
...🍃Happy Reading🍃...
Kini Nenek Rukmini ikut bergabung di ruang tengah bersama anak, menantu dan cucunya.
Suasana menjadi hening, tak ada lagi yang membuka suara. Nenek Rukmini memandangi mereka satu persatu.
"Gama, dengarkan Nenek ! Jangan sekali-kali kamu membalas ucapan orang tua kamu dengan suara meninggi Nak ! Sekesal apapun dirimu, jangan pernah lakukan hal itu ! Lebih baik kamu diam dan abaikan jika bertentangan dengan pilihan hatimu !" nasehat Nenek Rukmini. Biar bagaimanapun Gama tetaplah seorang anak yang tidak baik jika melawan orang tua dengan suara yang keras dan terdengar kasar.
Gama tidak menjawab, ia hanya terdiam dengan wajah yang menunduk.
"Untuk kalian berdua, sebagai orang tua yang baik seharusnya kalian tidak mengekang kehendak putra kalian ! Jangan mengulangi kesalahan yang sama seperti Ibu lakukan dulu ! Sudah berapa kali Ibu katakan jika Gama berhak menentukan pilihannya sendiri. Wanita pilihan Gama merupakan wanita yang baik, Ibu setuju jik Gama memperjuangkan cintanya kembali. Bukan hanya cinta Ayana, tapi juga putranya, cucu kalian, cicit Ibu. Jadi biarkan Gama dan Ayana bersatu kembali. Jangan halangi mereka untuk bersama" ucap Nenek Rukmini dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
"Ibu mengenal Ayana ?" tanya Ayah Budianto bingung.
"Ibu mengenalnya, dia wanita yang baik dan ceria. Tapi sayang sekali, dia harus menjalani hidup yang sulit saat ia hamil. Banyak orang-orang yang menolak kehadirannya karena hamil di luar nikah. Selama setahun lebih tinggal bersama Ayana membuat Ibu mengenal baik wanita itu" jelas Nenek Rukmini membuat Ayah Budianto dan Bunda Mila membulatkan matanya.
"Ti-tinggal bersama ?" tanya Bunda Mila terbata.
"Ayana hasil yang pernah ibu ceritakan. Gadis malang yang diusir dari keluarganya" jelas Nenek Rukmini.
"Jadi gadis itu Ayana ?" Tanya Ayah Budianto lirih.
"Iya Nak. Ibu sangat berharap Ayana dan Gama bisa bersatu kembali. Jadi Ibu mohon jangan halangi lagi kebahagiaan mereka !" pinta Nenek Rukmini.
Seketika Ayah Budianto dan Bunda Mila tidak bisa berkutik lagi. Mereka tidak menyangka jika Ayana lah yang paling pertama menemukan Nenek Rukmini. Entah mereka harus berterima kasih atau tidak pada Ayana. Mereka mulai merasa bimbang.
"Benar kata Gama tadi, yang menjalani hidupnya adalah dirinya sendiri bukan kita. Kita sebagai orang tua tidak memiliki hak untuk mengatur Gama, kita hanya bisa mengarahkan dan menasehati agar Gama tetap berada di pilihan yang benar. Selama pilihan Gama tidak buruk, kenapa kita tidak bisa menerima ?" lanjut Nenek Rukmini.
Gama yang sedari tadi menunduk kini menatap sang Nenek dengan penuh rasa haru. Kehadiran Nenek Rukmini membuatnya merasa senang karena mendapatkan dukungan untuk kembali bersama Ayana.
Ayah Budianto membenarkan ucapan Ibunya, tapi ia tidak bisa membatalkan perjodohan Gama dan Shintia secara sepihak. Keluarga Shintia akan meminta ganti rugi karena perjodohan Gama dengan Shintia melibatkan kerja sama anatar perusahaan. Bisa dibilang perjodohan Gama dan Shintia adalah perjodohan bisnis.
"Tapi Ibu, bagaimana dengan perjodohan Gama dengan Shintia ?" tanya Ayah Budianto.
"Perjodohan mereka kan belum berlanjut. Mereka belum tunangan, jadi akan lebih mudah untuk memutuskan perjodohan ini" ucap Nenek Rukmini.
"Tapi kerja sama perusahaan kami dengan keluarga Shintia akan batal. Kamu akan mengganti rugi dengan nilai yang tidak sedikit" jelas Ayah Budianto.
"Berhenti memikirkan kerugian perusahaanmu ! Pikirkanlah kebahagiaan putramu, tidak ada yang lebih berharga daripada kebagian anak-anak kalian. Harta bisa kalian cari. Lagipula ganti rugi kalian terhadap keluarga mereka tidak akan membuat kamu langsung jatuh miskin" Nenek Rukmini masih berusaha membujuk Ayah Budianto mengakhiri perjodohan Gama dan Shintia.
"Apa kalian tega menukar kebahagiaan anak kalian dengan uang yang bisa dicari ?" tanya Nenek Rukmini membuat anak dan menantunya merasa tertampar.
Ayah Budianto dan Bunda Mila sama-sama terdiam, mereka menyadari kesalahan mereka yang selalu mengatur hidup putranya.
Perdebatan keluarga Gama berakhir ketika sang Nenek meminta mereka segera istirahat. Gama memutuskan untuk tidur di rumah ini karena permintaan sang Nenek.
Keesokan harinya, wajah Gama terlihat begitu cerah, berbeda dengan kemarin-kemarin. Entah apa yang membuat putra sulung mereka terlihat senang, apa mungkin karena perjodohannya dengan Shintia telah batal ? pikir kedua orang tuannya.
"Apa yang membuat cucu Nenek terlihat senang ?" tanya Nenek Rukmini menggoda Gama.
"Apa begitu terlihat ?" tanya Gama tersenyum malu.
"Sangat terlihat, berbeda dari kemarin-kemarin" jawab Nenek Rukmini.
"Apa Nenek mau ikut ? Nanti Gama jemput saat jam istirahat kantor" ucap Gama.
"Nenek tidak bisa. Kamu saja, nenek sudah terlalu tua untuk sering keluar. Jangan lupa janjimu padanya" ucap Nenek Rukmini, tak lupa ia mengingatkan cucunya agar menepati janjinya pada Zayyan.
"Ah, Gama hampir saja lupa. Untung Nenek mengingatkan Gama" balas Gama sambil menepuk jidatnya.
Pembicaraan Gama dan Nenek Rukmini tentunya didengar oleh Ayah Budianto dan Bunda Maryam. Mereka penasaran sebenarnya apa yang Gama bicarakan bersama sang Ibu.
"Ya sudah, kamu sarapan dulu setelah itu berangkat kerja !"
Gama mengangguk mendengar perintah sang Nenek. Pria itu sarapan dengan lahap membuat Nenek Rukmini tersenyum. Sementara kedua orang tua Gama hanya bisa tercengang, ini pertama kalinya Gama ikut makan di rumah ini setelah hubungan mereka renggang.
Selesai sarapan Gama langsung pamit dengan sang Nenek. Pria itu melajukan mobilnya menuju perusahan milik sang Ayah. Setibanya Gama di kantor, ia disambut hangat oleh para karyawannya. Gama yang sedang bahagia membalas sapaan setiap orang yang menyapanya.
Perubahan Gama tentu membuat pada staff tercengang. Ini tidak seperti biasanya, Gama ketika disapa hanya tersenyum tipis. Tapi kali ini Gama membalas sapaan mereka.
Sekertaris Gama juga ikut merasa aneh dengan atasannya. Wajah datar yang selalu terpampang kini hilang entah kemana.
"Ibu Indah, tolong pesankan saya mainan anak-anak yang banyak. Cari yang mahal dan mewah, jika perlu yang limited edition ! Saya ingin main itu datang sebelum makan siang !" perintahnya saat mereka baru saja masuk ke ruangan milik Gama.
"Ya ?" tanya Ibu Indah bingung.
"Ibu tidak mendengar perintah saya ?" tanya Gama.
"Ah tidak... Ehmm maksud saya dengar Pak" jawab Ibu Indah.
Ibu Indah merupakan sekertaris Ayah Budianto, umurnya sudah menginjak 38 tahun. Gama senagaja memakai sekertaris sang Ayana karena tidak ingin mencari sekertaris baru. Kinerja Ibu Indah juga sangat bagus jadi tidak ada alasan untuk mencari penggantinya.
"Kalau begitu kerjakan sekarang !" perintah Gama.
"Baik Pak, tapi pukul sembilan nanti kita ada pertemuan dengan Ibu Shintia dan Tuan Nugroho" jelas sang sekertaris.
"Batalkan saja ! Suruh mereka langsung bertemu dengan Ayahku !" pinta Gama.
"Tapi Pak-"
"Jangan membantah ! Kerja sama ini bukan saya yang menyetujui, jadi suruh saja mereka bertemu dengan orang yang bersangkutan !" potong Gama.
"Ba-baik Pak" jawab Ibu indah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo sayang²ku 😘 sambil nungguin Novel ini Up, ini Sa kasih rekomendasi novel bagus untuk kalian 🤗 jangan lupa mampir ya 🤩
Author : SyaSyi
Judul : Wanita Pengganti Kekasih Sang CEO