Young Mommy

Young Mommy
2°Flasback



"Nindy! Jangan ganggu Nayla dulu! " Dari arah pintu Arkan berteriak pada Nindy


"Kalian kenapa sih? kok berubah sama aku? " Ucap Nindy curiga.


"Biarin dulu Nayla nya tenang" Ucap Arkan sambil menarik lengan Nindy menuju kantin.


"Mau makan apa? " Tanya Arkan


"Mienas aja. Minumnya milkshake stoberi" Balas Nindy. Arkan memesan makanan Nindy lalu kembali diam.


"Sayang kamu kenapa sih? Kok kamu diemin aku terus? Aku ada salah ya sama kamu? " Manja Nindy


"Nggak kenapa napa. Kamu tadi malam dimana? " Tanya Arkan. Nindy diam sebentar


"Di kosan. Emangnya kenapa? " Arkan menggeleng kan kepalanya.


'berarti yang semalem sama gue bukan Nindy. sukur deh kalo gitu' batin Arkan


"Kok kamu cuek sama aku? " Tanya Nindy


"Berisik! Aku lagi pusing nih. Nggak usah banyak omong deh. Bikin kepala aku mau meledak" Bentak Arkan.


Nindy hanya bisa diam.


pulang sekolah


Dengan wajah yang ceria Nindy menghampiri kelas Arkan. Di tengah perjalanan Nindy mendengar sepasang suara dari lorong yang gelap.


"Jiwa kepo ku tiba tiba berkobar" Nindy mendekati lorong dan mulai mendengar kan apa yang di ributkan sepasang kekasih itu.


"Aku nggak tahan ngeliat sama panggil sayang sayang dan mesra mesraan sama Nindy. Kamu harusnya ngerti dong. Arkan, aku ini lagi hamil anak kamu sekarang jadi kamu harus ada buat aku 24 jam" Nindy terkejut mendengar suara Nayla yang menyebut nama Arkan


"Iya nay, aku tau kamu hamil anak aku. Tapi masih ada Nindy yang belum bisa aku lepasin, aku sayang sama Nindy nay. Please, ngertiin aku" Ucap Arkan


Nindy mengelap dengan kasar pipinya yang sudah penuh dengan air mata.


"Jadi Arkan selingkuh trus ngehamilin Nayla. Hebat ya dia, aku aja yang **** nggak tau kalo lagi di duain" Nindy berlari sekencang kencangnya ke arah luar gerbang lalu menaiki angkutan umum menuju ke kosannya.


Ia menangis sejadi-jadinya di bawah guyuran shower. Ia meluapkan semua yang yang menjadi beban di pikirannya. katika sudah merasa puas ia baru keluar mencari makan masih dengan mata yang sembab.


"Kenapa harus Nayla yang jadi selingkuh nya Arkan. Kenapa? Kenapa bukan orang lain, aku butuh salah satu diantara mereka sekarang" Air matanya keluar lagi membanjiri mukanyaa


"Bang hiks. Nasi goreng dua porsi" Sambil menangis Nindy memesan dua porsi nasi goreng, satu porsi ketoprak, dan tiga porsi mie ayam.


"Neng kenapa nangis? Diputusin pacarnya ya? " Tanya abang nasi goreng.


"Pacar saya selingkuh bang" Curhat nya.


"Semua ini neng yang makan sendiri? " Tanya akang mie ayam


"Iya kang. mang, bang, akang. Saya pamit dulu ya, makasih " Pamit Nindy.


"iya neng hati hati" Ucap mang ketoprak


"Emang ya. Kalo cewek lagi patah hati semua makanan di embat" Ucap akang mie ayang


pagi


paginya Nindy sudah bertekat untuk menjauhi Arkan dan Nayla. Buktinya ketika Arkan lewat Nindy yang biasanya langsung bergelayutan manja kini santai santai aja walau hatinya masih perih. Seminggu sudah Nindy melihat pemandangan yang membuat matanya sakit. Melihat Arkan berjalan berdampingan dengan Nayla, melihat Arkan menyuapi Nayla . Huh muak ia melihatnya.


"Nindy, lo nggak marah liat Arkan menyuapin Nayla? " Tanya Zahra pada Nindy.


"Biasa aja" Balas Nindy


"Kok bisa? Biasanya lo bucin banget sama Arkan . Dan sekarang lo biarin dia sama Nayla yang nota bel nya sahabat lo sendiri? " Nindy mengangguk angguk santai lalu melanjutkan makannya.


"Jadi ceritanya lo di tikung nih? " Canda Zahra.


"Iya. Kalo gue nggak ngalah nanti anaknya Nayla mau di kemanain" Ujar Nindy santai yang membuat Zahra terbatuk batuk.


*uhuk


uhuk*


"Demi apa lo? Sumpah? Gue nggak salah denger? Jadi Nayla ham-hmppp" Nindy membekap mulut Zahra dengan tangannya yang habis ia pakai untuk mengelap keringat.


"Kecut baunya Nin, abis lo pake buat apa tu tangan? " Tanya Zahra


"lap keringat" Balas Nindy. Dengan cepat Zahra membersihkan mulutnya menggunakan ujung lengan seragamnya.


"Tapi lo jangan kasih tau siapa siapa soal yang gue bilang tadi, gue juga baru tau minggu kemarin . Dan setelah gue selidiki Nayla baru bunting 1 bulan" Ucap Nindy sambil berbisik di telinga Zahra.


"Iya tenang aja. Kita kan udah temenan dari orok, lo aja yang lebih deket ke Nayla" Judes Zahra.


"Iya maap. Lo ngedeketin gue juga nggak ada masalah sama gue. Lu kan sepupu gue" Nindy memutar bola mata nya malas.


Satu bulan sudah Nindy tak ada berhubungan sama sekali pada Arkan juga Nayla, ia lebih memilih bersama dengan Zahra sepupunya.


kriiiiiinggg


"Huooom. Selamat pagi dun-huek huek" Nindy berlari kekamar mandi dan memuntahkan isi perutnya ke wastafel. Tak ada makanan yang keluar, hanya air liur.


"Pasti gue masuk angin gara gara tadi malem nongkrong di warung deket rumah Zahra" Gumam nya.


huek huek huek


Nindy kembali memuntahkan isi perut nya yang hanya berisi air.


tok tok tok


Nindy keuar kamar mandi dengan wajah lesu lalu membuka pintu.


"Assalamu'alaikum. Loh Nin? Lo kenapa? Kok bisa pucet gini? Lo sakit? " Tanya Zahra


"Gue nggak apa apa. Mungkin tadi malem pulangnya kemaleman. Jadi masuk angin sedikit" Balas Nindy


"Yaudah cepetan siap siap kita hari ini upacara"


"Iya sabar"


Upacara


Panas matahari membuat Nindy menjadi lemas, ia merasa kurang enak badan hari ini.


"Si bapak masih lama nggak sih ceramahnya? Gue pusing nih" Ucap Nindy pada anggota PMR


"Sabar kak. Paling sebentar lagi selesai" Balas adik kelas nya itu.


Pusing di kepala Nindy semakin menjadi . Ia merasa semua seakan berputar dan kesadaran nya pun hilang.


"NINDY?! YaAllah, cepet bawa dia ke UKS" Heboh Zahra


Di UKS


Bau aroma terapi membangunkan Nindy dari pingsannya.


"Gue pusing, Ra" Ucap Nindy pada Zahra yang menggosok perut Nindy menggunakan minyak kayu putih.


"Lo izin aja ya Nin. Gue takut lo kenapa kenapa" Nindy mengangguk mengiya kan ucapan Zahra. Toh, mau dilanjutkan juga ia sudah tak kuat.


"Tunggu sini, gue mau ambil tas sama surat izin lo dulu" Ucap Zahra.


15 menit kemudian


"Nih, tas lo. Mau gue anterin nggak ke depan? Mau pulang pake taksi online aja ya Nin" Nindy hanya mengangguk anggukkan kepalanya.


"Udah sampe sini aja. Lo belajar aja lagi, gue pulang pake mobil gue aja masih mampu kok" Ucap Nindy


"Tapi Nin" Nindy menahan ucapan Zahra dengan anggukkan


"Oke gue izinin. Tapi hati hati ya di jalan. Ayolah Nin, nurut sama gue, gue nggak mau tante Nita marah sama gue. Gue juga nggak mau lo kenapa kenapa di jalan" Mohon Zahra


"Mama gue nggak bakal marah kok sama lo. Dia bahkan cuma sibuk sama kerjaannya aja . Papa gue aja nggak di urusin, apa lagi gue" Zahra menatap iba Nindy.


"Yaudah, hati hati ya Nin. Nyawa lo di tangan lo sendiri " Pesan Zahra yang diangguki Nindy.


Di perjalanan Nindy melihat ada pedagang yang menjual rujak. Nindy turun dari mobilnya lalu membeli rujak 2 porsi.


"Bang, rujak 2 porsi. Banyakin mangga muda sama kedondong nya ya" Pesan Nindy. setelah apa yang dia mau berada di tangannya Nindy memasuki mobil dan makan rujak di dalam mobil.


Di tengah tengah makannya Nindy mengingat sebuah kejanggalan di dalam tubuhnya.


"Harusnya minggu lalu gue dateng bulan, tadi pagi gue muntah tapi yang keluar cuma air, terus pala gue pusing dan pingsan, sekarang gue pengen rujak yang asem lagi. Sebagai anak yang pintar pasti gue tau dong ini tanda orang apa" Nindy memutar otaknya mengingat semua yang ia pelajari di pelajaran IPA.


"Nggak mungkin, gue masih kelas 2 SMA coy. Oke sekarang kita kedokter" Putus Nindy