
...🍃Happy Reading🍃...
Ayana dan Mama Lisa saling berpelukan menumpahkan semua kerinduan yang terpendam di hati mereka.
"Berhentilah meminta maaf ! Semua ini bukan salah kamu sayang" ucap Mama Lisa.
Ayana menggeleng seolah tidak setuju dengan ucapan sang Mama. Memang dirinya lah yang salah, tidak seharusnya ia bersembunyi begitu lama dari mereka.
Mama Lisa melerai pelukannya lalu menghapus air mata putrinya, "Kami selama ini sangat merindukan kamu sayang" ucap Mama Lisa tersenyum hangat.
"Ayana juga rindu dengan kalian" jawab Ayana.
Mama Lisa sedikit menjauh dan memberikan ruang untuk Omah maju memeluk tubuh Ayana.
Lagi-lagi suasana sedih dan haru menjadi satu saat kedua wanita berbeda generasi itu saling menumpahkan air mata kerinduan. Mereka lalu melepaskan pelukannya.
Ayana menatap Papa Hartono yang tampak terdiam. Mata pria paruh baya itu tampak memerah karena menahan air matanya.
"Apa Papa tidak rindu dengan putri cantik Papa ?" tanya Ayana sambil terisak.
Tanpa banyak bicara Papa Hartono menarik putrinya masuk dalam pelukan hangatnya. Sekuat tenaga ia menahan air matanya, tapi ia tetap tidak bisa.
"Maafkan Papa, Nak ! Seharusnya Papa tidak keras terhadapmu" ucapnya merasa bersalah. Biar bagaimanapun, kepergian Ayana merupakan kesalahannya juga.
"Tidak, Papa tidak perlu minta maaf ! Ayana yang salah, Ayana terlalu berdosa meninggalkan kalian tanpa kabar. Seharusnya Ayana yang meminta maaf" ucap Ayana.
"Kami sudah memaafkan semua kesalahan kamu, Nak" jawab Papa Hartono yang masih memeluk erat tubuh putrinya.
Semua kejadian itu membuat Nenek Rukmini dan Ibu Shita ikut meneteskan air mata.
Momen hari itu tiba-tiba terjeda karena suara Zayyan.
"Mama kenapa menangis ? Apa mereka menyakiti Mama ? Zayyan tidak akan biarkan mereka melukai Mama, jika perlu Zayyan akan melaporkan mereka pada polisi" ucapnya polos, ia mengancam orang-orang yang ia anggap menyakiti Mamanya.
Seketika orang-orang yang berada disana tersenyum mendengar celotehan Zayyan yang sigap melindungi Ayana.
Ayana lalu menghampiri putranya dan menjelaskan penyebab ia menangis.
"Mama menangis karena terharu bisa bertemu dengan orang tua Mama. Zayyan mau kenalan dengan Kakek, Nenek dan Omah ?" tanyanya.
"Apa itu Kakek dan Nenek yang dikatakan Omah Shita tadi ?" tanya Zayyan kini merubah wajahnya yang penuh amarah tadi menjadi wajah yang berbinar.
Ayana mengangguk sebagai jawaban. Ia lalu menarik tangan putranya dan memperkenalkan kedua orang tuanya dan Omah.
"Ini namanya Kakek Tono, Kakek Tono ini Papanya Mama. Sekarang Zayyan Salim tangan Kakek !"
Zayyan menuruti permintaan Ayana. Hati Papa Hartono bergetar kala cucunya itu mengecup punggung tangannya. Ini adalah cucu yang dulu ia tolak dan hendak ia gugurkan. Seketika air matanya kembali terjatuh membuat Zayyan spontan mengusapnya.
"Kakek jangan menangis ! Zayyan sudah ada disini, Zayyan akan melindungi Kakek dari orang-orang jahat", ucapnya polos seketika membuat Pala Hartono terkekeh.
"Kakek menangis karena merindukan cucu Kakek" jawab Papa Hartono sambil memeluk tubuh mungil cucunya.
Ayana lalu memperkenalkan Mama Lisa dan Omah pada Zayyan. Setelah berkenalan dengan Zayyan, Fabio lalu meminta mereka masuk di ruangan VIP yang telah mereka pesan.
Ayana menatap pria itu dan berkata, "Kamu hutang penjelasan padaku !"
Fabio tersenyum, mendengar kalimat itu keluar dari mulut Ayana membuatnya yakin jika wanita itu tidaklah bersungguh-sungguh marah padanya.
Semua orang hendak masuk ruang VIP tersebut, tapi tiba-tiba Ayana berkata.
"Bisakah mereka pergi ?" tanya Ayana tanpa ekspresi.
Semua orang mendadak terdiam. Mereka tahu jika Wang dimaksud Ayana adalah Gama dan Nenek Rukmini.
Fabio lalu menatap Ayana, " Jangan seperti ini Ayana ! Selama ini kamu selalu mengatakan jika rindu pada Nenek Rukmini. Jangan karena keegoisan hatimu kamu melakukan kesalahan yang sama ! Biar bagaimanapun, Nenek Rukmini tidak tahu tentang masa lalumu dengan keluarganya. Jangan hanya karena satu kesalahan kamu melupakan seribu kebaikan !" Tegur Fabio.
Ayana merasa tertampar dengan ucapan Fabio. Memang benar apa yang pria itu katakan, tapi ia tidak bisa jika Gama berada disini.
"Jika seperti itu, usir saja pria itu !" perintah Ayana tegas.
Fabio menatap pria yang disebut Ayana. Ia tahu jika pria itu adalah Gama yang dikatakan oleh Lucas.
"Jika pria itu tidak pergi, maka aku yang akan pergi !" ancam Ayana karena Gama tidak bergeming.
Gama menghela nafas dengan berat. Wanita yang sedari tadi ingin ia peluk justru mengusirnya. Memang ia sudah tahu akan seperti apa hasil pertemuannya dengan Ayana, dirinya pasti ditolak. Tapi mau tidak mau Gama harus menuruti permintaan wanita itu. Ia lalu menitipkan Nenek Rukmini pada orang tua Fabio. Ia berjalan ke luar restoran dan menunggu di dalam mobil.
Fabio menyusul karena merasa tidak pantas ikut mendengarkan pembicaraan mereka. Tak lupa ia membawa Zayyan, ia tidak ingin anak sekecil Zayyan menguping pembicaraan orang dewasa.
Setelah Gama pergi, mereka lalu masuk di ke ruang VIP. Suasana mendadak sunyi karena tidak ada yang membuka suara.
Tapi tak lama kemudian Ayana menghampiri Nenek Rukmini yang duduk di atas kursi roda. Ia bersimpuh di hadapan wanita tua itu dengan tangisannya yang sudah pecah.
"Maaf..." Hanya kata-kata itu yang mampu Ayana keluarkan. Ia sangat bersalah pada Nenek Rukmini karena menyeret wanita tua itu masuk ke dalam masalahnya dengan Gama, memang seharusnya Ayana tidak menjauhi Nenek Rukmini.
"Apa kamu mengusir Nenek karena takut bertemu dengan orang tua Gama ?" tanya Nenek Rukmini menghentikan tangisannya.
Ayana mengangguk, "waktu itu Ayana tidak bisa berpikir jernih, Nek. Ayana takut mereka melihat Ayana, mereka adalah orang-orang yang Ayana hindari. Ayana tidak mau mereka merebut Zayyan dari hidup Ayana" jelas Ayana sambil terisak.
Nenek Rukmini kembali menangis mendengar ucapan Ayana. Ia mengerti ketakutan yang dirasakan Ayana, mengingat bagaimana cerita Gama jika kedua orang tuanya meminta Ayana menggugurkan kandungannya. Ibu yang mana tidak merasa takut bertemu dengan orang-orang yang selama ini ingin menyingkirkan anaknya.
"Ayana mengusir Nenek karena tidak ingin berhubungan dengan keluarga dari Papanya Zayyan. Ayana sangat membenci putra dan menantu Nenek, mereka dengan terang-terangan ingin membunuh anak yang ada di dalam kandunganku. Makanya Ayana terpaksa mengusir Nenek dengan kasar. Tapi semakin lama Ayana semakin merasa bersalah. Ayana merasa sangat egois dan tidak tahu terima kasih pada Nenek. Ayana benar-benar minta maaf atas kesalahan yang Ayana perbuat" lanjutnya lagi sambil mencium punggung kedua tangan Nenek Rukmini.
"Nenek tidak menyalahkan tindakanmu. Nenek juga merasa terluka saat Gama bercerita tentang masa lalu kalian. Nenek tidak pernah membenarkan semua tindakan putra dan menantu Nenek. Maka dari itu Nenek mau mewakili mereka untuk meminta maaf padamu" balas Nenek Rukmini sambil mengelus lembut pucuk kepala Ayana.
Ayana menatap Nenek Rukmini lalu berdiri dan memeluk tubuh sang Nenek yang mulai terlihat semakin lemah. Meskipun Ayana belum bisa memaafkan perbuatan kedua orang tua Gama, tapi ia tidak mungkin mengatakan penolakan Ayana di depan Nenek Rukmini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo sayang²ku 😘 sambil nungguin Novel ini Up, ini Sa kasih rekomendasi novel bagus untuk kalian 🤗 jangan lupa mampir ya 🤩
Author : Sendi Andriyani
Judul : Secret Wedding