"Ah, begitu ya ? Kalau begitu katakan dimana hotel tempat kalian menginap ! Aku akan mengantar kalian" balas Fabio.
Mereka lalu meninggalkan bandara dan menuju hotel tempat mereka tinggal beberapa hari nanti.
Saat dalam perjalanan, mereka saling berbincang. Lebih tepatnya Fabio sering mengajak Papa Hartono berbicara.
"Kenapa Om tidak memberitahu Ayana jika kalian sudah berada di Surabaya ?" tanya Fabio.
"Kami ingin memberikan kejutan. Jika kamu tidak keberatan, kamu mau tidak membantu kamu mencari tempat yang bagus untuk merayakan ulang tahun Zayyan ?" Ucap Papa Hartono meminta bantuan Fabio.
"Kalau Bio sih bisa aja Om" jawab Fabio menyanggupi permintaan Papa Hartono.
"Terima kasih Fabio. Om harap Zayyan akan senang mendapatkan kejutan dari kami" ucap Papa Hartono.
Tak lama mereka tiba di hotel. Mereka segera masuk dan menuju kamar mereka untuk istirahat. Sementara Fabio memutuskan untuk ke toko roti Ayana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo 👋 Sa mau kasih rekomendasi novel bagus untuk kalian, jangan lupa mampir ya 🤗❤️
Judul : Menjadi Madu Sahabatku
Author : Ayu Andila